Kisah Asep Bangkit dari Keterpurukan dengan Menjadi Pembuat Kendang

17 Des 2022, 11:35 WIB
Asep Bucrak Kurnia warga Kota Bandung bangkit dengan menjadi pembuat kendang usai terkena PHK. (Dok Pemkot Bandung)

Asep Bucrak Kurnia, warga Pasir Impun, Kota Bandung bangkit dari keterpurukan dengan menjadi pembuat kendang (gendang). Jalan ini ia tempuh karena sebelumnya kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Bermodalkan alat sederhana, Asep menyulap gelondongan-gelondongan kayu menjadi sebuah alat musik pukul yang biasa digunakan untuk mengiringi pagelaran Sunda seperti Jaipong, Wayang Golek, dan Pencak Silat. Sebelumnya Asep hanya menjadi tukang reparasi kendang. 

“Berawal dari di-PHK dari pabrik, ditambah bapak seorang seniman terompet Sunda. Awalnya saya juga servis kendang saja, lama-kelamaan saya bikin kendang sendiri,” ujar Asep dikutip dari Humas Kota Bandung (17/12/2022). 

Usaha membuat kendang sudah Asep geluti sejak tahun 2007 dan melakukan semuanya seorang diri. Mulai dari mencari kayu, memotong bentuk, membuat pola, hingga menentukan jenis kendang apa yang akan dibuat, dirakit dengan teliti. 

Asep menggunakan kayu nangka lokal Jawa Barat dan menggunakan kulit kerbau sebagai bahan dasar pembuatan kendang. “Kolaborasi kayu pohon nangka dan kulit kerbau menghasilkan suara jauh lebih bagus,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, usaha kendangnya semakin maju, kini ia dibantu satu orang pekerja. Dalam sebulan, Asep mampu memproduksi 3 sampai 4 set kendang.  Setiap set kendang terdiri dari 2 indung (kendang berukuran besar) serta 4 kulanter (kendang berukuran kecil) untuk pencak silat dan untuk jaipong 1 indung serta 2 kulanter. “Satu set itu selesai dalam waktu 7 sampai 10 hari,” ujarnya.

Karya-karya kendangnya banyak diminati oleh kalangan musisi gamelan Sunda, rombongan pemusik wayang Golek, dan para pelestari tradisi di Jawa Barat lainnya. Kendang buatan Asep sudah terjual ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan kendang buatannya sudah merambah pasar internasional. “Produk kami sudah sampai ke Belanda dan Perancis untuk penjualannya. Ada yang pesan untuk dibawa ke sana,” katanya.

Setiap set gendang dijual mulai dari harga Rp3 juta hingga Rp5 juta. Bahkan kendangnya sempat terjual Rp20 juta per set. “Itu ada pesanan buat ke luar negeri, tembus Rp20 juta per set,” ujarnya.

Asep berharap semakin banyak perajin kendang yang berkembang dan generasi muda banyak yang gemar terhadap kesenian daerah. Ini sebagai upaya meningkatkan kecintaan terhadap budaya Sunda. “Saya berharap generasi muda banyak yang suka kesenian daerah demi kemajuan budaya Sunda,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id