Produk Nekat: Flexi Combo dan Esia Go Go
Sesuai dengan regulasi, yakni Kepmenhub No. 35/2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas, setiap pelanggan layanan FWA (misalnya, pelanggan Flexi), hanya bisa menggunakan nomornya di kota atau area regional tertentu, alias tidak boleh digunakan di kota atau regional lain. Jadi, nomor telepon Flexi Jakarta otomatis hanya bisa dipakai di Jabotabek saja. Peraturan memaksa demikian sebagai bagian dari aturan main, agar tak bertabrakan dengan layanan operator seluler yang berbasis GSM.
Nah, Telkom Flexi menyiasati hal ini dengan produk barunya yang dinamai Flexi Combo, di mana pelanggannya di sebuah kota (regional) tertentu bisa tetap menggunakan nomor Flexinya di daerah lain, asalkan mendaftar lebih dulu. Pemain lain, Bakrie Telecom, pun tidak mau kalah, dengan mengeluarkan produk bernama Esia Go Go. Hampir sama dengan Flexi Combo, pemakai Esia Go Go juga dapat memakai nomor Esianya di kota lain dengan lebih dulu mengirimkan SMS ke 6060.
Tak ayal lagi, produk atau layanan baru dari Flexi dan Esia ini kemudian menuai protes, khususnya dari kalangan operator seluler. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pun menyemprit mereka. Kalangan operator GSM marah karena layanan Flexi ini jelas memakan kue mereka, layanan roaming seperti ini memang bagian dari keunggulan teknologi GSM. Muhammad Awaluddin, VP Pemasaran & Komunikasi Korporat PT Telkom mengklarifikasi, sebenarnya Telkom sudah meluncurkan produk Flexi Combo sejak akhir 2004. Hanya saja, pada 1 Agustus 2006 ia mengklaim Telkom melakukan penyempurnaan alias revisi produk.
Awaluddin mengakui pihaknya memperoleh teguran dari BRTI. Ia menyebutkan BRTI menginginkan agar begitu konsumen keluar dari satu kota tujuan dan kembali ke kota asal atau pergi ke kota lain, maka nomor Combo di kota yang bersangkutan harus langsung nonaktif. Toh, berdasarkan investigasi BRTI di lapangan, tidak demikian faktanya. Konsumen asal Jakarta misalnya, yang mempunyai nomor Combo Bandung, ternyata ketika sudah berada di Surabaya nomor Combo Bandungnya masih aktif. Untuk itulah BRTI pada 2 November 2006 dalam rapat plenonya meminta Telkom untuk melakukan penyempurnaan.
Menurut Awaluddin, sebenarnya itu hanya soal engineering. Mobile switching centre (MSC) kami memang sebelumnya hanya mempunyai software yang seperti itu. Karena untuk mendeaktivasi otomatis harus ada adjustment di MSC Telkom, ujarnya. Awaluddin menjelaskan, kasus ini bisa terjadi karena Telkom saat bertindak memandang dari sisi kepuasan pelanggan, sementara BRTI dari kacamata regulator. Akan tetapi, ia menjamin Telkom bertekad membereskan hal ini hingga selesai pada 8 November 2006.
Flexi Combo sendiri dinyatakan Awaluddin sebagai layanan tambahan bagi pelanggan Flexi yang mobile. Ia mengklaim konsumen cukup antusias dengan layanan ini. Pada H-3 sampai H+3 Lebaran lalu, sudah 500 ribu pelanggan yang mengaktifkan nomor Combo, ujar Awaluddin seraya tak menampik besarnya permintaan nomor ini hanya pada saat peak season seperti Idul Fitri. Ia sendiri memproyeksikan Flexi bisa berkontribusi sampai 10% dari pendapatan Telkom.
Bagaimana dengan Esia Go Go produk dari Bakrie Telecom? Rakhmat Junaidi, Direktur Layanan Korporat Bakrie Telecom, juga mengakui Esia Go Go sempat disentil BRTI. Kemarin kami mendapat surat dari BRTI untuk penyempurnaan agar sesuai dengan Kepmenhub 35/2004, ungkapnya. Kini pihaknya sedang mengusahakan agar bisa compliant dengan aturan yang ada. Esia Go Go sendiri diluncurkan dengan pertimbangan pasarnya memang ada meski tidak banyak. Fasilitas ini kan tambahan sekaligus paket Lebaran yang akan diteruskan selanjutnya karena pasarnya ada, kata Rakhmat.
Rakhmat tak membantah promosi Esia Go Go belum gencar, Namun hanya dengan sekali iklan di Kompas sudah cukup positif tanggapannya. Ini kami lempar di momen Lebaran, ujarnya. Dalam waktu dekat Rakhmat berjanji Esia akan menggencarkan promosi untuk layanan teranyar ini. Kami memproyeksikan Esia Go Go akan meningkatkan pendapatan kami sampai 10%, ia menambahkan.
Pengamat telekomunikasi Mohammad Hendrowiyono berpendapat, dalam menyikapi kasus Flexi Combo dan Esia Go Go harus dilihat dari dua sudut: teknologi dan regulasi. Secara teknologi Flexi Combo dan Esia Go Go hampir sama dengan GSM yang bisa dibawa keluar dari kota asal. Namun dari sudut regulasi Kepmenhub No. 35/2004 itu tidak dibolehkan, sebab layanan FWA hanya boleh berlaku lokal. Dulu pemikirannya FWA hanya bisa dioperasionalkan di satu base transceiver station dan di satu area, tapi kenyataannya nomor Flexi Jakarta masih bisa dibawa ke Bogor, paparnya. Nah, untuk menghindari pelanggaran regulasi, maka Flexi dibawa ke luar kota dengan nomor lain. Jadi peraturan itu memang banyak bolongnya. Karena itu, (mereka mengakali) kalau nomor yang sama tidak boleh ya ganti nomor saja kalau mau ke luar kota, ungkap Pemimpin Redaksi Majalah Sinyal itu.
Yang jadi masalah, setelah kembali ke kota asal, misalnya dari Bandung ke Jakarta, nomor temporer itu masih terus aktif jika pelanggan tidak meminta penghentian aktivasi. Nah, BRTI meminta supaya nomor temporer langsung mati begitu keluar dari kota tujuan. Namun ternyata sistemnya sendiri tak bisa langsung mendeaktivasi.
Hendrowiyono mengakui layanan ini memang sedikit mengancam pasar GSM. Namun ia mengingatkan, kalangan operator seluler GSM sesungguhnya tidak perlu panik, sebab dalam salah satu survei yang pernah dibacanya menyebutkan hanya 20% pemilik handset baik GSM maupun CDMA yang bepergian ke luar kota. Jadi sebetulnya tidak terlalu mengancam, katanya.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.