Farah Angsana: Designer Tidak Perlu ke Dunia Internasional
Prospek fashion di Indnesia sangatlah besar karena masyarakat mulai peduli tentang cara berpakaian yang menarik dan menggambarkan karakteristik individu. Meskipun melebarkan sayap merupakan insting pribadi setiap pengusaha, fashion designer tidak perlu berambisi bermain di ranah internasional.
Pernyataan tersebut diungkapkan pengamat fashion dan gaya hidup, Farah Angsana. Menurutnya, agar Indonesia bisa menjadi pasar fashion yang besar, perancang membutuhkan waktu dan tempat yang tepat. Saat ini, banyak perancang busana Eropa yang masih berjuang dan tidak pernah menjadi ‘pemain utama’, meskipun berada di negara yang menjadi kiblat tren busana itu. “Perancang busana tidak perlu menjadi besar atau terlalu dikenal secara internasional. Yang paling penting dalam industri ini, mereka bisa menghasilkan profit. Industri fashion adalah bisnis yang sangat mahal untuk dijalankan. Karenanya, mereka harus bekerja dengan otak dan kerja keras, bukan dengan ego.”
Farah juga mengatakan bahwa kehadiran sekolah fashion bertaraf internasional sangat bagus. Menurutnya, pemilik sekolah fashion itu harus mencoba untuk membuka cabang di beberapa provinsi karena tidak semua orang sanggup akan biaya hidup Jakarta yang tinggi. Karena itu, dengan memperluas jaringan, beberapa calon designer di provinsi lain bisa memperoleh edukasi fashion dengan baik. “Ini waktu yang tepat bagi Indonesia untuk membangun bisnis fashion karena ekonomi sedang tumbuh stabil dan masyarakat sedang optimis terhadap industri ini. Sudah banyak perancang muda dan bermasa depan cerah.” Farah mengambil contoh kesuksesan fashion di Indonesia adalah popularitas batik yang meningkat pesat.
Farah yakin Indonesia bisa menjadi salah satu barometer fashion di Asia bahkan di dunia. Namun semua itu harus disertai dengan kerja keras dan pola pikir positif. “Saya melihat beberapa merek lokal sudah mulai mengikuti Hongkong Fashion Week dan itu awal yang bagus,” katanya. Selain itu, bisnis fashion Indonesia harus ditunjang dengan strategi bisnis yang baik dan tim m yang solid.
Farah melihat Bagteria, produk tas merek lokal yang sudah ada di Milan dan Paris, memiliki standar kualitas ekspor dan desain yang menarik. “Sangat tidak biasa dan sulit untuk bisa diterima di internasional. Saya sangat bangga bahwa ternyata produk itu dari Indonesia,”katanya.
Dia juga menyebut fashion desainer muda yaitu Kle dari Kleting Titis Wigati. Setelah menyelesaikan studinya di Fashion School Marangoni, Milan, Italia, Kle berhasil menciptakan koleksi yang solid dan kohesif. “Saya melihat Kle beberapa waktu lalu saat dia baru mulai masuk ke dunia fashion. Saya merasa ada peluang sangat besar untuk Kle naik ke pasar internasional karena dia telah bekerja dengan beberapa merek internasional dan mengerti bagaimana menciptakan koleksi yang sangat baik.” (Acha)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.