Sela: Swa No. 02/XX

Sela: Swa No. 02/XX

“Di sini kau mengatur napas melepas tangis pertama setelah kau lepas dari rahim ibumu,” begitu nenek saya berujar. “Banyak kota yang akan kau datangi. Kau boleh melupakan namanya. Tapi, Ngayogyokarto ini jangan sekalipun hilang dari ingatanmu. Rawatlah ia dengan hatimu,” ia berpesan.

Namun, memenuhi pesan yang saya terima ketika saya menginjak masa remaja itu ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Saya merasa ada sesuatu yang hilang. Yang jelas, home tak saya temui lagi. Maklum, saya sudah membangunnya di Jakarta. Teman-teman semasa kecil dan dewasa tak berbekas lagi. Menikmati kenangan manis masa lalu tanpa kehadiran mereka selalu membisikkan ajakan untuk pulang ke kota kelahiran. Ajakan “marilah pulang” — senada dan searti dengan lagu dalam bahasa Rote yang diajarkan murid-murid saya ketika saya berkelana sebagai guru di Kupang, NTT, berjudul Mai Falihe — tak mampu mengusir kehendak saya untuk tidak menyajikannya dalam Sela ini.

Stasiun Tugu masih bersuasana alon-alon. Pengemudi taksi, pengayuh becak dan sais andong sudah lancar menawarkan jasa dan menyapa penumpang dalam bahasa Indonesia beraksen lokal. “Ke Sompilan, biasa saja Om.” Saya sedikit kaget disapa ?om?. “Kok wani-wanine panggil saya ?om?! Sejak kapan saya menikah dengan tantemu?” saya menyahut dengan tutur humor gaya Yogyakarta. “Nyuwun pangapunten (mohon maaf). Ketularan gaya Jakarta, Pak,” laki-laki berbadan kekar itu tertawa.

Napak tilas menawarkan kenikmatan lain. Berjalan kaki menapak “jalan emas” yang mengantarkan saya ke Sekolah Dasar Keputran I, SMP Bruderan Kidul Loji, Kolese Johannes de Britto dan Standard Training Course melalui rute Sompilan-Magangan-Suryoputran-Kemitbumen-Sawojajar-Plengkung Wijilan-Yudonegaran-Gondomanan-Sayidan-Bintaran Kidul benar-benar nyaman lahir-batin.

Kali Winongo tak senyaman dulu lagi. Rumah-rumah berdempet di pinggir dan bantaran kali. Bagian kali tempat saya dan teman-teman mencari ikan kecil (wader cethul) dulu, kini sudah lenyap. Rel lori di Wirobrajan-Bugisan-Padokan sudah lama terlapis aspal. Tanaman tebu di sekitar Pabrik Gula Padokan (kini Madukismo) tampak tak terawat. Di sebuah rumah dekat pabrik itulah pada 1998 saya melakukan wawancara khusus dengan KGPH Mangkubumi yang kini bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menikmati sesuatu yang hilang adalah ziarah yang sesungguhnya. Tiba kembali di Jakarta, saya merasa dilahirkan kembali. Dan lagu Mai Falihe terus menggema. Lagu dan perasaan lahir kembali itulah yang selalu mengilhami saya bersenandung dalam hati “Ke Yogya, ke Yogya ku pasti kan kembaliii…”

Menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, selain ucapan lewat SMS di telepon seluler — salah satunya saya terima dari Enni Hardjantho — saya juga menerima sejumlah kartu ucapan. Sungguh membahagiakan menerima kartu-kartu yang indah, dilengkapi niat baik yang tertuang dalam rangkaian kata dan tanda tangan pengirimnya. Saya ucapkan terima kasih yang mendalam kepada para pengirim, diiringi permohonan maaf, karena beragam kendala tidak memberikan saya waktu dan kesempatan membalas kartu-kartu ucapan yang amat mengesankan itu.

Beragam ucapan dilengkapi tanda tangan sejatinya merupakan wujud kehendak baik yang disampaikan secara pribadi oleh pengirimnya. Seperti pernah saya tulis dalam ruang ini, saya sangat menghargai gaya Th. Wiryawan dalam memberi warna yang lebih personalized pada kartu ucapan yang dikirimkannya kepada saya, dan mungkin juga kepada rekan-rekannya.

Direktur Komunikasi Pemasaran dan Pengembangan Bisnis Citibank itu selalu menulis kalimat sendiri. Dalam kartu ucapan bertuliskan Wishing You a Bright and Joyful Year, Th. Wiryawan menambahkan kalimat tulisan tangan yang berbunyi (saya kutip seperti yang tertulis), “Setahun lagi sudah berlalu. Thn depan banyak berkat & sehat untuk Bp. Supiyo & kel.” Siraman batin yang menyejukkan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag