Rahasia Sensodyne Merajai Industri Pasta Gigi

Dwitya Ratna Pramesi (kedua dari kiri) bersama para narasumber lain saat membuka acara Sensodyne Sencosiety di Jakarta. (Foto: Syukron Ali/SWA) Dwitya Ratna Pramesi (kedua dari kiri) bersama para narasumber lain saat membuka acara Sensodyne Sencosiety di Jakarta. (Foto: Syukron Ali/SWA)

Glaxo Smith Kline (GSK) Oral Healthcare yang membawahi merek Sensodyne kian melaju pertumbuhan bisnisnya. Data dari Nielson Retail Index menyebutkan selama kurun waktu 12 bulan hingga Januari 2016, Sensodyne menjadi merek nomor satu penjualan terbanyak untuk varian gigi sensitif pada kategori pasta gigi di Indonesia.

Bahkan, sejak tahun lalu hingga sekarang, market share Sensodyne tiga kali lebih cepat dari pertumbuhan bisnis pasta gigi pada umumnya. Padahal, harga pasta gigi Sensodyne lebih mahal dari pasta gigi pada umumnya. Mengapa bisa merajai?

Dwitya Ratna Pramesi, Brand Activation Manager Oral Health Consumer Healthcare, menjelaskan, pertumbuhan bisnis Sensodyne in line dengan jumlah pemilik gigi sensitif yang ada di Indonesia. Data dari Ipsos tahun 2014 menemukan sebanyak 34% dari populasi penduduk Indonesia menderita gigi sensitif atau mudah ngilu.

Melihat data tersebut, Sensodyne terus mengampanyekan hidup sehat anti gigi ngilu di berbagai kesempatan. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan konsumen akan kualitas produknya. Sensodyne menggandeng berbagai pihak baik komunitas, blogger, publik figur hingga dokter spesialis gigi.

"Sebanyak 10.700 dokter gigi telah bergabung bersama kami untuk mensosialisasikan program edukasi sehat dari kami," jelas Dwitya pada SWA Online saat pembukaan Sensodyne Sensociety Winter Meets Summer Festival di Jakarta, Sabtu (7/5).

Rupanya program below the line (BTL) Sensodyne lewat festival tersebut telah berjalan setiap minggu sejak dua tahun yang lalu. Sasarannya setiap lokasi yang mendatangkan banyak massa, baik itu mall, kampus, perkantoran, car free day dan foodcourt. Total lokasi perhelatan sebanyak 100 titik di Jabodetabek.

Masa yang dihimpun pun cukup signifikan mulai dari 500 hingga 2.000 orang setiap perhelatan acara. Hingga kini, ada 25.000 orang telah berhasil dihimpun sejak bulan Januari hingga April 2016.

Tya, begitu ia disapa sangat bangga dan senang dengan pencapaian tersebut. Ia mengaku dukungan ide promosi yang ia dan tim garap sangat didukung oleh manajemen. Sebanyak 10-15% dari pendapatan perusahaan digunakan untuk branding Sensodyne lewat berbagai media baik digital maupun konvensional.

"Di ranah digital kami menggandeng banyak pihak. Ada Google, blogger, kaskuser dan lainnya. Di media cetak kami juga menggandeng berbagai majalah," lanjut Tya.

Seolah tidak ingin hilang kesempatan, semua ranah, Tya menjajaki untuk branding Sensodyne. Iklan di televisi, siaran radio di 6 kota, billbourd hingga penambahan jaringan distribusi terus diperkuat. Hasilnya, klaim Tya sejak dua tahun terakhir pertumbuhan bisnis pasta gigi Sensodyne terus menanjak double digit.

Berada di puncak dan merajai industri pasta gigi sensitif. Tidak menjadikan GSK puas, dua produk lainnya, sikat gigi dan mouthwash yang baru diluncurkan pada Oktober 2015 lalu siap untuk digenjot penjualannya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)