Terobosan IGR Menjaring Anggota Golf

Terobosan IGR Menjaring Anggota Golf

Lapangan golf milik IGR sendiri ada tiga, yakni: Palm Hill Golf & Country Club di Sentul, Jawa Barat; New Kuta Golf di Pecatu, Bali (PT New Kuta Golf and Ocean View); dan Black Rocks di Belitung (PT Belitung Golf & Resorts). “Tapi untuk yang di Sentul itu statusnya masih kami sewakan ke PT Palm Hill Resort dan akan berakhir masa kontraknya tahun 2008,” kata Suprapto Pegeng, Presdir IGR. Agar menarik, penataan lapangan golf itu ditangani oleh desainer internasional. Asal tahu saja, lapangan golf di Bali dan Belitung merupakan yang terpanjang di Indonesia (7.455 yard), dan sudah diteken kontrak untuk acara Indonesia Open 2008.

Untuk menjaga eksklusivitas, IGR sangat selektif dalam menjaring anggota. Caranya, melalui undangan khusus hasil referensi dari 50 anggota founder, sehingga tidak dijual bebas. Anggota founder adalah pilihan dari pihak IGR sendiri, dengan kriteria mereka harus aktif bermain golf, tapi tidak harus atlet. Tentunya, mereka juga mesti paham seluk-beluk golf. “Di luar itu semua, yang lebih penting adalah calon member harus mewakili komunitas tertentu. Misalnya, komunitas pegolf perempuan ataupun pegolf profesional,” Suprapto menjelaskan. Bagi anggota founder, keistimewaannya adalah membership seumur hidup gratis sebanding dengan tugasnya sebagai duta yang merefleksikan IGR di komunitasnya. “Kami pilih mereka, tentu, dengan harapan agar mereka mengundang komunitasnya,” ia menambahkan.

Terlepas dari itu semua, Suprapto mengakui, bigger idea dari keberadaan IGR kelak adalah membentuk komunitas business social leisure terbesar di Indonesia. “Jadi nanti tidak hanya member yang beraktivitas di sana, tapi kami mengadakan aktivitas juga untuk suami-istri dan anak-anaknya,” paparnya. Itulah sebabnya, IGR rela menggelontorkan modal investasi Rp 426 miliar yang ditargetkan bakal payback period setelah tahun kelima.

Saat ini baru terdaftar 25 anggota founder dan mereka telah mereferensikan beberapa kandidat member baru. Ada satu orang yang membawa referensi 20 sampai 50 calon. Namun, itu semua diseleksi lagi seketat pemilihan anggota founder. Sejauh ini, memang akuisisi member belum terlalu kencang karena golf course yang di Pecatu, Bali, belum dibuka. Toh, IGR berancang-ancang lebih gencar lagi menjaring anggota baru setelah golf course di Bali dibuka April mendatang. Manajemen IGR menargetkan 3.100 anggota bakal tercapai paling cepat dua tahun mendatang atau paling lambat lima tahun lagi.

Strategi pricing khusus dijalankan IGR supaya calon anggota cepat bergabung. Tiap kelipatan 500 anggota, tarif membership dinaikkan Rp 20-30 juta. Jenjangnya sebagai berikut: anggota ke-1 sampai 500 biaya keanggotaan ditetapkan Rp 155 juta; anggota ke-501 hingga 1.000 tarifnya Rp 210 juta; anggota ke-1.001 hingga 1.500 tarifnya Rp 230 juta; anggota ke-1.501 hingga 2.000 tarifnya Rp 260 juta; anggota ke-2001 hingga 2.500 tarifnya Rp 285 juta; dan anggota ke-2.500 sampai 3.100 dibanderol seharga Rp 310 juta.

Keuntungan anggota, selain bisa bermain di tiga lapangan golf IGR dan mitra IGR dengan harga mulai Rp 155 juta, juga keanggotaannya berlaku seumur hidup. Padahal umumnya untuk fasilitas tiga lapangan golf rata-rata dibanderol Rp 310 juta. “Dengan keanggotaan golf IGR memungkinkan anggota untuk memiliki semua aset IGR yang bisa dimiliki seumur hidup, sehingga ada peluang nilai tambah dari kenaikan nilai aset itu,” tutur Suprapto. Pasalnya, tanah ketiga golf unit itu adalah aset IGR sendiri, sehingga IGR lebih leluasa menawarkan saham ke member-nya. Beda dari kebanyakan golf course yang tanahnya menyewa pihak lain, para anggotanya tidak memperoleh keuntungan kepemilikan tanah. Menurut Suprapto, nanti setelah IGR menjadi perusahaan publik, secara otomatis ke-3.100 anggota IGR memperoleh porsi 45% saham IGR. Jadi, mereka punya kesempatan mendapatkan capital gains seandainya mereka menjual sahamnya itu ke orang lain. “Tapi tujuan utama kami memberikan saham kepada anggota agar ada keterlibatan emosional di IGR,” Suprapto mengungkapkan.

Farid mengamini banyaknya keuntungan menjadi member IGR. “Saya bisa main di tiga golf course sehingga memudahkan saya bila bepergian ke Bali. Saya tetap bisa main golf tanpa membayar lagi member fee di golf course lain,” ujar pria 55 tahun ini. Kendati begitu, ia belum ada rencana untuk mengalihkan hak membership-nya di IGR ke orang lain.

Boleh jadi, belum terpikirnya Farid menjual hak membership-nya di IGR lantaran capital gains bukan menjadi prioritas. Para eksekutif lebih mengedepankan soal prestise. Ini dikuatkan oleh pendapat Handoko, member sejumlah klub golf non-IGR. Menurutnya, kecenderungan para eksekutif melepas membership golf rendah. Mengapa? Pertama, level ekonomi para eksekutif itu sudah high-class, sehingga mereka notabene menganggap nilai rupiah yang dihasilkan capital gains tidaklah seberapa. Yang kedua, dengan melepaskan membership, otomatis kesempatan untuk memperoleh rekanan bisnis dari lapangan golf sirna. Bukankah lapangan golf sudah jamak dijadikan sebagai ajang negosiasi bisnis? Faktor ketiga, sukarnya mentransfer golf membership lantaran makin eksklusif klub golf semakin ketat saringan untuk masuk, meski calon member berani membayar harga tinggi.

Handoko mengingatkan agar eksekutif teliti sebelum memutuskan beli membership lapangan golf. Pasalnya, tidak semua lapangan itu punya sertifikat hak kepemilikan tanah. “Kalau sudah bersertifikat, tingkat kenaikan nilai investasinya tergantung pada lokasi lapangan golf itu,” ujar Handoko yang juga dikenal sebagai pengamat properti. Sebuah nasihat yang patut dipertimbangkan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag