Upaya Kadin Memikat Investor Asing

Shinta W kamdani (kedua dari kiri) Shinta W kamdani (kedua dari kiri)

Gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia, menarik minat banyak investor asing. Menurut Shinta W. Kamdani, Wakil Ketua Umum Kadin, investor asing yang tertarik tidak hanya dari pemain besar, melainkan juga pemain midsize.

“Banyak investor yang tertarik di bidang infrastruktur terutama di listrik 35.000 megawatt, kebanyakan yang tertarik itu pemain midsize level karena pemerintah mau fokus di renewable energy," jelasnya.

Selain infrastruktur, juga gribsinis. Indonesia sudah memiliki agribisnis yang kuat,namun kurang di teknologi, sehingga investor asing yang masuk, diharapkan mampu membawa teknologi baru.

Terbukannya kemitraan yang terjalin antara pemain lokal dan asing seharusnya memberikan sesuatu yang menguntungkan bagi Indonesia, sehingga asing tidak hanya masuk dan bermain di sektor tersebut. Namun, kesiapan pengusaha lokal untuk bermitra dengan asing juga menjadi fokus utama mereka.

Mitra lokal yang ingin bermitra dengan asing harus kompeten. Oleh karena itu pihak Kadin akan melakukan proses seleksi. Mereka melakukan verifikasi dan mendata pengusaha lokal dan sektor-sektor mana saja yang sudah siap untuk bermitra dengan pihak luar. Stakeholders engagement juga ditingkatkan agar baik pengusaha asing maupun lokal sama-sama mengetahui keinginan mereka serta permasalahan dalam bermitra.

Ada beberapa hal yang menjadi fokus utama dalam proses kemitraan, misalnya proses sertifikasi halal di Indonesia juga sering dikeluhkan karena prosesnya yang kompleks, panjang, dan menambah biaya sehingga daya saing pengusaha menjadi berkurang, Mutual recognition agreement untuk produk halal juga seringkali tidak digunakan, sehingga banyak produk halal yang masuk ke Indonesia harus disertifikasi ulang.

Produk Indonesia sudah mendapatkan sertifikasi halal di luar negrei juga seharusnya tidak perlu mengurus sertifikasi halal dalam negei. Indonesia juga masih kekurangan dalam hal kapasitas data bisnis, seperti statistik dan analisis pasar, sehingga ia berharap ke depannya model ini bisa dikembangkan dan dilembagakan.

Hal ini bukan berarti kekurangan tersebut menjadi hambatan dalam melakukan kemitraan dengan luar negri. Indonesia baru saja menandatangani beberapa MoU dengan asing seperti Kadin Jawa Timur dengan British Chamber of Commerce dan Kadin Sumatera Utara dengan IHK Tiers Germany.

Selain itu Indonesia dan Australia juga sudah memasuki tahap negosiasi melalui diplomasi Indonesia-Australia CEPA. Perundingan Indonesia dengan EFTA (negara-negara non Uni Eropa seperti Swiss dan Norwegia) juga sudah memsuki periode ke 9 dan diprediksi selesai pada awal tahun depan. Sementara negosiasi dengan Uni Eropa melalui Indonesia –European Union CEPA baru saja selesai scooping dengan pemerintah.

Selanjutnya, pengusaha lokal juga diharapkan untuk lebih berfokus pada pasar baru seperti Australia dan Afrika. Selama ini Indonesia  juga mengandalkan market tradisional seperti kelapa sawit, tembakau, batu bara, dll. Namun kini batu bara Indonesia sudah tidak bisa lagi masuk ke Eropa. Kini, sektor baru mulai dilirik seperti tekstil yang diharapkan bisa menembus pasar luar.

Menteri luar negeri juga mengharapkan agar lebih banyak pengusaha Indonesia  bisa berinvestasi di mancanegara.Salah satu upaya yang ditempuh dengan melakukan berbagai kerja sama dengan kamar dagang asing sehingga bisa mengidentifikasi pengusaha Indonesia yang mau berinvestasi diluar. Selain itu dilakukan juga berbagai upaya agar pengusaha lokal bisa mendapatkan kemudahan, insentif, spesifik prioritas, dll. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)