Subsidi Pangan Melimpah, Bukti Dukungan Kuat Pemerintah

Pemerintah mencanangkan target swasembada pangan selama 3-4 tahun ke depan. Target tersebut hanya bisa tercapai dengan dukungan pembiayaan dari perbankan dan dukungan para pengusaha di sektor pangan.

Perbankan pun meminta pemerintah turut memberi bantuan terutama subsidi untuk mempermudah penyaluran kredit untuk petani dan nelayan. Selama ini, bank memang cenderung menghindari eksposur kredit ke sektor pertanian dan perikanan dengan dalih tingginya risiko macet.

Franky O. Widjaja Franky O. Widjaja

Namun, pemerintah tidak tinggal diam. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, pemerintah telah menyediakan anggaran untuk subsidi untuk golongan rakyat miskin, termasuk diantaranya petani dan nelayan.

Bentuknya pun bermacam-macam, ada subsidi bunga untuk kredit lunak, Kredit Usaha Rakyat, subsidi pupuk, benih, hingga beras. Jumlahnya total Rp55,6 triliun. Untuk tahun ini, angkanya bahkan mengalahkan nilai subsidi BBM yang hanya Rp42 triliun. Salah satu pemicunya adalah turunnya harga minyak mentah dunia.

Dari total anggaran subsidi pangan atau pertanian yang sebesar Rp 55,6 triliun tersebut terdiri dari Rp18,9 triliun untuk pangan, Rp 35,7 triliun untuk pupuk, dan Rp9 triliun untuk benih.Ini adalah kabar bagus untuk para pengusaha dan juga perbankan. Presiden Komisaris PT SMART Tbk Franky O Widjaja menilai anggaran sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong kenaikan produksi pangan dan mencapai target swasembada pangan untuk beberapa komoditas strategis seperti beras, gula, jagung, dan kedelai."Besaran subsidi yang terkait dengan pangan Rp 55,6 triliun sebenarnya sudah lebih besar dari subsidi BBM 2015. Untuk pertama kali akhirnya subsidi pangan bisa mengalahkan subsidi BBM," katanya.

“Hanya saja, ada gap antara dana yang tersedia dengan calon penerimanya yakni para petani dan nelayan. Untuk itulah pemerintah memberi jalan seperti pembangunan infrastruktur di sektor pertanian dan perikanan. Subsidi bunga juga akan lebih berguna jika ada produk atau model pembiayaan yang tepat untuk para petani dan nelayan,” ia menambahkan.

Dirut Cargill Indonesia Jean Louis Guillou menambahkan, Indonesia harus mencontoh Brasil yang kini menjadi negara produsen kedelai terbesar di dunia, mengalahkan Amerika Serikat sejak akhir 2013 lalu. Ekspor produk pertanian di negara tropis mirip Indonesia itu mulai tumbuh pesat sejak tahun 2000.

Sejak awal 1980, pemerintah Brasil semula menerapkan mekanisme subsidi pupuk, benih, dan lainnya untuk para petaninya. Namun, program itu tak berjalan. Sejak itu, mereka berbenah dan memutuskan mengurangi subsidi dan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur jalan, irigasi, dan yang terpenting adalah untuk riset dan pengembangan teknologi.

Subsidi pertanian mereka kini hanya sekitar 8%, lebih rendah dari Amerika Serikat yakni belasan persen, dan Uni Eropa 29%. Yang juga tak kalah penting, pemerintah dan para pengusahanya menjadi penjamin pasar untuk produk pertanian. Dengan begitu, harga jual bagus dan berimplikasi pada kenaikan pendapatan dan kesejahteraan petani.

“Jadi, kolaborasi pemerintah dan pengusaha. Pemerintah bangun infrastruktur, pengusaha ikut membantu memberi pendampingan. Produktivitas petani pun terangkat dan pembiayaan jadi lebih mudah didapatkan. Bank tak ragu lagi mengucurkan kredit,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)