Prospek Reksa Dana Campuran Tetap Seksi

Prospek Reksa Dana Campuran Tetap Seksi

Laila Prabowo tidak mengira dari tiga jenis reksa dana yang dimilikinya, kali ini performa reksa dana campuran BNI Dana Plus Syariah mencetak return riil setahun terakhir rata-rata 222,54% (periode Januari-April 2007). “Ah, masa sih,” ujarnya seperti tak percaya menatap lembaran koran bisnis yang memuat laporan kinerja reksa dana itu. Keheranan Laila patut dimaklumi. Pasalnya, selama ini reksa dana pendapatan tetaplah yang jadi primadona. Sementara reksa dana campuran baru unjuk gigi setahun terakhir. “Kalau reksa dana saham, ada yang return-nya tumbuh sangat tinggi, tapi banyak juga yang minus karena mengikuti naik-turunnya IHSG (indeks harga saham gabungan),” kata Laila yang menggenggam reksa dana jenis pendapatan tetap, saham dan campuran. Ia mencontohkan, pada Maret 2007 IHSG sempat turun 7,5%, sehingga berdampak langsung terhadap kinerja reksa dana sahamnya.

Berdasarkan perhitungan riset SWA untuk 10 besar reksa dana campuran, rata-rata return riil setahun dalam pemantauan Januari-April 2007 nyaris di atas 20%. Ke-10 reksa dana jempolan itu: BNI Dana Plus Syariah (222,54%), Trim Syariah Berimbang (61,36%), Mega Dana Syariah (50,88%), Mega Dana Campuran (31,83%), First State Indonesian Multistrategy Fund (28,25%), Brent Dana Fleksi (27,66%), Bahana Kombinasi Arjuna (27,22%), Dana Fleksi (21,73%), Gadjah Mada Seri II (20,20%) dan Bahana Dana Infrastruktur (19,92%) — lihat Tabel.

Mengapa imbal hasil reksa dana campuran belakangan ciamik? Tentu, ini tidak bisa dilepaskan dari dua faktor utama. Pertama, membaiknya kondisi bursa saham: IHSG tembus di atas level 2000 sejak akhir April lalu. Kedua, tren menurunnya suku bunga yang saat ini 9% berimbas positif pada maraknya pasar obligasi. Jadi, jangan heran, reksa dana campuran itu basis instrumennya bertumpu pada saham dan obligasi sehingga mampu memberikan hasil yang memuaskan. Akan tetapi, reksa dana campuran yang portofolionya condong ke pasar uang nasibnya tidak semujur perpaduan saham dan obligasi.

Performa reksa dana berbasis saham dan obligasi syariah malah lebih yahud. Lihatlah, rata-rata return yang dicetak BNI Dana Plus Syariah sebesar 222,54%, Trim Syariah Berimbang sebesar 61,36%, dan Mega Dana Syariah sebesar 50,88%. Mengapa? “Kebetulan hasil investasi obligasi syariah dan saham yang mengacu pada Jakarta Islamic Index yang kinerjanya di pasar juga sangat bagus. Bahkan, kupon obligasi syariah lebih tinggi daripada konvensional, yaitu sekitar 17%,” Isbono Putro, Kadiv Managemen Investasi BNI Securities, menjelaskan faktor lain yang menyebabkan kinclongnya return reksa dana campuran. Asal tahu saja, sebagai perbandingan, kupon obligasi konvensional saat ini berkisar 10%-13%.

Fleksibilitas reksa dana campuran dalam pengelolaan portofolio juga berperan penting dalam mendongkrak return. “Bagi kami, reksa dana campuran adalah yang terbaik karena fleksibilitasnya memudahkan fund manager melakukan alokasi aset,” ujar Hermawan Hosein, Direktur Sinarmas Sekuritas. Dan, “Kami sudah membuktikan dengan imbal hasil reksa dana campuran Simas Satu mencapai 15,42% atau tertinggi selama periode 28 Desember 2006-18 April 2007,” katanya. Ia buka kartu bahwa waktu itu isi portofolionya: 80% saham dan sisanya instrumen lain. Salah satu jenis saham yang masuk dalam portofolio Simas adalah pertambangan, yang kebetulan juga mencetak capital gains tinggi.

Strategi pengelolaan investasi Niaga Aset Manajemen (NAM) senada dengan Sinarmas: porsi terbesarnya di saham. “Hingga kini kami masih melihat pertumbuhan IHSG bagus, sehingga dana yang kami kelola lebih banyak diinvestasikan di saham,” ucap Ferry I. Zein, Direktur NAM. Manajer investasi ini menerbitkan reksa dana campuran Gadjah Mada Seri II dengan rata-rata return 20,20% dalam empat bulan pertama 2007.

Selain Sinarmas dan NAM, beberapa fund manager punya jurus khusus untuk meramu reksa dana campuran mereka agar kinclong. Umpamanya, Trimegah Securities. Menurut Fajar R. Hidayat, strategi pengelolaan portofolio reksa dana Trim Syariah Berimbang dialokasikan sebesar 80% di saham dan 20% cash. Rupanya obligasi belum disentuh dengan alasan tertentu. “Karena tahun lalu reksa dana kami masih kecil, obligasi syariah juga belum banyak alternatif, serta prospeknya saat itu masih menarik di saham,” ungkap Kepala Riset Trimegah itu. Adapun saham-saham yang masuk ke keranjang portofolionya adalah saham pertambangan dan perkebunan. “Meski saham perbankan waktu itu trennya bagus, kami tidak beli karena tidak sesuai dengan prinsip syariah. Lagi pula, kebetulan saat itu pergerakan signifikan justru terjadi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga. Nah, kami diuntungkan dengan posisi tersebut,” katanya dengan nada riang.

Sementara itu, investasi reksa dana BNI Dana Plus Syariah Berimbang ditaruh di tiga instrumen: 48%-98% di efek pendapatan tetap (termasuk efek yang bersifat surat utang, repo syariah, instrumen pasar uang), 0%-50% di efek yang bersifat ekuitas dari perusahaan-perusahaan yang kegiatan usahanya sesuai dengan syariah, dan 2%-20% di cash.

Dalam memilih obligasi, dikatakan Isbono, kebijakan BNI Securities bersifat bottom-up. Maksudnya, mula-mula mereka melihat dulu fundamental perusahaan seperti apa, praktik Good Corporate Governance-nya bagaimana, siapa pemilik perusahaan, struktur permodalannya seperti apa, bagaimana gaya manajemen, prospek sektor bisnis itu seperti apa, lalu rating minimal single A agar kualitasnya bagus. “Karena jumlah obligasi terbatas, kalau kami membatasi sektor bisnis tertentu, ya nggak akan dapat,” ujarnya. Dengan strategi itu, Isbono mengaku hingga kini kupon obligasi yang diterimanya masih oke dan belum ada yang default penerbitnya. Untuk prioritas penyeleksian saham, BNI Securities mengutamakan sektor insfrastruktur. Selanjutnya, bidang usaha yang terkait dengan penurunan suku bunga, seperti sektor properti dan konsumsi.

Tak mau kalah dari BNI Securities dan Trimegah, First State Investment (FSI) juga memiliki produk reksa dana campuran yang jempolan. Paling tidak ini terefleksi dari return riil rata-rata First State Indonesian Multistrategy Fund selama Januari-April 2007: sebesar 28,25%. Untuk menghasilkan return memikat itu, FSI, sebagaimana dituturkan Legowo Kusumonegoro, menjalankan strategi alokasi yang berbeda untuk tiap instrumen yang dipilih. Yaitu, di saham, secara netral alokasinya 70%, minimum 40% dan maksimum 98%. Obligasi atau instrumen pendapatan tetap, sebesar 0-58%. Sementara di pasar uang, 42%-60%. “FSI Multistrategy Fund bobotnya lebih banyak di saham,” kata Presdir FSI itu.

Untuk membeli saham, FSI juga tidak asal comot. “Kami menerapkan jurus multistrategi yang menitikberatkan pada dua hal. Yaitu, dividen yang dibagikan emiten harus tinggi dan potensi growth bisnisnya bagus,” ujar Legowo menguraikan lebih detail pertimbangannya melirik saham-saham favorit. Sehingga, dalam memilih saham, FSI tidak terpaku pada sektor tertentu. Sebaliknya, pertimbangan FSI membeli instrumen pasar uang dan obligasi tidak terlalu njelimet. “Ya, sekadar parkir, sehingga kami cari yang longterm saja,” ungkapnya.

Dilihat dari pertumbuhan return, kinerja reksa dana campuran memang hebat. Namun, para fund manager menyadari jumlah dana kelolaan reksa dana campuran masih kecil, sehingga kontribusinya terhadap total dana kelolaan belum menonjol. Di Trimegah, misalnya, dana kelolaan Trim Syariah Berimbang hanya Rp 35 miliar, padahal total dana kelolaan reksa dananya mencapai Rp 2,5 triliun. Sementara di BNI Securities, dana kelolaan BNI Dana Plus Syariah hanya Rp 37 miliar. “Kami punya dua reksa dana campuran. BNI Dana Plus Syariah dan Fleksibel Dua (nonsyariah). Kalau dana kelolaan Fleksibel Dua, sudah Rp 70 miliar,” Isbono menambahkan. Tiga reksa dana campuran FSI (FS Multistrategy, FS Indonesian Balance Fund dan FS Indonesian Liquid Fund), dana kelolaannya Rp 124 miliar, sedangkan total dana kelolaan FSI mencapai Rp 1,5 triliun.

Para fund manager sepakat tentang masih seksinya prospek reksa dana campuran hingga setahun ke depan. Mereka yakin, imbal hasil reksa dana gado-gado itu minimal bisa 20%. Meski demikian, persentase return-nya belum bisa mengungguli reksa dana saham. Namun, sesuai dengan dalil investasi “hi-risk, hi-return”, bisa dipastikan risiko reksa dana saham lebih tinggi ketimbang campuran. Coba simak prediksi Fajar. Ia memproyeksikan return reksa dana saham mencapai 30%-40%, campuran 20%-30%, dan pendapatan tetap 8%-10%. Prediksi Isbono lebih konservatif. Ia meramalkan return reksa dana saham 19%-20%, campuran 20%, pendapatan tetap 10,5%- 11,5%, serta pasar uang 8%-9,5%.

Kendati prospek reksa dana campuran masih cerah, Aidil Akbar Madjid mengingatkan, ada beberapa klausul yang wajib diperhatikan calon investor. “Secara teori, performa reksa dana campuran akan menarik dan melebihi kinerja reksa dana saham ketika kondisi bursa saham mengalami penurunan dengan berbagai indikator ekonomi lokal dan global yang terjadi,” kata pengamat investasi dari International Association of Registered Financial Consultant itu. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi lantaran di dalam reksa dana campuran terdapat komponen instrumen pendapatan tetap. Ketika harga saham di bursa berjatuhan, instrumen pendapatan tetap inilah yang akan “menahan kejatuhan” pada portofolio reksa dana campuran. Namun, saat kondisi bursa tetap bullish (ekspektasi pasar terus naik), performa reksa dana saham tetap akan melampaui reksa dana lainnya, termasuk reksa dana campuran.

Agar tidak terjeblos investasi di reksa dana campuran, investor tidak boleh asal tubruk. Selain mempertimbangkan rekam jejak penerbit, pencapaian return seluruh produk reksa dana yang dikeluarkan penerbit juga mesti ditujukan untuk investasi jangka panjang. “Dengan siklus naik-turun bursa saham Indonesia selama 3-5 tahun terakhir, untuk mendapatkan return optimal, minimal durasi investasinya di atas tiga tahun,” ujar Akbar membeberkan tip investasinya.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag