Ambisi Dynand Mengangkat Pamor Jember

Ambisi Dynand Mengangkat Pamor Jember

JFC diikuti 450-an model ABG (anak baru gede) Jember yang menyusuri jalan-jalan besar daerah tersebut. Sejatinya, JFC yang menghebohkan di Agustus 2007, hingga gaungnya terdengar di luar negeri, itu bukanlah yang pertama dijumpai di Jember. Event ini merupakan pergelaran keenam atau JFC VI.

Dynand Fariz merupakan sosok di balik kesuksesan JFC. Dialah yang mengangkat potensi ekonomi dan sosial daerah kelahirannya, Jember. Sehari-hari ia berprofesi sebagai dosen sekolah mode Esmod Jakarta dan mengajar tata busana di almamaternya, Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Negeri Surabaya). “Saya ingin menjadi fashion educated yang mumpuni, wadahnya ya lewat rumah mode ini,” ujar pria kelahiran Jember, 23 Mei 1963, yang juga pemilik Rumah Mode Dynand Fariz (RMDF) ini. Ketika mendirikan RMDF, ia mendapat cibiran dari teman-temannya dan diperkirakan tiga tahun bakal tutup. Kenyataannya, dengan kegigihannya, RMDF sekarang tidak saja eksis, tapi terus berkembang.

Menurut Dynand, ide JFC diilhami rasa keprihatinannya atas Kota Jember yang seolah-olah tidak dianggap orang. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya angka pengangguran dan minimnya peluang kerja. Untuk merealisasi JFC, ia harus memulainya secara bertahap.

Perjalanan JFC diawali dari ajang fashion week pada 1998. Di pergelaran busana mingguan itu, anak buahnya diwajibkan merancang apa pun yang berbau fashion untuk dipakai, dipamerkan, serta dipajang di RMDF. “Kami melibatkan mulai dari office boy, customer service, penjahit, dan karyawan lainnya untuk membuat sebuah rancangan,” ujar peraih beasiswa program pelatihan guru di Esmod Paris itu.

Lalu pada 2002, Dynand memperkenalkan fashion week yang semula tertutup dan hanya bertempat di rumah modenya menjadi terbuka dengan karnaval keliling kampung hingga radius ratusan meter. Setiap tampil, ada 7 peragaan busana yang berbeda. Tujuannya, agar peserta berani menampilkan diri sendiri. Di luar dugaan, masyarakat sekitar sangat antusias. Alhasil, ia ingin memperbesar skala karnavalnya, dan membuat satu hari khusus karnaval fashion melewati jalan-jalan besar di Jember. Visinya: menjadikan Jember sebagai kota wisata mode pertama di Indonesia, bahkan dunia.

Guna mewujudkan ambisinya itu, Dynand menggelar JFC I bertepatan dengan HUT Jember, 1 Januari 2003. JFC perdana itu mengusung tema Defile Cowboy, Punk & Gipsy dan melibatkan 200 peserta. Berikutnya, JFC II diselenggarakan pada 30 Agustus 2003 dengan topik busana Arab, Maroko, India, Cina, dan Jepang yang menjaring 250 peserta. Kemudian diteruskan JFC III pada 8 Agustus 2004 dengan tema Defile Mali, Athena, Brazil, Indian Futuristic & Vintage. Pada JFC III ini, dibentuklah satu wadah independen Jember Fashion Carnival Council. Menariknya, pada JFC III respons masyarakat luar kota Jember, seperti Surabaya, Malang, Banyuwangi, Bondowoso, mulai tampak. Juga, mulai diliput pers luar negeri.

Efek sosial JFC pun tak bisa diabaikan. Kini banyak muda-mudi Jember yang tertarik menggeluti dunia fashion dan entertainment. Dynand bahkan pernah mengirim boyband dari Jember, JFC Band, ke ajang boyband TPI, dan berhasil menyabet juara ke-2. Dengan keterampilan yang diberikan Dynand, para alumni peserta JFC bisa berkreasi mengembangkan usaha sendiri, seperti salon, tata rias, dan penjahit. “Yang terpenting, mereka memiliki ilmu dasar, pengalaman, dan rasa percaya diri ketika mengikuti JFC atau memenuhi undangan pergelaran di luar negeri. Ini modal yang berharga buat hidup mereka, apa pun jalur yang dipilih,” kata anak ke-8 dari 11 bersaudara itu.

Sumber pendanaan JFC, diakui Dynand ,100% dari internal. Dana didapat dari divisi bisnis RMDF yang kini berkembang menjadi jaringan empat salon di Sidoarjo, Probolinggo, dan Jember. Sementara itu, Pemda Jember hanya menyediakan fasilitas selama karnaval berlangsung, seperti keamanan, tempat, izin, alat, atau properti. Dynand bermimpi JFC tidak hanya milik warga Jember, tapi seluruh Indonesia.

Pemda Jember mengakui positifnya multiplier effect JFC terhadap sektor pariwisata dan ekonomi. Dampak ekonomi sangat dirasakan para pedagang kecil, seperti penjual kain dan pernak-pernik fashion. Saat JFC berlangsung, pedagang kaki lima pun kecipratan rezeki dari meluapnya jumlah penonton.

Di perhotelan juga terasa dampaknya. Tiga minggu sebelum JFC digelar, hotel di Jember rata-rata sudah full booked. Wisatawan lokal berasal dari Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo, dan Surabaya. Adapun turis mancanegara datang dari Jepang, Belanda, plus Australia. “Turis asing ke sini khusus nonton JFC, jadi bukan wisatawan yang sedang ke Bali terus mampir di Jember. Buat masyarakat fashion dari luar, JFC sudah masuk ke agenda mereka, seperti halnya parade bunga di Pasadena atau karnaval di Brasil. Total turisnya sampai ratusan ribu,” ujar S. Wandiyantoro, Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Jember.

Menurut Wandiyantoro, terinspirasi dari JFC inilah akhirnya Bupati Jember meluncurkan program Bulan Berkunjung ke Jember. Dalam program itu, juga diadakan Jember Carnival City, karnaval berskala nasional.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag