Trends

Metodologi Jatuh Cinta

Assoc. Prof. Rio Christiawan, S.H., M.Hum., M.Kn.

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis sebagai dosen metodologi penelitian dan penulis buku metodologi penelitian. Persoalan yang sering kali menjadi ‘bread and butter’ adalah jatuh cinta dengan berbagai tingkatan mulai dari sekadar crush, situationship, hingga bentuk-bentuk yang lebih rumit. Terlepas dari semua itu, dalam jatuh cinta, kondisi yang paling menyakitkan adalah penolakan. Oleh karena itu, kolom ini akan membahas metodologi pengambilan keputusan dalam mengolah perasaan jatuh cinta untuk mengeliminasi kemungkinan penolakan.

Perasaan jatuh cinta atau ketertarikan pada lawan jenis dapat dimulai dari salah satu pihak atau kedua belah pihak secara bersama-sama. Dalam konteks metodologi pengambilan keputusan pada situasi 'jatuh cinta', faktor yang perlu dipertimbangkan terbagi menjadi dua: faktor terukur dan faktor tidak terukur. Kedua faktor ini bekerja secara kumulatif dan harus terpenuhi keduanya untuk mencapai kesimpulan apakah perasaan jatuh cinta tersebut berbalas atau tidak (penolakan).

Faktor-faktor ini bisa berproses secara berurutan (subsequent events) atau bersamaan. Sama seperti dalam penelitian, yang terpenting adalah mencari jawaban atas permasalahan, yaitu apakah perasaan jatuh cinta tersebut berbalas?

Proses ini dimulai dari adanya ketertarikan (interest) yang umumnya dimulai dari salah satu pihak dan mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi jika perasaan tersebut dilanjutkan.

Apakah penolakan atau penerimaan dapat diukur secara metodologis?

Jawabannya adalah bisa, meskipun mungkin terjadi anomali atau terdapat perbedaan ukuran pasti antara tiap orang yang jatuh cinta dan tiap orang yang memutuskan untuk memberi penerimaan (confirmation) atau penolakan (rejection). Dengan pemahaman metodologis yang tepat, diharapkan dapat mengurangi kemungkinan penolakan dan meningkatkan peluang perasaan jatuh cinta tersebut berbalas.

Mari kita bahas...

Faktor Terukur

Disebut faktor terukur karena kemungkinan terjadinya anomali pada setiap orang sangat kecil. Berdasarkan literatur yang ada, komponen faktor terukur ini secara garis besar dibagi menjadi tiga.

1. Tingkat Kestabilan Ekonomi (Wealth)

Tingkat kestabilan ekonomi menjadi penting karena efek kelangkaan (scarcity effect). Biaya hidup semakin mahal dari tahun ke tahun, sementara jumlah populasi yang terus bertambah terdiri dari penduduk dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dan di bawahnya (poor rate). Dalam konteks jatuh cinta, kestabilan ekonomi bukanlah faktor tunggal yang menentukan akhir dari perasaan tersebut.

Penerimaan atau penolakan atas perasaan jatuh cinta sering kali dipengaruhi oleh kestabilan ekonomi. Banyak perceraian atau ketidakcocokan dalam hubungan dimulai dari faktor ekonomi dan gaya hidup. Faktor ini dianggap terpenuhi jika kedua pihak yang terlibat memiliki gaya hidup yang sama atau dapat meningkatkan satu sama lain. Dalam bahasa kekinian, mereka yang menjajaki perasaan jatuh cinta tersebut perlu berada pada frekuensi yang sama, sering disebut memiliki kehidupan yang relatable atau vibing satu sama lain.

2. Penampilan

Faktor terukur berikutnya adalah penampilan, yang merujuk pada kondisi representable. Kondisi ini didorong oleh perkembangan zaman yang sangat dipengaruhi oleh media sosial dan kamera digital. Penampilan representable bukan hanya tentang tipe fisik tertentu tetapi lebih pada cara berpakaian yang baik (well-dressed) yang tidak berlebihan (overdressed) dan tidak kekurangan (underdressed).

Kondisi ini tidak berkaitan dengan merek pakaian, tetapi lebih pada pemilihan fashion atau pakaian yang tepat sesuai acara, ukuran yang tepat, serta perpaduan warna dan aksesoris yang sesuai. Misalnya, pada acara meeting formal menggunakan setelan jas, sedangkan pada acara yang lebih santai bisa menggunakan outfit yang lebih playful dan kekinian. Pemilihan outfit yang tepat akan menentukan ambience yang baik dan mendorong terkonfirmasinya perasaan jatuh cinta tersebut.

3. Pendidikan

Faktor ketiga adalah pendidikan, yang merujuk pada hasil dari pendidikan tersebut, seperti ijazah, nilai atau Indeks Prestasi (IP). Pendidikan berkorelasi dengan status sosial, sehingga faktor ini turut menentukan status 'boyfriend material'. Pendidikan juga menentukan koneksitas status sosial dan lingkungan (social circle) serta koneksitas intelektual dari pihak yang jatuh cinta. Jika terdapat kesenjangan yang berlebihan, akan muncul kondisi 'tidak nyambung'.

Faktor Tidak Terukur

Faktor berikutnya yang sangat menentukan adalah faktor tidak terukur, yang seringkali disebut melahirkan 'butterflies'. Faktor ini secara kumulatif disebut sebagai chemistry, yang merupakan akumulasi dari kumpulan sifat dan sikap serta kecocokannya satu sama lain.

Perbedaan tingkat chemistry antara setiap orang sangat tinggi. Secara sederhana, jika semua faktor terukur sudah terpenuhi namun tetap terjadi penolakan, maka penyebabnya adalah chemistry. Chemistry tidak dapat dipaksakan karena setiap orang memiliki sifat dan sikap yang berbeda, sehingga berdampak pada penerimaannya terhadap orang lain.

Namun, meskipun chemistry tidak bisa dipaksakan, terciptanya 'butterflies' bisa dioptimalkan melalui observasi yang cermat (due diligence) serta dukungan data primer dan sekunder yang akurat dengan analisa kualitatif dan kuantitatif. Kecerobohan dalam bertindak akan berdampak buruk pada hasil akhir dari perasaan jatuh cinta tersebut. Sebaliknya, observasi yang cermat dan data yang akurat akan menghasilkan aksi-reaksi yang lebih tepat, yang akan berkorelasi positif terhadap hasil dari perasaan jatuh cinta tersebut.

Rapid Test

Faktor-faktor yang telah dibahas di atas dapat dijadikan pedoman cepat (rapid) untuk menilai hasil dari perasaan jatuh cinta yang diwujudkan melalui penjajakan antara para pihak yang terlibat. Proses jatuh cinta akan berakhir positif jika seluruh faktor, baik yang terukur maupun tidak terukur, terpenuhi.

Sebaliknya, jika baik faktor terukur maupun tidak terukur tidak terpenuhi atau sebagian besar tidak terpenuhi, maka proses jatuh cinta kemungkinan besar tidak akan berakhir positif. Jika hanya beberapa faktor terpenuhi, maka perlu dipertimbangkan lebih lanjut untuk menentukan apakah hubungan tersebut memiliki potensi untuk berkembang dengan baik.

Penulis: Assoc. Prof. Rio Christiawan, S.H., M.Hum., M.Kn (Associate Professor, Pengajar Metodologi Penelitian dan Kolomnis)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved