Skip to main content

Channels

Agresivitas INPP, dari Segmen Hospitality, Commercial Rambah Property Sale

  • 15 Des 2022, 12:07 WIB
  • 20
Anthony Prabowo Susilo Presiden Direktur & CEO PT Indonesia Paradise Property Tbk (INPP).

Di tengah situasi pandemi, disaat para pengembang tiarap, September tahun lalu, diam-diam PT Indonesia Paradise Property Tbk (INPP) melakukan gebrakan dengan mengambil alih (akuisisi) proyek Apartemen Antasari 45 yang sebelumnya dikembangkan PT Prospek Duta Sukses (PDS). Bagi INPP, proyek ini menjadi salah satu flagship dengan dengan capex terbesar mencapai Rp 1,4 triliun.

Apartemen dua tower ini berlokasi di Jalan Pangeran Antasari No.45 dan berada di koridor CBD TB Simatupang, Jakarta Selatan, memiliki masing-masing 980 unit dan 621 unit. Saat itu ketika pengerjaan telah mencapai bagian podium, di mana tower pertama (dari dua tower apartemen) telah mencapai lantai empat.

Antasari Place, proyek baru hasil akuisisi proyek ini menjadi salah satu flagship dengan dengan capex terbesar mencapai Rp 1,4 triliun. (Foto: Dok eraloka).

Proyek Antasari 45 sempat mangkrak 8 tahun sejak dipasarkan secara perdana pada 2014 lalu dan proses akuisisi oleh INPP dilakukan sekitar Juni 2021 saat pandemi Covid-19. Kehadiran Antasari 45, kemudian berganti nama Antasari Place semakin melengkapi portofolio poyek properti yang dikembangkan INPP.

Antasari Place merupakan bisnis unit ke 24 yang dikembangkan INPP, dimana 7 bisnis unit dari 24 unit tersebut merupakan proyek hasil akuisisi. Saat itu, INPP memang mencari proyek baru di kawasan Jakarta yang lokasi strategis dan kebetulan berjodoh dengan Antasari Place. “Sebenarnya INPP lebih memilih proyek yang dikembangkan sejak awal, karena proyek hasil akuisisi menyisakan beragam masalah dari pengembang sebelumnya,” kata Presiden Direktur & CEO INPP Anthony Prabowo Susilo.

Gaung INPP sebagai pengembang memang belum banyak diketahui masyarakat, dan belum setenar nama pengembang lain seperti Sinarmas Land, Agung Sedayu, Ciputra, Agung Podomoro Land, Summarecon Agung dan lain-lain. Tapi jangan salah INPP telah membidani lahirnya beberapa brand top seperti Plaza Indonesia, The Plaza, fX Sudirman, Harris Hotel, Pop Hotels, Yello Hotel, Aloft Hotel, Apartemen Keraton, dan lain-lain. Mengingat Perusahaan besutan Boyke Gozali ini awalnya lebih membidik segmen hospitality dan commercial.

Harris Hotel Tuban Bali, proyek pertama INPP yang menjadi cikal bakal INPP menggeluti bisnis properti. (Foto: Dok. Tripadvisor)

Bisnis properti INPP dimulai dari Harris Hotel Tuban Bali, tahun 2002. Segmen market hotel ini untuk kalangan anak muda yang pada waktu itu belum ada pasarnya. Mengingat saat itu, akan terjadi perubahan gaya hidup konsumen untuk traveling, sehingga INPP segera memfokuskan bisnis pada properti spesifik seperti perhotelan, pusat belanja dan apartemen yang terintegrasi dalam satu kawasan.

Peresmian hotel pertama dilakukan dua minggu setelah kasus Bom Bali, 19 Oktober 2002. “Keputusan kami meresmikan Hotel Harris Tuban tersebut tepat. Bila hotel pertama ini tidak diresmikan, mungkin tidak ada hotel-hotel Harris lain. Bahkan Harris Hotel Tuban Bali, menjadi Harris pertama di dunia,” kenang Anthony.

Tahun ini, setelah dua dekade berkiprah INPP memiliki 6 area komersial dengan total 36,6 ribu meter persegi, memiliki 13 hotel dengan 8 brand, total kamarnya sekitar 2,300 unit serta 4 residensial dengan total 2,201 unit.

Penyebaran portofolionya terdiri dari hotel bisnis bintang 2 hingga bintang 5 tersebar di Jakarta, Bali, Batam, dan Yogyakarta. Sedangkan untuk portofolio shopping center premium dengan konsep gaya hidup modern berlokasi di Jakarta, Bandung, dan Bali.

Beberapa portofolio untuk proyek komersial, INPP seperti Plaza Indonesia, ThePlaza, fX Sudirman, Beachwalk Shopping Center, 23 Paskal Shopping Center dan Park23. Sedangkan hotel, memiliki 13 hotel dengan 8 brand, yaitu Grand Hyatt Jakarta, Sheraton Bali Kuta Resort, Hyatt Place, Aloft Hotel, Maison Aurelia, Sanur Bali, Harris Hotel, Yello Hotel dan Pop hotel.

Untuk proyek residensial, INPP memiliki Keraton At The Plaza, fX Sudirman, One Residence, 31 Sudirman Suites, Residence Beachwalk dan Antasari Place. “Saat ini dengan portofolio 13 hotel, 6 komersial, dan 4 residensial membawa INPP menjadi property listed company dengan porsi recurring income terbesar di Indonesia,” tutur Anthony.

Diakui Anthony sejak 2002-2017, lini bisnis INPP 100 persen pendapatannya mengandalkan recurring income. Tahun 2017 INPP mulai shifting dan evolusi untuk melengkapi produk yang dimiliki dan merambah segmen property sales.

Dari sinilah, INPP mulai memperkuat bisnisnya dengan memasuki segmen residensial (hunian), yang dimulai dari pembangunan One Residence – Batam. Hal inilah yang menjadi proyeksi utama pengembangan bisnis INPP untuk tahun-tahun mendatang.

Selain itu, INPP juga membangun 31 Sudirman Suites di Makassar, 31 di atas lahan seluas 3,949 m2, dan hanya menawarkan 231 private residences yang ditawarkan dengan harga Rp 2,5 miliar-Rp 5 miliar. Proyek ini diluncurkan pada Mei 2019, 31 Sudirman Suites selalu memastikan pembangunan konstruksi dapat tetap berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan sudah bisa serah terima kepada konsumen sekitar September-Desember tahun ini.

Menurut Reagen Halim Chief Project Marketing INPP, dalam pembangunan 31 Sudirman Suites terjadi pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap bisnis properti di Indonesia. Saat itu, ketika semua developer pada berdiam diri, di Makassar INPP satu-satunya developer yang gencar cara melakukan aktivitas marketing. “Kami terus beraktivitas, sehingga ketika developer lain lagi istirahat, INPP sudah berlari. Begitu juga ketika developer lain berlari kami sudah menyelesaikan pembangunan dan melakukan serah terima,” katanya.

Hasilnya, saat Pandemi Covid 19, tahun 2021 penjualan unit 31 Sudirman Suites sdh recovery 75%-80%. Intinya INPP harus bergerak terus dengan memberi kemudahan pembayaran misalnya dengan memberikan cara bayar yang spesial, dan melakukan event bellow the line. “Untuk proyek di Makassar, kami lebih banyak melakukan personal touch,” katanya.

Anthony menuturkan harus diakui Pademi Covid-19 menjadi tantangan terberat sejarah industri perhotelan dan pusat perbelanjaan, jauh lebih panjang dan menyakitkan. “Tidak sedikit dari bisnis INPP yang berdampak, tapi dari sisi bisnis recurring income pusat perbelanjaan cukup kuat. Itu yang membuat INPP bisa bertahan di tengah pandemi karena uang sewa terus berjalan, meskipun diberikan diskon tapi service charge tetap berjalan,” kata Anthony kepada SWA.

Di bisnis hotel pun dampaknya sangat terasa.
INPP harus melakukan kerjasama antara karyawan, brand dan owner untuk mencapai kesepakatan bagaimana harus survive bersama. “Ini perjalanan dan pembelajaran, petualangan karir yang tidak kalah dramatis dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Anthony.

Sepanjang tahun 2021 kontribusi recurring income masih mendominasi pendapatan INPP, hal ini justru dijadikan momentum untuk mempersiapkan proyek untuk meningkatkan development income melalui kinerja property sales. Oleh karenanya, INPP memacu pengembangan Sahid Kuta Lifestyle Resort 2 di Bali, One Residence di Batam, apartemen 31 Sudirman Suites di Makassar, serta mengambil alih proyek apartemen 45 Antasari.

Chief Financial Officer (CFO) INPP Surina menambahkan akhir tahun ini kontribusi sektor komersial dan property sales masing-masing sekitar 35%, sisanya dari hospitality. Alasanya, sekitar September hingga Desember untuk poyek 31 Sudirman Suites di Makassar baru serah terima unit. Pasar cukup support, sehingga pecapaian tahun ini bisa menyamai seperti tahun 2019. “Tahun ini kami bisa tutup kinerja dengan angka positif,” tutur Surina.

Hal ini dibuktikan, hingga kuartal III 2022, INPP, berhasil membukukan laba bersih Rp1,52 miliar, padahal periode yang sama tahun sebelumnya, INPP merugi sekitar Rp48,37 miliar.

Dari sisi pendapatan INPP juga naik 88,37% menjadi Rp540,56 miliar, dari sebelumnya sebesar Rp286,95 miliar. Adapun, pendapatan segmen komersial tercatat sebesar Rp280,40 miliar, naik dari sebelumnya sebesar Rp165,94 miliar. Sedangkan dari segmen perhotelan mencatatkan pendapatan sebesar Rp198,90 miliar. Secara rinci, pendapatan kamar sebesar Rp144,49 miliar, makanan dan minuman mencatatkan pendapatan sebesar Rp46,26 miliar, dan pendapatan lainnya sebesar Rp8,13 miliar.

Pendapatan dari penjualan properti tercatat sebesar Rp55,74 miliar, dan pendapatan segmen manajemen properti dan lainnya tercatat sebesar Rp5,78 miliar. Hingga September 2022, total nilai aset perseroan tercatat sebesar Rp8,94 triliun, naik dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp8,74 triliun. Liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp3,21 triliun dan ekuitas sebesar Rp5,72 triliun.

INPP menilai tahun ini akan menjadi momentum kebangkitan kembali atau rebound secara perlahan. Penerapan kemudahan dalam akses kepemilikan properti diperkirakan masih menjadi penggerak utama dalam memberikan optimisme bagi pasar properti.
“Kami sudah membuktikan bahwa INPP mampu bertahan dan tetap membangun di tengah pandemi,” kata Anthony.

Kinerja perusahaan yang terdampak pandemi ini masih bisa diperbaiki dengan capaian kinerja yang terus meningkat dan hal itu tidak terlepas dari penerapan strategi maupun kebijakan bisnis yang tepat. INPP terus beradaptasi untuk maju dengan menerapkan berbagai strategi dan kebijakan agar tetap bisa tumbuh dan terus membangun.

Diakui Anthony, untuk bisa bertahan di saat pademi Covid-19, strategi yang dijalankan INPP, dengan mengatur cost dan cashflow supaya tetap terjaga di tengah situasi sulit. Selain itu, pendanaan juga dijaga supaya tetap memiliki cash balance yang sehat serta profitability yang terjaga. “Inilah yang membuat INPP di tengah situasi pandemi masih cukup agresif dan ekspansif sebagai bagian dari persiapan untuk pertumbuhan yang lebih besar dan cepat,” katanya.

INPP terus beradaptasi dengan menerapkan berbagai strategi dan kebijakan agar tetap bisa tumbuh dan terus membangun. Menurut Agoes Soelistyo Santoso, Cofounder & Commissioner INPP, Perseroan pun melakukan transformasi kepemimpinan di dalam perusahaan untuk terus melanjutkan estafet pembangunan perusahaan. Untuk posisi CEO mulai dari Boyke Gozali, Agoes Soelistyo Santoso dan kini dipegang Anthony Prabowo Susilo sejak tahun 2016.

Diakui Anthony, selain melakukan transformasi manajemen pihaknya juga melakukan transformasi bisnis. Dalam transformasi manajemen misalnya ia memberi kesempatan kepada tim yang masih muda dan fresh untuk mulai menempati posisi stategis, sedangkan tim senior bertugas membimbing dan memberikan masukan, agar dimasa transisi kinerja perusahaan dan sendi-sendi perusahaaan berjalan sesuai harapan.

Sedangkan transformasi bisnis sudah dilakukan INPP dalam 5 tahun terakhir. BIla sebelumnya 100 pendapatannya mengandalkan recurring income, sejak tahun 2017 mulai berevolusi untuk melengkapi produknya yang dimiliki masuk ke segmen property sale yang dipimpin Reagen Halim.

Untuk mendongkrak pendapatan dari property sale tahun depan INPP akan menggarap 6 proyek seperti 23 Paskal Extension, Antasari Place, proyek mixed use development Semarang, Hyatt Place Makassar, Sahid Kuta Lifestyle Resort, dan landed residential dan komersial Balikpapan. Enam proyek ini merupakan upaya INPP menambah portofolio yang akan menjadi recurring income dan development income.

Ke depannya INPP akan terus mengembangkan tempat-tempat gaya hidup yang ikonik serta memperluas keahlian bisnis di bidang properti untuk menjadi salah satu perusahaan properti terdepan di Indonesia untuk terus membangun negeri.

Terbaru