Tunas Ridean Targetkan Penjualan Mobil Naik 15%

 Ekonomi Indonesia yang terus tumbuh dan permintaan konsumen yang terus meningkat, mendorong peningkatan penjualan otomotif PT Tunas Ridean Tbk (Grup Tunas Ridean) baik unit mobil maupun motor masing-masing sebesar 21% dan 8% selama kuartal pertama tahun 2012. Dari hasil penjualan yang ada, ditambah bisnis rental, grup berhasil mencatat pendapatan bersih tumbuh 22 % menjadi Rp 2,6 triliun.

Dalam paparan publik Mei 2012, Rico Setiawan, Presiden Direktur PT Tunas Riden Tbk (TURI) menjelaskan, secara nasional, pasar mobil tumbuh 11% menjadi 250.500 unit sedangkan pasar motor nasional turun 2% menjadi 1,95 juta unit. Namun pertumbuhan penjualan mobil Grup lebih tinggi dari industri yakni naik 21% menjadi 12.725 unit, dan motor 8% lebih tinggi menjadi 44.582 unit. Dari pertumbuhan penjualan tersebut, laba grup dari bisnis otomotif naik 18% menjadi Rp 79,7 miliar.

TURI menargetkan penjualan mobil baru hingga akhir tahun 2012 mencapai 43.835 unit, atau tumbuh 15% dari hasil penjualan akhir 2011 yang sebesar 38.271 unit. Penjualan sepeda motor baru juga ditargetkan tumbuh 16% menjadi 229.940 unit. Sementara pembiayaan baru PT Mandiri Tunas Finance dipatok tumbuh 22% menjadi Rp 8,7 triliun. Demikian juga dengan portofolio jangka panjang Tunas Rental yang ditargetkan sebesar 4.528 unit. “Pertumbuhan penjualan tersebut sejalan dengan beroperasinya beberapa cabang baru kita yang kita optimis mencatat pertumbuhan penjualan. Sekarang kita telah mengoperasikan 118 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Rico.

Dia menambahkan di tahun ini, perseroan akan menambah 12 outlet baru, antara lain 2 outlet Toyota, 1 outlet BMW, 3 outlet Daihatsu, 5 outlet Honda motor, dan 1 outlet mobil bekas (BMW). “Sejalan dengan pembukaan cabang, kita juga melakukan investasi barang modal sebesar Rp 560 miliar. Alokasinya antara lain untuk kendaraan rental Rp 310 miliar, dan kebutuhan lainnya sebesar Rp 250 miliar,” tutur Rico.

Dijelaskan Rico, target pertumbuhan TURI yang lebih tinggi dari industri khususnya target ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) yang hanya menargetkan 6 persen baik untuk mobil dan motor, hal itu tidak terlepas dari kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) saat ini.

Di kuartal pertama tahun ini TURI mencatat penjualan mobil baru sebanyak 12.725 unit atau tumbuh 21% dari periode yang sama di 2011, sedangkan penjualan sepeda motor baru 44.582 unit atau tumbuh 8 % YoY dari 2011. Rico menambahkan, penjualan tertinggi terjadi di bulan Maret 2012. “Itu didukung oleh suplai yang meningkat dari beberapa produk seperti Avanza, Xenia, dan Fortuner baru,” jelas Rico.

Menurut Rico, diberlakukannya aturan uang muka 30 persen dari Bank Indonesia (BI) juga berpengaruh terhadap penjualan perseroan. “Tetapi tidak signifikan untuk mobil karena rata-rata DP-nya sudah di level 20%, dan saat ini sudah mulai dinaikkan. Mungkin untuk motor akan berpengaruh, karena rata-rata DP motor di level 10%,” jelas Rico.

Sementara itu, pembiayaan baru PT Mandiri Tunas Finance tercatat lebih rendah 3% dari kuartal pertama tahun 2011, yakni Rp 1,8 triliun di kuartal pertama tahun ini. “Penurunan pembiayaan itu dikarenakan minimnya stock dari beberapa jenis kendaraan  seperti Suzuki. Namun ke depan pembiayaan kita targetkan bisa tumbuh 10%. Untuk hal itu kita akan mengoptimalkan aliansi dengan Bank Mandiri yang dalam memperdalam pasar pembiayaan,” ungkap Direktur TURI Tenny Febyana Halim pada kesempatan yang sama.

Dengan hasil penjualan yang tetap tumbuh di kuartal pertama tahun 2012, TURI mencatat pendapatan bersih Rp 2,6 triliun atau tumbuh 22% dari kuartal pertama 2011. Demikian juga dengan capaian laba, laba periode berjalan sebesar Rp 107 miliar, atau meningkat 41%. Sementara hingga akhir 2011, TURI meraih pendapatan bersih Rp 8,3 triliun (tumbuh 22%), dan laba Rp 322 miliar, yang juga tumbuh 20%.

Tenny menambahkan, hingga kini TURI tetap menjaga kualitas baik untuk mobil maupun motor. Itu terlihat dari level kredit bermasalah yang rendah. “NPL kami untuk mobil 1%, sementara untuk motor sekitar 2,3%,” katanya. Dari sisi kewajiban, Direktur TURI, Anton Leoman menambahkan bahwa saat ini perseroan masih memiliki kewajiban yang jatuh tempo tahun ini sebesar Rp 124,5 miliar. Dan menurut Rico, untuk pembayarannya perusahaan telah menyiapkan dana dari kas internal.

Sementara laba Grup dari lini bisnis Tunas Rental juga naik menjadi Rp 17,7 miliar, sebagian besar disebabkan oleh keuntungan atas penjualan kendaraan bekas sewa. “Tunas Rental mengembangkan portofolio jangka panjang sebesar 3 % menjadi 4.009 unit,” ujar Rico. Adapun perusahaan afiliasi yang 49% sahamnya dimiliki oleh Grup, Mandiri Tunas Finance (MTF) menyumbangkan laba sebesar Rp. 9,7 miliar, 61% lebih tinggi dari tahun lalu. Peningkatan laba terutama disebabkan oleh peningkatan marjin bunga dan pendapatan administratif ditunjang oleh portofolio pembiayaan yang meningkat. Akan tetapi, volume pembiayaan baru menurun 3% menjadi Rp 1,8 triliun.

Secara total, laba grup selama tiga bulan pertama tahun 2012 tercatat sebesar Rp 107,2 miliar, 41% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Sementara laba per saham juga naik 41% menjadi Rp 19. “Ini merefleksikan perbaikan kinerja dari seluruh unit bisnis,” tegas Rico.

Kinerja 2011:

Perekonomian Indonesia terus tumbuh sepanjang tahun 2011, didukung oleh pertumbuhan permintaan konsumen dan inflasi yang relatif rendah berhasil mendorong pasar otomotif naik 17% menjadi 894.000 unit dan pasar motor naik 9% menjadi 8 juta unit. Dari angka tersebut, Grup Tunas menyumbang dengan total penjualan mobil Grup naik 20% menjadi 38.300 unit sementara motor naik 32% menjadi 198.100 unit.

Didukung oleh peningkatan penjualan tersebut, Grup Tunas meraih pendapatan bersih sebesar Rp.8,3 triliun, naik 22%. Peningkatan juga terjadi pada laba bersih yakni sebesar Rp. 322 miliar, naik 20% dibanding tahun 2010 walaupun keuntungan yang tinggi dari bisnis otomotif terganggu dengan penurunan kontribusi dari bisnis pembiayaan dan Rental. Laba bersih per saham Rp. 58 naik 20% dibandingkan dengan tahun lalu.

Diuraikan Rico, laba bersih grup dari divisi otomotif naik 33% menjadi Rp.273 miliar dikarenakan oleh peningkatan permintaan pasar dan kemudahan pembiayaan dengan suku bunga yang menarik.

Sedangkan laba bersih Tunas Rental turun 43% menjadi Rp 16,8 miliar, dikarenakan tahun lalu terdapat keuntungan atas penjualan kendaraan bekas sewa dari pemutusan kontrak yang lebih dulu selesai. Tunas Rental mengembangkan portofolio jangka panjang yang meningkat sebesar 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 3.800 unit.

Sementara perusahaan afiliasi yang 49% sahamnya dimiliki oleh Grup, Mandiri Tunas Finance (MTF), menyumbangkan laba bersih Rp.32,2 miliar, 7% lebih kecil dibandingkan tahun lalu. “Ini disebabkan oleh kenaikan kerugian dan penyisihan atas piutang pembiayaan konsumen. Volume pembiayaan MTF terus bertumbuh dengan kuat dan jumlah pembiayaan baru naik 57% menjadi Rp. 7,1 triliun,” tukas Rico.

Dividen Final

Dari perolehan laba 2011, manajemen merekomendasikan dividen final sebesar Rp 7 per lembar saham (2010: Rp 5 per lembar saham) yang akan dibayarkan pada bulan Juni 2012. Sementara dividen interim Rp 7 per lembar saham (2010: Rp 5 per lembar saham) sebelumnya sudah dibagikan pada bulan Desember. “Dengan demikian total dividen tahun 2011 menjadi sebesar Rp 14 per lembar saham (2010: Rp 10 per lembar saham), naik 40% dibandingkan dengan tahun lalu,” ungkap Rico. (Kristiana Anissa/EVA)


Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)