Ambisi DBS Terjun ke Consumer Banking
Setelah merasa cukup kuat di sektor corporate banking, DBS mulai ancang-ancang ngebut di jalur pembiayaan konsumen. Beberapa jenis pembiayaan yang tengah dan akan digenjot antara lain kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan mobil (KPM) dan kartu kredit. Menurut Budiman Tanjung, Kepala Consumer Banking DBS Indonesia, produk apa yang selanjutnya bakal dikembangkan, tergantung hasil analisis pasar yang bakal segera dilakukan.
Budiman yang kelahiran Surabaya 15 Maret 1972 ini menjelaskan, alasan pihaknya baru sekarang menggencarkan layanan consumer banking tak lain — seperti kebanyakan bank lain — karena awalnya bank ini lebih fokus ke segmen corporate banking yang menjadi pilar utamanya. Karena bermain di korporat, wajarlah, promosi tak terlalu gencar. Baru setelah merasa cengkeramannya di pasar corporate banking kuat, DBS memutuskan masuk ke consumer banking.
Layanan consumer banking yang pertama dipilih dan sudah direalisasi DBS memang lebih menyasar kelas atas lewat layanan yang diberi nama Treasures Priority Banking. Untuk membuat produk Treasures Priority Banking, DBS menjalin kerja sama dengan berbagai mitra seperti fund manager (Bahana, Schroder, dan ABN Amro), serta perusahaan asuransi (AIG dan Manulife). Budiman mengklaim basis nasabah layanan jenis ini di DBS sudah cukup besar, mencapai sekitar 2 ribu orang. Padahal untuk menjadi nasabah layanan ini syaratnya punya tabungan minimal Rp 500 juta atau US$ 50 ribu. Budiman yang lulusan Anderson Secondary School, Singapura ini juga mengungkapkan, sekitar 90% nasabahnya orang lokal.
Ada beberapa strategi yang dilakukan DBS untuk menggarap consumer banking kelas atas ini. Antara lain: merancang produk berkualitas, mengembangkan SDM, dan mempromosikan produk. “Sambil jalan, kami juga terus membangun cabang dan customer base,” ujar Budiman. Selain itu, DBS juga segera akan bergabung dengan jaringan ATM Bersama.
Keseriusan DBS menggarap pasar consumer banking juga terlihat dalam upayanya membangun brand awareness melalui promosi. “Nama DBS belum terkenal di Indonesia, sehingga pelan-pelan kami harus membangunnya melalui berbagai upaya promosi,” Budiman jujur mengakui. Aktivitas dan media promosi seperti iklan, media luar ruang, dan eksebisi pun dilakukan. Dari sisi penambahan jaringan, tahun ini DBS Indonesia menargetkan membuka beberapa cabang Treasures Centre, yaitu di Kelapa Gading, Muara Karang, Tomang dan Bandung. “Treasures Centre ini mengambil lokasi dekat perumahan kelas menengah-atas,” ujar Budiman.
Tahun ini, DBS menargetkan perolehan dana pihak ketiga Rp 2,5 triliun (hingga akhir tahun lalu baru mencapai Rp 1 triliun) dengan sekitar 3 ribu nasabah. Salah satu upaya penting untuk merealisasi target itu ialah dengan ekspansi ke layanan consumer finance seperti KPR, KPM, dan kartu kredit — seperti halnya sudah dilakukan BCA dan Bank Mandiri.
Menanggapi masuknya DBS ke segmen consumer banking khususnya melalui layanan wealth management, pengamat produk perbankan Asto Sunu Subroto menilai, peluang sukses tetap ada, walaupun berat. “Sebab, persaingan di consumer banking sudah sangat ketat,” katanya. Memang, kenyataannya hampir semua bank — baik bank asing maupun bank lokal — sudah bermain di sektor ini dengan segmentasi masing masing. Contohnya, Citibank dan ANZ Panin menyasar kelas menengah-atas, sedangkan Bank Mandiri menyasar kelas atas sampai bawah. Demikian pula dengan layanan wealth management, hampir semua bank besar sudah memilikinya.
Kalau DBS mengklaim punya kelebihan karena menonjolkan kesan Asianya, menurut Asto, bank-bank di sini “lebih Asia”. Menurutnya, bila DBS ingin sukses di consumer banking, mesti punya diferensiasi yang jelas dan mau berinvestasi dalam hal “nilai”. Terutama, lanjut Asto, di bidang layanan, karena dari sisi produk semua bank hampir sama: sudah generik. “Dalam dua tahun ini harus investasi lebih dulu, jangan berharap apa-apa,” sarannya. Asto juga menyarankan agar DBS bermain di pasar ceruk (niche market), misalnya dengan menyasar komunitas-komunitas yang selama ini belum digarap bank lain. “DBS juga harus menguatkan infrastukturnya yang mencakup sistem, SDM dan jaringan.” ujarnya.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.