Transformasi BSM Berhasil Cetak Laba Tiga Kali Lipat

Ada yang menarik dari laporan tahunan Bank Syariah Mandiri (BSM) tahun 2016. Bank syariah yang sudah masuk buku 3 itu, mencatat pertumbuhan laba operasionalnya 60 % YoY, sedangkan pertumbuhan asetnya 13,7% YoY dan pertumbuhan pembiayaannya 10% YoY.

Lazimnya pertumbuhan laba operasional selalu seiring dengan pertumbuhan aset, tetapi yang terjadi di BSM, pertumbuhan laba operasinal bisa tiga kali lipat dibanding pertumbuhan aset. Apa sebenarnya yang terjadi ? “Memang kunci utamanya ada di revenue, ini ada kaitannya dengan strategi bisnis kami yang baru,” jelas Ade Cahyo Nugroho, Direktur BSM.

Ada tiga pilar strategi bisnis BSM yang mulai dijalankan dalam dua tahun terakhir. Pertama, pemilihan segmen pembiayaan. Ade mengaku, pihaknya melakukan evaluasi kembali profitabilitas per segmen. “Jadi kami ukurnya detail yakni profitabilitas per produk di dalam setiap segmen pembiayaan yang ada dalam portofolio kami,” jelasnya. Dari hasil evaluasi itu diperoleh gambaran produk mana saja yang kontribusinya paling bagus, itulah yang kemudian mendapat perhatian utama untuk digarap. “Kami pilih segmen yang paling sehat, paling kontributif dan paling signifikan," dia menambahkan.

Untuk menjalankan strategi tersebut, Ade menjelaskan, mereka melakukan dengan kawalan ketat, bukan hanya data bisnisnya tetapi juga risikonya. BSM secara ketat mengawal potensi risiko, terutama mengawal kehadiran fintech, dan lainnya. Inilah yang membuat pertumbuhan laba bisa lebih cepat dari pada pertumbuhan asetnya.

Strategi berikutnya adalah pengelolaan biaya. Pada tiga tahun yang lalu, anak usaha Bank Mandiri ini mendapat tugas rumah dalam aplikasi good corporate governance (GCG)nya. Tugas rumahnya adalah membenahi produktivitas dan overhead cost. “Waktu itu kami punya orang memang terlalu banyak kalau dibandingkan dengan aset dan produktivitasnya rendah,” jelas Ade.

Nah, langkah kedua yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba operasionalnya adalah sampai tahun 2017 BSM melakukan efisiensi besar-besaran dengan menutup 100 cabang dan efisiensi jumlah tenaga kerja. Sehingga, pertumbuhan biaya kami praktis saat ini single digit.

“Dari semua langkah itu , menghasilkan revenue sangat baik, disisi lain biaya kami flat. Itulah yang paling berkontribusi paling signifikan,” ujar Ade. “Ke depan masih ada beberapa PR yang akan kami kerjakan, ruang untuk meningkatkan kinerja BSM masih terbuka,” dia menegaskan.

 

Editor: Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)