Presiden Minta Tiga Hal Ini Diperhatikan Hadapi Gejolak Ekonomi

01 Dec 2022, 16:30 WIB
Presiden Jokowi saat memberikan arahan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022, Rabu (30/11/2022). Presiden minta tiga hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi gejolakekonomi global. (Foto: Dok BI)

Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) tahun 2022 di Jakarta Convention Center, Rabu (30/11/2022) Presiden RI Jokowi mengingatkan tiga hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi gejolak kondisi ekonomi global. Meskipun BI memprediksi ekonomi Indonesia tahun 2023 tumbuh hingga 5,3 persen, namun Presiden mengingatkan harus tetap waspada. 

Hal pertama yang harus menjadi perhatian adalah soal ekspor. Presiden menyampaikan, nilai ekspor Indonesia dibandingkan tahun lalu dan sekarang melompat sangat tinggi. Namun dapat mengalami penurunan di tahun mendatang karena terdampak situasi perekonomian di sejumlah mitra dagang Indonesia, seperti Tiongkok dan Uni Eropa.

“Problem di Tiongkok yang belum selesai sehingga ekonomi mereka juga turun karena policy nol COVID-19. Kemudian di Uni Eropa juga sama. Pelemahan ekonomi pasti, resesinya kapan, tinggal ditunggu saja, kita tunggu saja tapi pelemahan ekonomi pasti. Di Amerika juga sama, Fed Funds Rate terus naik. Artinya, itu mengerem pertumbuhan, artinya ekonominya pasti akan melemah. Ekspor kita ke sana juga gede banget, ekspor kita ke Tiongkok itu gede banget, ke Uni Eropa juga gede. Oleh sebab itu, hati-hati,” ujar Presiden dalam arahannya yang disiarkan langsung via Youtube BI, Rabu (30/11/2022).

Hal kedua yang harus diperhatikan dalam menghadapi gejolak ekonomi global adalah investasi. Presiden menilai, upaya reformasi struktural yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia mendorong timbulnya kepercayaan dari para investor. Hal ini, harus diikuti oleh implementasi yang benar di lapangan.

“Dilihat bahwa kita memang ingin membangun sebuah cara-cara kerja baru, kita ingin membangun sebuah mindset baru, itulah yang menimbulkan trust dan kepercayaan terhadap kita. Tapi hati-hati, masih perlu policy-policy yang kita reform, dan perlu pelaksanaan di lapangan yang benar,” ujar Presiden Jokowi.

Di tahun 2023 pemerintah menargetkan investasi sebesar Rp1.400 triliun atau meningkat dari tahun 2021 yang sebesar Rp900 triliun dan tahun 2022 sebesar Rp1.200 triliun. Meski tidak mudah karena semua negara berebut investasi, Presiden Jokowi meyakini pemerataan pembangunan yang dilakukan di seluruh Tanah Air akan mampu menarik minat para investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Presiden menambahkan, pemerataan pembangunan juga berdampak besar pada peningkatan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru sekaligus investasi di luar Jawa, seperti di kawasan pariwisata Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Morowali di Sulawesi Tengah.

“Tadi saya mendapatkan laporan bahwa sekarang investasi di luar Jawa itu sudah lebih besar dari Pulau Jawa. Dulu biasanya angkanya 70:30, Jawa 70, luar Jawa 30, sekarang luar Jawa sudah 53 persen, luar Jawa sudah 53 persen. Inilah menurut saya keberhasilan membangun infrastruktur yang diikuti menumbuhkan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru dan diikuti oleh investasi yang menuju ke luar Jawa,” tuturnya.

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah pentingnya menjaga konsumsi rumah tangga yang sangat berdampak pada produk domestik bruto (PDB) nasional. “Hati-hati mengenai pasokan pangan, hati-hati mengenai pasokan energi, yang harus betul-betul kita jaga agar konsumsi rumah tangga ini tetap tumbuh dengan baik, sehingga growth kita akan sesuai dengan target yang telah kita buat,” katanya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id