Trends

Strategi Mendongkrak Industri Fashion di Tanah Air

Strategi Mendongkrak Industri Fashion di Tanah Air
Mira Hoeng CEO/ Founder of MIWA, MYL, MIYA Pattern Artist & Creativepreneur (Foto: Dok Mira Hoeng)

Indonesia kini menjadi target utama para pelaku industri fashion internasional. Dengan populasi besar, setelah China, India, dan Amerika Serikat, Indonesia menjadi pasar yang sangat menarik bagi pemain fashion mancanegara. Menurut Syahmedi Dean, pengamat mode, jumlah penduduk Jakarta tahun ini diperkirakan mencapai 11,44 juta jiwa. Pertumbuhan ini mencerminkan status Jakarta sebagai pusat ekonomi, budaya, dan politik Indonesia.

Menurut Dean, jika satu brand menargetkan hanya 0,001 persen penduduk Jakarta sebagai pembelinya, potensinya sangat tinggi. Kita harus optimistis bahwa ada pasar yang besar di Jakarta. “Jangan terpengaruh dengan kampanye brand dari luar yang membuat jadi agak minder. Jadi, sebanyak apa pun brand luar yang masuk, tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan fesyen segitu banyak orang. Jadi, kita masih terbuka untuk berbisnis," kata Dean di sela-sela JF3 Talk di Teras Lakon, Summarecon Serpong.

Industri fashion Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak brand yang bertahan dan baru bermunculan setiap tahun. Namun, persaingan ketat menyebabkan beberapa brand harus keluar dari pasar.

Thresia Mareta, Founder of LAKON Indonesia dan Pendiri Pintu Incubator, mengakui bahwa industri fashion Indonesia masih tertinggal, jalan di tempat. Dia pun menginisiasi Pintu Incubator untuk menghubungkan ekosistem fashion Indonesia dengan industri fashion di Paris.

“Saya ingin membandingkan, apa yang dilakukan di sini, dengan apa yang mereka lakukan di sana. Dan, faktanya masih sangat jauh. Saya melihat bagaimana mereka bekerja dengan standar yang diakui secara internasional. Namun, bukan berarti kita tidak bisa. Artinya kita perlu melakukan sesuatu," ujar Thresia.

Theresia menyoroti tidak berkembang fashion lokal disebabkan oleh sistem yang belum terkoneksi. Selain itu masih banyak produk yang dikembangkan kualitasnya di bawah standar internasional.

Agar industri fashion Indonesia dapat berkembang, diperlukan sistem yang jelas, regulasi yang mendukung, serta dukungan pemerintah. Selain itu, industri fashion harus memiliki blue print yang memungkinkan kolaborasi antara produsen kain, tukang jahit, dan fashion designer.

Mira Hoeng CEO/ Founder of MIWA, MYL, MIYA Pattern Artist & Creativepreneur, menegaskan untuk bisa berkembang di industri fashion, mental para disainer memegang peranan penting. Karena banyak yang pintar jadi desainer, tapi tidak tahan dari sisi bisnis. “Setelah berhasil menggambar langkah selanjutnya bagaimana mewujudkan hasil tersebut menjadi duit. Di sini banyak desainer yang gagal,” kata Mira.

Selain itu, diakui Mira inovasi produk sangat penting. Seorang desainer harus bisa membuat produknya unik atau berbeda dengan pesaingnya. Sebab kalau produknya sama akan mudah tergantikan. Dan, marketing memegang peranan penting, karena banyak desainer yang tidak tahu marketing. “Sebagus-bagusnya karya desainer, kalau tidak bisa marketing akan mati,” tegas Mira.

Fashion designer Hartono Gan menambahkan untuk bisa bertahan di industri fashion, seorang desainer harus bisa memperbaiki produk dengan melakukan berbagai inovasi pada waktu yang tepat, konsisten dan bertahan, karena banyak yang gagal tidak memiliki konsisten dan ketahanan.

Diakui Hartono, saat ini seorang desainer bukan jual baju, tapi harus menjual dirinya sendiri misalnya dimulai pasar dari lingkungan kecil diri sendiri, seperti multilevel marketing. “Jadi tips agar fashion lokal bisa berkembang, harus perbaiki produk, menjalin networking untuk memasarkan diri sendiri (marketing yourself) dan jangan berhenti berinovasi,” ujar Hartono. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved