Ekonomi Lesu, Unilever Tetap Beri Bonus

PT Unilever Indonesia tidak memangkas gaji dan tetap membagikan bonus bagi karyawan meski ekonomi tengah lesu. Unilever menerapkan kebijakan jangka panjang (long term review), baik dalam perencanaan bisnis, produk, infrastruktur, pemasaran, maupun SDM.

Direktur SDM Unilever Willy Saelan mengatakan, Unilever tak pernah melihat dan menerapkan kebijakan atau perencanaan jangka pendek. Pun dengan SDM, pada April tahun ini, Unilever telah memberikan bonus dan kenaikan gaji pada karyawannya, terutama untuk bagian manajemen, untuk nonmanajemen tergantung pada perjanjian kerja bersama.

“Tak ada pemangkasan variabel bonus atau gaji di Unilever tahun ini, di level manapun, karena semua berdasarkan survei gaji tahun sebelumnya, skim-nya sudah pasti. Dan juga perusahaan menerapkan target pencapaian setahun, bukan bulanan," kata dia.

Meski kondisi ekonomi 2015 lesu, hasil survei gaji 2014 menunjukan pada posisi tertentu kenaikan gaji tahun ini harus tinggi, maka Unilever pun menjalankan survei tersebut.

Demikian juga untuk tahun depan, Unilever akan memberikan peningkatan gaji dan bonus berdasarkan survei gaji yang baru dimulai September 2015 dan hasilnya akan keluar pada akhir tahun. Berdasarkan survei itu, akan dialokasikan anggaran untuk tahun depan.

"Survei gaji dipengaruhi banyak hal, di antaranya knemampuan perusahaan. Kalau ekonomi tahun ini kurang bergairah, mungkin akan mempengaruhi salary increase April atau bonus tahunan di Maret tahun depan,” katanya.

Willy Saelan (kiri) (Foto: IST) Willy Saelan (kiri) (Foto: IST)

Dalam skema pemberian bonus, kata Willy yang baru kembali ke Indonesia setelah beberapa tahun menjadi Acting Director HR Unilever untuk Australia dan New Zeland tersebut, Unilever juga melihat kondisi pasar.

Artinya, kinerja kompetitor juga menjadi pertimbangan. Misalnya, penurunan pertumbuhan kinerja kompetitor sampai 50%, sedangkan Unilever hanya 10% atau kondisi Unilever jauh lebih kompetitif. Sejak dulu Unilever tidak menerapkan sign up bonus.

Menurut dia, Unilever tidak pernah menjadi penggaji paling tinggi dibanding kompetitor, tapi memiliki benefit lain yang tidak bisa dibanding kompetitor meski bukan dalam bentuk uang.

Dalam hal talent war, kata dia, anehnya attraction SDM Unilever ke perusahaan lain untuk pos HR dan marketing dalam kondisi sulit seperti ini justru lebih tinggi dari keadaan biasa.

Perusahaan lain baik yang industrinya sama maupun berbeda, sangat gencar membajak level-level manajer senior Unilever. Mungkin mereka berpikir lebih baik me-lay off lima orang, diganti dengan dua orang Unilever yang kualitasnya lebih tinggi.

"Tentu, Unilever terancam. Tapi, kami membuat karyawan makin nempel dengan melakukan empower line manager. Mereka paling tahu radar agar para talent bisa terjaga keterlekatannya. Kami beri career development dan career conversions yang tepat daripada sekadar memberi uang,” ujarnya.

Untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan kedewasaan dari line manager untuk selalu terbuka dalam melakukan career conversions, kebutuhan karyawan yang lebih pribadi yang diselaraskan dengan kondisi perusahaan.

Misal, ada karyawan betul-betul tidak bisa pindah ke luar kota karena anaknya membutuhkan fasilitas atau kebutuhan khusus untuk kesehatannya. Karyawan itu bisa pindah ke kota lain asalkan kota itu bisa memenuhi kebutuhan khusus anaknya itu. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)