Spotify Mengaitkan Iklan dengan Khalayak yang Tepat

 

Streaming musik kini sudah hadir di tengah-tengah kita. Saat ini semakin banyak penikmat musik mendengarkan musik lewat berbagai perangkat dan menjadikan musik sebagai bagian dari rutinitasnya sehari-hari. Kebiasaan baru ini menciptakan pergeseran besar dalam perjalanan konsumen serta mendorong fokus baru pada peran audio dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut, menuntut sebuah merek memiliki pemahaman yang jauh lebih baik mengenai cara iklan bisa diterima oleh khalayak tujuannya.

Sebagai gambaran, hampir setiap orang, saat ini menikmati berbagai media lewat beragam platform. Mereka seolah hidup dalam ruang dan waktu yang bising tempat banyak iklan disodorkan dari segala arah, sehingga keefektifan iklan menjadi diragukan. Seiring hal tersebut, lansekap pemasaran beralih, sehingga basis pemasaran saat ini adalah orang, dan tidak lagi bergantung pada cookie. Konteks dan pengalaman periklanan harus menjadi fokus, karena sebagian besar pengguna menggunakan aplikasi dan bukan situs agar cookie menjadi tidak terlacak.

Dengan pemikiran tersebut, perusahaan layanan musik Spotify baru-baru ini bekerjasama dengan Nielsen Indonesia, untuk membandingkan perilaku konsumsi dan kebiasaan mendengarkan dari pengguna Spotify dengan pengguna non-Spotify di Indonesia.

Dengan ukuran sampel 1.020 pengguna internet di empat kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang, laporan Nielsen menemukan banyak hal menarik terkait pengguna Spotify di Indonesia.

Rata-rata pengguna Spotify Indonesia ternyata menghabiskan 162 menit per hari untuk mendengarkan musik di Spotify, dengan mayoritas khalayak yang disurvei berasal dari generasi milenial yang umurnya berkisar 15 sampai 34 tahun. Jika dibandingkan dengan non-pengguna Spotify, pengguna Spotify diketahui orang-orang yang lebih sadar merek dan tech savvy serta memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih besar atau 4% lebih tinggi daripada pengguna non-Spotify.

 

Karena mereka lebih sadar akan merek dan memiliki adopsi teknologi yang tinggi, tak heran mereka senang menjadi pencipta tren dan juga suka menularkan pengaruhnya. Dalam hasil survei tersebut juga dijelaskan bahwa pengguna Spotify cenderung mengeluarkan dana lebih banyak untuk konsumsi makanan, pakaian, acara musik, dan berwisata dibanding non-pengguna Spotify. Pengguna Spotify cenderung merupakan pribadi yang outgoing dan banyak menghabiskan waktunya untuk pergi ke bioskop, dinner, mengunjungi coffee shop dan juga mall. Mereka aktif menggunakan sosial media dan gemar berbincang-bincang dengan para teman dan kerabat.

Khalayak yang disurvei biasanya mendengarkan Spotify ketika menyetir, naik kereta, bekerja, berlatih, jalan-jalan maupun sedang berlari. Saat sedang beraktivitas di dalam ruangan, pengguna Spotify banyak meluangkan waktunya untuk streaming musik sebelum tidur, membaca, membersihkan rumah dan juga bangun tidur.

“Dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dan smartphone di Indonesia, tidak mengherankan jika ada perubahan dalam cara konsumen membuat keputusan. Dengan memahami bagaimana orang menggunakan Spotify, kita dapat menjangkau pengguna pada saat yang tepat dengan pesan yang tepat pula,” kata Ong Sea Yen, Wakil Presiden Penjualan untuk Spotify di Asia. “Ini merupakan tren yang akan membantu pemasar dan pengiklan menjadi lebih tajam dalam menentukan target dan bagaimana khalayak sasaran Anda mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan oleh studi Nielsen ini, kami dapat berbagi wawasan tentang keunikan dari sederet khalayak yang ada.”

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
CtrlShift dan Spotify di id-sales@spotify.com

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)