Jurus PNM Menyokong Pemulihan Ekonomi Nasional

Berhasil melampaui Grameen Bank dalam hal jumlah nasabah, PNM pun tercatat sebagai perusahaan penyalur pembiayaan berbasis kelompok mikro terbesar di dunia. Targetnya, pada 2022 menyalurkan pembiayaan kredit mikro Rp 55 triliun, naik dari Rp 49,45 triliun di 2021.
Apa strateginya untuk mencapai target ini?

Arief Mulyadi beberapa kali dihubungi langsung bahkan terundang Presiden Joko Widodo guna berdiskusi mengenai upaya PT Permodalan Nasional Madani (PNM) agar dapat membantu masyarakat prasejahtera dan pelaku usaha ultramikro di masa pandemi Covid-19 ini. Wabah virus corona yang melanda Indonesia sejak awal 2020 memang telah mengobrak-abrik sebagian besar sektor usaha. Pemerintah menggulirkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk meminimalkan dampak pandemi terhadap perekonomian. Salah satu sektor yang dibidik PEN adalah usaha ultramikro.

Arief, yang mengemban tugas sebagai Direktur Utama PNM sejak 2018, menargetkan jumlah nasabah ultramikro pada 2020 itu menjadi 6,6 juta atau lebih tinggi daripada realisasi di 2019 yang sebanyak 6 juta nasabah. Tujuan penambahan nasabah ini ialah memulihkan perekonomian masyarakat prasejahtera. Tugas yang diemban PNM ini tidak ringan. Sebab, mobilitas masyarakat terbatas untuk mencegah penularan virus corona. Akibatnya, denyut perekonomian melemah di kala itu.

Arief Mulyadi,Dirut PT Permodalan Nasional Madani (PNM)

Kendati demikian, Arief bersama insan PNM terus merangsek ke sentra-sentra usaha mikro dan masyarakat, serta komunitas yang belum tersentuh akses keuangan. PNM bergerak lincah dan agresif menyalurkan kredit ultramikro.

Insan PNM acapkali beranjangsana ke wilayah pedalaman. Mereka bertukar pikiran dengan masyarakat prasejahtera mengenai akses keuangan ultramikro dan dampak positifnya terhadap perekonomian keluarga. Satu per satu insan PNM berhasil menjaring nasabah dan memberikan pendampingan usaha.

“Kami tidak menyangka bisa menambah nasabah yang mencapai 7,8 juta di akhir 2020. Jumlah ini melampaui target, yakni sebanyak 6,6 juta nasabah,” tutur Arief sambil melempar senyum.

 Pencapaian PNM ini diapresiasi Presiden Jokowi. “Pak Presiden menugaskan kami untuk memperluas penyaluran kredit ultramikro dan menambah jumlah nasabah di tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Pemerintah turut memberikan bantuan kepada PNM. Arief mengatakan, pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 mengalokasikan penyertaan modal negara senilai Rp 1 triliun dan dana dari PEN sebesar Rp 1,5 triliun untuk PNM. “Totalnya Rp 2,5 triliun,” ungkapnya. BUMN yang berdiri pada 1999 ini mengoptipmalisasi dana itu untuk menggenjot penyaluran kredit ultramikro dan berkontribusi aktif menunjang PEN.

PNM, menurut Arief, membidik jumlah 10 juta nasabah di tahun 2023. Dan, target tersebut ternyata lebih cepat terlampaui. ”Saya masih ingat angkanya, yaitu 10 juta nasabah, yang tercapai pada 17 Agustus 2021. Jumlah nasabah PNM melampaui nasabah Grameen Bank,” katanya. PNM tercatat sebagai perusahaan penyalur pembiayaan berbasis kelompok mikro terbesar di dunia lantaran pada Januari-Desember 2021 memiliki 11,3 juta nasabah dari masyarakat prasejahtera.

Total penyaluran pembiayaan mikro sepanjang 2021 mencapai Rp 47,31 triliun. Adapun nilai penyaluran akumulasi kredit mikro dari 2016 hingga 2021 mencapai Rp 107,81 triliun, dengan non performing loan (NPL) hanya 0,089%. Program pembiayaan kolektif untuk para pelaku usaha ultramikro perempuan di pedesaan ini sudah menghasilkan 660.000 kelompok tanggung renteng di 5.735 kecamatan dan 442 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Pemerintah mengacungkan dua jempol untuk PNM. Sebab, jumlah nasabahnya di 2021 melampaui jumlah nasabah Grameen Bank (bank di Bangladesh dan pendirinya, Muhammad Yunus, mendapatkan Nobel Perdamaian tahun 2006) yang sebanyak 6,5 juta. Presiden Jokowi pada Desember 2021 menyampaikan apresiasinya terhadap program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PNM yang jumlah nasabahnya melebihi nasabah Grameen Bank dan mengamanatkan kepada perusahaan ini untuk bisa menembus 20 juta nasabah pada 2024.

Hal senada juga disampaikan Erick Thohir, Menteri BUMN. “Dibandingkan Grameen Bank yang 6,5 juta, sekarang kita (nasabah PNM) lebih besar. Ini membanggakan kita semua,” kata Erick pada Januari 2022.

Sebenarnya, menurut Arief, PNM berhasil melampaui target jumlah nasabah di rentang 2015-2021. Sebagai contoh, jumlah nasabah di 2018 sebanyak 4,03 juta, melampaui target yang ditetapkannya sebanyak 3,2 juta.

Perusahaan pembiayaan mikro pelat merah ini kian diperkuat seiring rampungnya holding Ultra Mikro (UMi) pada September 2021. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memimpin holding UMi, dan anak usahanya adalah PNM dan PT Pegadaian. PNM mengoptimalkan sinergi BRI dan Pegadaian untuk memacu target bisnis dan 14 juta nasabah di tahun 2022.

“Adanya holding Ultra Mikro itu tentu saja ada penyesuaian model bisnis dengan sinergi dan kolaborasi, seperti kantor SENYUM (Sentra Layanan Ultra Mikro) yang ada dibeberapa titik di Indonesia,” ungkap Arief.

Sinergi bersama di holding UMi memberikan beragam dampak positif. Di antaranya, biaya kredit (cost of fund) yang lebih rendah dan jangkauan PNM yang lebih luas. Ketiga BUMN di holding ini saling berbagi layanan di kantor cabang dan bisa saling merekomendasikan nasabah.

Arief optimistis PNM akan makin gencar menyalurkan kredit kepada pelaku usaha mikro, ultramikro, dan masyarakat prasejahtera. Pada 2022, PNM menargetkan penyaluran pembiayaan kredit mikro senilai Rp 55 triliun, naik 11,22% dari Rp 49,45 triliun di tahun 2021.

Arief menjabarkan strategi PNM untuk mencapai target ini. Antara lain, meningkatkan produktivitas account officer (AO) perusahaan ini. Erick pun memuji para AO PNM Mekaar berusia muda yang aktif sebagai garda terdepan di lapangan untuk membantu nasabah PNM Mekaar. Keberhasilan PNM mencetak penambahan nasabah di tahun lalu merupakan hasil dari inovasi para insannya itu.

“Para Account Officer PNM mampu meningkatkan produktivitas. Misalnya, kinerja AO di 2021 berhasil menambah jumlah nasabah sebanyak 3,4 juta orang. Kemudian, kami menambah jumlah kantor cabang Mekaar di daerah yang potensial, termasuk di daerah pelosok. Di sisi lain, peningkatan kualitas dan kuantitas pendampingan dan pelatihan usaha kepada nasabah yang dilakukan rutin mingguan maupun kegiatan klasterisasi usaha juga terus dilakukan oleh insan PNM,” tutur Arief yang merintis karier di PNM sebagai AO di 1999.

 Di tahun 2022, PNM berencana menambah jumlah jaringan kantor cabang sebanyak 300 unit dan sinergi holding UMi melalui kantor co-location yang direncanakan menjadi 415 kantor dari 82 unit, serta digitalisasi untuk front end bisnis. Selain itu, juga mengenalkan aplikasi PNM Digi untuk nasabah serta terus meningkatkan pendampingan dan pelatihan kepada nasabah melalui berbagai kegiatan.

Sepanjang 2021 di luar pertemuan kelompok mingguan (PKM) nasabah, PNM telah mengadakan 10.182 pelatihan dan pendampingan yang diikuti 255.189 nasabah. “Pada 2022, kami memproyeksikan akan melakukan minimal 10.000 kali kegiatan dengan diikuti 400.000 peserta, meliputi pelatihan untuk nasabah ULaMM, Mekaar, pelatihan PKU Akbar, dan pameran usaha untuk produk nasabah,” kata Arief.

Mencetak Pertumbuhan

PNM terus menggencarkan program Mekaar dan ULaMM bagi para pelaku usaha mikro atau ultramikro dan komunitas dari masyarakat prasejahtera yang tidak terakses lembaga keuangan. Perusahaan ini berkomitmen menjadi lembaga pembiayaan terkemuka dalam meningkatkan nilai tambah secara berkelanjutan bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK), dengan berlandaskan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Saat ini fokus utamanya adalah pemberdayaan perempuan prasejahtera pelaku usaha ultramikro.

Hasilnya, aset PNM pada 2021 menjadi Rp 43,78 triliun, naik 38,26% dari Rp 31,67 triliun di tahun 2021. Peningkatan tersebut utamanya berasal dari peningkatan aset produktif pembiayaan yang di tahun lalu mencapai Rp 33,15 triliun, meningkat 44,51% dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp 22,94 triliun.

Pada periode itu, PNM membukukan pendapatan Rp 8,67 triliun, melejit 50,09% dari Rp 5,78 triliun. Peningkatan tersebut utamanya berasal dari peningkatan pendapatan pembiayaan PNM Mekaar dan ULaMM sebesar Rp 8,35 triliun, meningkat 52,14% dari Rp 5,49 triliun. Adapun pendapatan usaha PNM meningkat 11,39%. Laba bersihnya pun meroket 135,11%, menjadi Rp 843,97 miliar dari Rp 358,97 miliar.

Strategi bisnis PNM yang menorehkan kinerja apik pada 2021 itu di antaranya melakukan penetrasi pasar secara selektif dan efektif. Dalam hal ini, PNM memetakan area yang berpotensi dibiayai, memperluas area layanan melalui pembukaan kantor cabang Mekaar di wilayah potensial, dan meningkatkan produktivitas kantor cabang.

Strategi berikutnya, merangkul nasabah lama melalui peningkatan kualitas pelatihan dan pendampingan nasabah untuk meningkatkan kapasitas usaha mereka. PNM juga melakukan riset untuk mengetahui kebutuhan bisnis nasabah dalam rangka pengembangan produk.

Langkah taktis lainnya adalah meningkatkan produktivitas dan kompetensi sumber daya manusia, mengoptimalkan program pendidikan dan pelatihan berformat konvensional (tatap muka, offline) dan dalam jaringan (online) kepada karyawan milenial dan perempuan, serta meningkatkan anggaran kesehatan karyawan guna mendukung peningkatan produktivitas mereka secara keseluruhan dalam mencapai target perusahaan di era pandemi.

PNM juga mengoptimalisasi pendanaan internal serta diversifikasi sumber pendanaan, baik dari pasar modal, perbankan, maupun pemerintah melalui Pusat Investasi Pemerintah. Sehingga, perusahaan dapat menekan tingkat suku bunga pinjaman secara keseluruhan.

“Salah satu jejak keberhasilan PNM adalah menerbitkan obligasi senilai Rp 3 triliun di tahun 2021. Dana obligasi tersebut digunakan seluruhnya untuk modal kerja melalui penyaluran pembiayaan kepada nasabah. Adapun kegiatan operasional perusahaan didanai kas internal perusahaan,” kata Arief.

Bisnis pembiayaan mikro melalui ULaMM pada 2022 akan difokuskan pada pembiayaan untuk pelaku UMK individu dengan plafón maksimal Rp 50 juta. Ini dalam rangka pemberdayaan berkelanjutan bagi nasabah Mekaar yang dinilai sudah mampu untuk mengembangkan kapasitas usahanya.

Selain menyalurkan pembiayaan, PNM menyadari bahwa kegiatan pendampingan usaha, pelatihan nasabah, serta pembentukan klaster usaha nasabah dapat membantu nasabah meningkatkan kapasitas usahanya. Hal ini diharapkan bisa menambah tingkat retensi nasabah sehingga dapat meningkatkan persentase jumlah nasabah yang lanjut.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)