Agresivitas Bukitnusa Indahperkasa Kembangkan Permata Mutiara Maja

Daniel Chandra, Direktur PT Bukitnusa Indahperkasa (Paling Kanan) dan Cornelius Widjaja, Direktur PT Bukitnusa Indahperkasa dan (Kedua Kanan) disela-sela peluncuran di Perumahan Permata Mutiara Maja

Ditetapkannya Perpres No 2 Tahun 2015, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 membawa angin segar bagi kota Maja. Pasalnya Kawasan Maja akan menjadi sebuah Kota Baru Publik.

Peluang ini dilirik PT Bukitnusa Indahperkasa (BNIP) untuk membangun perumahan Permata Mutiara Maja sejak akhir 2015. Dari total lahan 200 hektar, saat ini sudah terbangun 50 hektar. Saat ini jumlah rumah yang sudah terjual sebanyak 2000 unit dan terbangun sebanyak 1.200 unit dan 35% sudah dihuni. "Diproyeksikan pengembangan perumahan Permata Mutiara Maja akan selesai dalam waktur 5-6 tahun ke depan," kata Daniel Chandra, Direktur PT BNIP.

Menurut Cornelius Widjaja, Direktur PT BNIP, selain membangun Rumah Sederhana Sehat (RSH) bersubsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang bisa dibeli dengan menggunakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Permata Mutiara Maja juga membangun Rumah Sederhana (RS) Plus – Komersil yakni di cluster Ruby yang baru di launching.

Cluster Ruby merupakan cluster ke 6 yang dibangun di perumahan Permata Mutiara Maja di atas lahan seluas 6 hektar dan akan berisi sekitar 450 unit rumah. Ada dua tipe rumah dengan 2 kamar yang ditawarkan, yakni tipe Lavender (27/60, 27/72), dan tipe Magnolia (36/60, 36/72) yang dipasarkan seharga mulai dari Rp 189 juta hingga Rp 246 juta.

Pengembang menyediakan beragam cara pembayaran untuk memudahkan masyarakat memiliki rumah di cluster Ruby, antara lain, tunai keras, tunai bertahap, dan menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Diakui Cornelius, cluster Ruby berbeda dengan cluster-cluster sebelumnya karena mempunyai konsep yang lebih baik dari biasanya. Rumah di cluster Ruby tergolong Rumah Sederhana (RS) Plus yang mempunyai elemen real estate yang bergengsi. "Cluster Ruby dipasarkan dengan harga mulai dari Rp189 juta – Rp246 juta," katanya.

Daniel menambahkan untuk rumah bersubsidi RSH – FLPP dipasarkan tipe 22/60 dengan harga yang ditetapkan pemerintah tahun 2018 yakni Rp130 juta. Sementara RSH – Komersil dipasarkan tipe 22/60, 27/60, 30/60, 36/90, 27/72, 30/72, 36/95, harganya mulai dari Rp 160 juta-Rp 267 juta. Selain itu, BNIP juga memasarkan Ruko seharga Rp 245 juta-Rp 295 juta.

Diakui Daniel diminatinya rumah bersubsidi di Permata Mutiara Maja karena memiliki kualitas yang bagus, antara lain memakai rangka atap baja ringan, genteng beton, kusen & jendela alumunium, daun pintu engineering wood meranti, dan dinding kamar mandi keramik & cat.

Target marketnya, adalah pengguna KRL dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Berasal dari Tanggerang, Serpong, Bintaro dan karyawan yang kantornya di dalam radius 5 km dari setiap stasiun KRL. Umumnya, lebih banyak pasangan muda yg membeli.

"Tahun ini kami menargetkan dapat meraih penjualan sebanyak 1.000 unit rumah subsidi dan 450 unit komersil. Target penjualan 2019, 30% lebih tinggi dari tahun 2018," kata Cornelius.

Pihaknya optimis target tersebut akan tercapai, mengingat minat masyarakat terhadap pasar rumah sederhana di kawasan Maja sangat tinggi. Apalagi proyek yang dikembangkan BNIP dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti taman, sarana olah raga, tempat ibadah, fasilitas pendidikan dan Dapoer Maja yakni tempat nongkrong jajanan daerah dengan free Wifi + nonton bareng.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)