Sharing Economy Berakar pada Budaya Gotong Royong

Aplikasi ojek dan taksi online belum bisa sepenuhnya diterima pengusaha angkutan konvensional. Alasannya beragam, mulai dari yang tidak membayar pajak hingga tingkat keamanannya yang masih diragukan. Konon, katanya model bisnis baru ini, yakni sharing economy masih berdarah-darah. Pertanyaannya, apakah bakal langgeng?

“Iya, Uber masih rugi miliaran dolar AS. Coba tebak, Amazon rugi berapa di lima tahun pertama? Itu model bisnis zaman sekarang. Mereka membuat platform. Tentu perlu investasi besar,” kata Rhenald Kasali, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia.

Menurut dia, model bisnis sharing economy tengah berevolusi menggantikan model bisnis owning economy. Dengan model bisnis baru ini, operasional akan lebih efisien. Aset yang semula menganggur bisa dimanfaatkan dengan optimal. Sebenarnya, konsep sharing economy sudah mulai ada beberapa tahun lalu.

Pakar Manajemen Pemasaran, Rhenald Kasali Pakar Manajemen Pemasaran, Rhenald Kasali

Itu terlihat dari munculnya komunitas Nebengers.com. Pemilik mobil menawarkan jasa mengantar orang lain ke kantor mereka karena searah. Misalnya, dari wilayah Serpong, Tangerang Selatan ke Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Mereka yang nebeng alias menumpang biasanya ikut menyumbang sekadar untuk membeli bensin dan biaya tol.

“Orang ikut sama saya, dari Cibubur ke Thamrin, misalnya secara sukarela membayar sejumlah uang. Tidak mungkin sosial itu dilakukan tanpa benefit. Hanya saja, benefitnya bermacam-macam. Yang jelas, komunitas itu perlu dibiayai,” katanya.

Dengan dukungan teknologi, lanjut dia, konsep bisnis sharing economy mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif. Mulai dari analisis big data, analisis heat map. Orang dengan sumber daya yang dimiliki hanya tinggal diam di tempat menanti panggilan. Tanpa big data, sumber daya perusahaan lebih banyak yang menganggur.

“Kalau taksi konvensional harus keliling-keliling. Itu buang-buang bensin dan waktu. Itu tidak efisien untuk dapat penumpang. Data real time, nanti driver akan diarahkan ke lokasi yang tinggi permintaan,” katanya.

Ojek dan taksi online sepert Go-Jek, Grab, serta Uber menerapkan model bisnis sharing economy. Kehadiran mereka sempat mendapat protes keras dari para pengusaha angkutan taksi konvensional. Alasannya, permintaan taksi merosot tajam seiring kehadiran ojek aplikasi. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)