Sudirman M.R., Presdir PT Astra Daihatsu Motor: Menorehkan Sejarah Baru

Assembly Plant Daihatsu di Sunter pada Rabu, 24 November 2010, terlihat semarak. Semua orang tampak semringah. Hari itu sejarah ditorehkan. Di depan Menteri Perindustrian RI M.S. Hidayat, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiro, dan para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Koichi Ina, Presiden Daihatsu Motor Corp. (DMC), mengumumkan bahwa mulai tahun depan, komandan ADM akan dipercayakan kepada orang Indonesia. “Putra Indonesia yang pantas menduduki jabatan tersebut adalah Sudirman M.R. yang selama ini menjadi Wakil Presiden Direktur ADM dan sudah banyak memberikan sumbangan kepada perkembangan Daihatsu di Indonesia,” kata Koichi sembari meminta Sudirman tampil ke panggung dan kemudian menyalaminya.

Inilah untuk pertama kalinya, DMC yang menguasai 61,7% saham ADM memercayakan kendali ADM di tangan orang Indonesia. Pemilik saham ADM lainnya adalah PT Astra International Tbk., sebesar 31,9%, dan sisanya 6,4% dimiliki Toyota Susho Corp. Pengangkatan orang Indonesia sebagai presdir membuktikan DMC sangat percaya pada kemampuan orang Indonesia, dalam hal ini Sudirman, untuk mengelola industri sarat teknologi tinggi yang memayungi lebih dari 7.000 karyawan itu. Sebelumnya, kursi presdir dipegang oleh Takashi Nomoto.

Masuk ke Indonesia pada 1973, Daihatsu saat ini bertengger di posisi ke-2 setelah Toyota untuk penjualan dengan merek sendiri. Daihatsu memproduksi mobil 55% untuk Toyota dan 45% untuk merek sendiri dengan ekspor sebesar 15%. Perlu perjalanan panjang, memang, bagi Daihatsu untuk menjadi produsen terbesar dalam produksi unit per tahun di Indonesia. Saat ini jumlah produksi Daihatsu mencapai 230.000 unit per tahun. ADM bahkan telah menjadi basis produksi terbesar Daihatsu di luar Jepang. Sejak merangsek pasar Indonesia selama 37 tahun, pada Oktober 2010 ADM mencetak rekor produksi ke-2.000.000 unit. Jumlah produksi 1 juta unit pertama Daihatsu diraih pada 2005 dalam kurun waktu 32 tahun. Adapun 1 juta unit berikutnya hanya membutuhkan waktu lima tahun (2005-10).

Adalah Sudirman Maman Rusdi atau Sudirman M.R. – begitulah ia menuliskan namanya di kartu namanya – yang punya andil besar membawa ADM mencapai produksi 1 juta unit hanya dalam tempo lima tahun. Prestasi ADM tersebut hal yang luar biasa. Hal ini diungkapkan Koichi saat seremoni merayakan pencapaian 2.000.000 unit produksi Daihatsu di Jakarta, di penghujung November tahun lalu itu, ketika dia juga mengumumkan pengangkatan Sudirman menjadi Presdir ADM.

Kaget, tentu saja, karena saya tidak menyangka dan tidak pernah bermimpi ketika pihak Jepang menunjuk saya sebagai pemimpin,” ungkap Sudirman merendah di ruang kerjanya yang lebih luas dari lapangan bulutangkis. Kekagetan Sudirman bukan tanpa alasan. Sebagai pemilik saham mayoritas, DMC seharusnya berhak menunjuk orangnya sendiri untuk menduduki kursi tertinggi dan begitulah yang berlaku selama ini -- dan orang dari Astra International sebagai wakilnya. Mengenakan kemeja dan celana dengan warna senada, kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 1 Juli 1954, ini mampu menorehkan sejarah baru.

Kepercayaan yang diamanatkan kepada Sudirman boleh jadi karena ia sosok di balik keberhasilan Daihatsu mencapai 1 juta unit dalam tempo lima tahun. Diakui Sudirman, bukanlah perkara mudah mencapai prestasi itu. Ada lembah ngarai bisnis ADM yang mesti dilalui. Saat krisis moneter 1998, ADM terlilit utang yang cukup banyak. “Pokoknya, banyak sekali utangnya,” ujarnya tanpa menyebut angka pasti. Sebagai gambaran keterpurukan, pada 1998 kapasitas produksi ADM sebesar 78.000 hanya terpakai 18.000. “Hanya 25%,” ujarnya. Masa sulit itu terus berlanjut hingga 2002 ketika saham Astra Internasional yang semula sekitar 50% di ADM terdilusi menjadi 31,9% saja.

Saat itu tercetus ide untuk kolaborasi dengan Toyota,” kata Sudirman. Maksudnya, produksi Daihatsu bisa dijual dengan merek Toyota. Lalu, riset pasar pun dilakukan. Ia meriset kebutuhan saat pasar mobil tengah lesu. Tercetuslah ide pembuatan multipurpose vehicle (MPV) boned (Xenia-Avanza) yang kini merajai jalanan. Ide ini dibawa ke Jepang, dan disetujui. “Tetapi kami tidak bisa serta-merta mulai produksi.”

Level up manufacture dituding sebagai biangnya. DMC menilai kualitas produksi ADM jauh dari standarnya. Sudirman, yang kala itu masih menjabat Direktur Technical Engineering Manufacturing, putar otak. “Kami lakukan benchmarking ke DMC Jepang,” katanya. Tujuannya, agar quality, cost, delivery (QCD) sesuai dengan standar Jepang. Langkah konkretnya, ia membentuk Committee Production Strategy. Tim ini bertugas mengawasi jalannya QCD tersebut. Orang-orang dari DMC Jepang didatangkan untuk memberikan mentoring. Orang ADM pun dikirim secara berkala ke DMC untuk belajar.

Kolaborasi budaya kerja Jepang-Indonesia juga diterapkan,” katanya. Misalnya, soal kedisiplinan dan kebersihan. Untuk hal ini, diakuinya, orang kita masih lemah. Satu contoh kecil kedisiplinan adalah dengan mengondisikan lingkungan pabrik sedisiplin mungkin. “Misalnya, kami kasih jalur khusus untuk pejalan kaki,” katanya lagi. Untuk memberi contoh, setiap Jumat, Direksi datang setengah jam lebih awal dari jam kantor untuk memberi salam ke karyawan. Masih banyak perilaku lain yang diterapkan guna mencapai QCD standar Jepang.

Sementara untuk produksi, Sudirman menerapkan Toyota Procedure System yang menganut just in time. “Jadi, kami produksi sesuai kebutuhan. Tidak ada stok,” ujarnya. Misalnya, produksi komponen yang akan digunakan pukul 16.00, maka produksi dilakukan satu-dua jam sebelumnya. “Tak perlu kami produksi dari pukul 8 pagi,” ujarnya. Ini artinya, supply chain harus berjalan sangat disiplin dan tidak boleh ada keterlambatan sama sekali. “Karena, kalau ada satu terlambat, produksi akan berhenti.”

Hal ini diterapkan juga pada 150 perusahaan pemasok komponen untuk ADM. Sudirman mengaku pihaknya juga meningkatkan kedisiplinan pemasoknya. Mulai dari produksi hingga pengiriman ke ADM tidak boleh ada keterlambatan. “Tiap hari ada 1.400 truk setor komponen ke kami. Kami harus pastikan truk-truk itu tidak menumpuk dan harus datang sesuai yang dijadwalkan,” ungkapnya. Hasilnya, saat ini ADM mampu memproduksi satu mobil hanya dalam waktu 1,2 menit. Itu pun satu line memproduksi mobil dengan model dan varian yang berbeda. “Dulunya satu mobil diproduksi dalam waktu belasan menit,” ia membandingkan.

Tak hanya itu, tantangan lain yang kemudian menghadang adalah bagaimana meningkatkan produksi. Karena, hingga saat ini permintaan Xenia-Avanza terus melonjak. Tahun 2004 (pertama peluncuran) produksinya hanya 78.000, sedangkan pada 2010 ADM telah mampu memproduksi hingga 373.000 unit Xenia-Avanza. Bukan itu saja, karena toh nyatanya ADM didaulat untuk mengekspor. “Grand Max itu produk kami yang masuk pasar Jepang sebanyak 900 unit/bulan,” kata Sudirman. Di Negeri Matahari Terbit, Grand Max dinamai Town S dan Light S. Destinasi ekspor ADM lainnya di antaranya Venezuela, Afrika Selatan dan Meksiko.

Performa ADM yang terus mengilap tak pelak menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terpenting bagi Daihatsu. ADM telah menjadi basis produksi terbesar Daihatsu di luar Jepang. Proses produksi Daihatsu di Indonesia melibatkan 155 perusahaan lokal pemasok komponen level pertama (first tier) dan 850 perusahaan di level kedua (second tier) dengan melibatkan 507.000 tenaga kerja. “Saat ini jumlah produksi Daihatsu mencapai 230.000 unit per tahun dan akan ditingkatkan menjadi 300.000 unit per tahun,” kata Sudirman. Saat ini, ADM tak hanya merakit mobil di Indonesia, seperti Daihatsu dan Toyota, tetapi juga memiliki pabrik mesin di Karawang (cor dan perakitan mesin).

Pencapaian ADM tak lepas dari kontribusi Sudirman. Sebagai pribadi, Sudirman dikenal sebagai sosok yang pantang lekang belajar. Mengawali karier di ADM sebagai staf produksi (karyawan level 5) pada November 1978, kariernya terus menanjak hingga tahun 1982 menjadi kepala seksi. Dua tahun berikutnya, dia menjadi asisten manajer. Posisi ini dijabatnya selama lima tahun sebelum akhirnya menjadi manajer pada 1989. Berikutnya, pada 1991 dia berhasil menjadi general manager. “Saya dulu masuk ke sini dengan ijazah STM,” katanya. Akan tetapi, Sudirman tak mau berhenti di karyawan level biasa saja. Dia menempa diri dengan berbagai pelatihan. Dan, dia juga membuka diri untuk mengerjakan tugas yang sama sekali bukan tugasnya. “Saya tidak mencari uang, tetapi mencari ilmu,” katanya.

Suatu ketika ia dikirim ke Jepang selama 1,5 tahun untuk mengikuti pelatihan. Naluri belajarnya terus membuncah. Di akhir pekan, bukannya jalan-jalan, ia malah asyik melihat orang maintenance bekerja. “Awalnya saya diusir, tapi saya datangi terus sampai akhirnya diterima dan mendapat ilmu baru,” kata anak kedua dari tujuh bersaudara ini.

Sebagai orang teknik, Sudirman tidak lantas menutup diri terhadap disiplin ilmu lain. Dirinya sering mengikuti pelatihan finansial dan manajerial. “Saya sering mengambil kesempatan itu untuk belajar,” ungkapnya. Inilah yang agaknya membuatnya tak hanya piawai di produksi tetapi juga dalam mengelola sumber daya manusia. “Saya juga pernah didapuk menangani SDM di sini,” ujar penganut filosofi “mengambil ikan tanpa memercikkan air” yang ketika masih bocah berangan-angan membuat mobil ini. Efektif per 1 Februari mendatang, bocah kecil itu menjadi orang nomor satu di perusahaan otomotif multinasional.

Henni T. Soelaeman dan Sigit A. Nugroho

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)