Inilah 5 Resolusi Finansial Utama yang Bisa Dicapai Ibu Pekerja

20 Dec 2022, 09:31 WIB
Foto Hari Ibu (Foto: Wagely)

Perekonomian Indonesia terus tumbuh, menciptakan peluang yang lebih banyak dan lebih baik bagi perempuan di tempat kerja. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan sebesar 53,41% pada Agustus 2022. Kendati berperan penting di tempat kerja, laporan yang sama menunjukkan buruh perempuan masih berpenghasilan lebih rendah, dengan rata-rata upah Rp2,59 juta dibandingkan laki-laki Rp3,33 juta. Banyak dari mereka adalah ibu yang bekerja dan ibu tunggal yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.

Tobias Fischer, CEO Wagely mengungkapkan, selama setahun terakhir, pihaknya melihat bagaimana ibu pekerja berpenghasilan rendah hingga menengah menggunakan platform kami untuk meringankan beban finansial yang timbul dari masa tunggu di antara hari gajian. Kemampuan menarik sebagian gaji yang sudah diperoleh melalui Wagely membantu mereka membayar pendidikan anak tepat waktu, membeli sembako, dan menutupi pengeluaran tak terduga.

“Dengan semakin meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian, perusahaan perlu hadir menyediakan benefit finansial yang bermakna dan berdampak yang layak diperoleh setiap ibu pekerja,” ujarnya dikutip dalam keterangan tertulis (19/12/2022).

Selain menyambut tahun baru, bulan ini kita juga hendak merayakan Hari Ibu setiap 22 Desember. Meski ibu pekerja luar biasa dalam menangani banyak peran dan tanggung jawab yang berbeda, momen ini adalah kesempatan untuk belajar dari masa lalu dan melihat ke masa depan. Tentunya, sebagian target yang ingin dicapai berkaitan dengan kesejahteraan finansial. Dalam semangat menyambut Hari Ibu, mari simak beberapa resolusi finansial yang dapat dibuat oleh ibu pekerja untuk memulai awal tahun yang baru.  

1. Tinjau pengeluaran tahun lalu dan atur bujet untuk tahun yang baru

Bagaimana bisa merencanakan masa depan jika tidak memahami situasi kamu hari ini? Coba lihat kembali kebiasaan belanja selama setahun terakhir. Apakah kita mendapat kenaikan gaji? Kedatangan anggota baru di keluarga atau anak baru masuk sekolah? Adakah pengeluaran signifikan tahun ini? Periksa mutasi rekening atau catatan transaksi keuangan kamu, dan tentukan apa yang ingin kamu lakukan dengan lebih baik di tahun depan. 

2. Lepaskan diri dari lingkaran utang

Utang bisa menjadi hambatan yang signifikan untuk mencapai resolusi finansial. Menurut OJK, total pinjaman online perseorangan yang tidak lancar dan macet mencapai Rp4,54 triliun per Oktober 2022. Sebanyak Rp2,23 triliun dari total tersebut berasal dari pinjaman perempuan. Perhatikan anggaran kamu dan sisihkan lebih untuk secepatnya melunasi utang yang ada. Jangan biarkan denda keterlambatan pembayaran dan bunga utang semakin menumpuk.

Dalam dua tahun terakhir, banyak perusahaan memberikan Wagely sebagai benefit karyawan. Melalui aplikasi earned wage access ini, karyawan dapat melihat berapa banyak gaji yang sudah mereka peroleh hingga hari itu dan bisa menarik sebagian yang diperlukan sebelum hari gajian. Cara ini membantu karyawan menghindari kebiasaan meminjam dari pinjol ilegal yang tidak bertanggung jawab. Survei Kesehatan Finansial kepada lebih dari 3.500 karyawan pengguna wagely menunjukkan, 29,15% karyawan bebas dari utang dan 53,33% memiliki sedikit utang. Hanya 3,41% dengan utang yang terlalu banyak. 

3. Mulailah menabung untuk keadaan darurat

Akhir-akhir ini banyak berita memilukan mengenai PHK massal. Menyiapkan dana darurat penting untuk dilakukan sekalipun kita merasa posisi pekerjaan tidak berisiko.

4. Tingkatkan literasi keuangan

Laporan terbaru dari OJK menunjukkan, untuk pertama kalinya, indeks literasi keuangan perempuan lebih tinggi yakni sebesar 50,33% dibandingkan laki-laki 49,05%.

5. Waspadai inflasi gaya hidup

Berapa pun gaji yang kita dapatkan tidak akan berarti apabila kita terus menghabiskannya untuk meningkatkan gaya hidup. Tentu, tidak ada salahnya memanjakan diri setelah mendapat kenaikan gaji atau bonus. Namun, jika tidak terkendali, kita dapat terjerumus dalam  fenomena ‘inflasi gaya hidup’. Ingatlah untuk selalu fokus pada tujuan finansial kita. Hidup di bawah kemampuan bukan berarti mengorbankan kualitas hidup. Ini adalah salah satu cara terbaik untuk mempersiapkan diri menuju kebebasan finansial di masa depan. 

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id