Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Soroti Prioritas Danantara: Pastikan Tidak Keranjang Serba Ada
Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) menyampaikan diskusi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terkait prioritas pendanaan lembaga pengelola kekayaan negara (SWF) tersebut.
Salah satunya, terkait pembiayaan Danantara. Perwakilan AEI, Jahen F. Rezki memaparkan bahwa para ekonom menyoroti tumpang-tindih peran Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF), lembaga pembiayaan pembangunan, entitas berorientasi profit, hingga penyedia dana proyek pemerintah. Hal ini berpeluang menimbulkan risiko bagi pengelolaan aset negara.
“Kita perlu memastikan bahwa Danantara tidak menjadi keranjang serba-ada yang justru membingungkan arah kebijakan. Apakah akan berperan menjadi investor pada teknologi strategis, misalnya?” jelas Jahen dalam keterangan resmi yang diterima SWA.co.id pada Selasa (18/11/2025).
Dibandingkan dengan sejumlah SWF di dunia, lembaga-lembaga tersebut umumnya dibentuk dalam kondisi negara yang surplus. Selain itu, sumber pendanaan para SWF jelas, termasuk struktur pembiayaannya. Namun, hal ini belum terlihat di Danantara.
“Muncul kekhawatiran bahwa ekspansi pembiayaan Danantara justru akan menimbulkan crowding-out terhadap sektor swasta, meningkatkan biaya modal, dan mengurangi ruang gerak investasi domestik,” ujar perwakilan AEI, Teuku Riefky dalam keterangan resmi tersebut.
Selain itu, AEI menyoroti potensi penerimaan negara yang hilang melalui dividen badan usaha milik negara (BUMN) tercatat dan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI), dialihkan ke Danantara. Hasilnya, ini membuat Danantara harus memastikan tata kelola pembiayaan yang transparan dan akuntabel.
Adapun, Danantara sebelumnya meraih pendanaan dari mancanegara. Total pendanaan yang diraih senilai US$7 miliar, berasal dari US$4 miliar dari Qatar, China Investment Corporation (CIC) senilai US$2 miliar, dan Russian Direct Investment Fund (RDIF) dengan nilai yang tidak diungkapkan.
Danantara juga diklaim telah menerima persetujuan pendanaan hingga US$10 miliar dari 12 bank asing. Namun, pinjaman ini diberikan tanpa jaminan apapun.
Danantara juga terlibat dalam sejumlah proyek pendanaan strategis, baik pemerintah maupun swasta. Misalnya, Danantara mengucurkan dana Rp20 triliun ke Badan Gizi Nasional (BGN) untuk pembiayaan para peternak ayam pedaging dan petelur ayam di program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kemudian, Danantara membuka peluang untuk injeksi dana pinjaman ke PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) senilai Rp8,28 triliun untuk modal kerja. Ini diklaim akan menjadi pendanaan demi restrukturisasi KRAS.
Danantara juga akan menyuntik dana melalui rencana penyertaan modal US$1,4 miliar kepada PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Dana ini digunakan untuk perawatan pesawat.
Di sisi swasta, Danantara beserta Indonesia Investment Authority (INA) menyuntik dana senilai US$800 juta untuk kebutuhan kapasitas produksi soda kaustik, klor alkali, serta etilen diklorida yang digarap PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).(*)