Prodia Tambah 33 Cabang Baru

Bisnis kesehatan tak mengenal kata turun. Setiap orang yang sakit harus berobat agar sembuh. Sebagian besar memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti jenis penyakit dan tingkat keparahannya.

“Prospek untuk semua segmen pelanggan bagus. Kami lihat meskipun ekonomi melambat, revenue Prodia tetap tumbuh,” kata Liana Suwandi, Direktur Keuangan Laboratorium Klinik Prodia (Prodia).

Dalam 5 tahun ke depan, perseroan berencana menambah cabang baru di 33 titik dan investasi di alat dan teknologi baru. Sayang, dia enggan memaparkan lebih rinci berapa belanja modal yang disiapkan hingga 2021 mendatang.

“Cabang itu termasuk di dua propinsi baru, Papua dan Bengkulu. Cabang di Jakarta juga akan ditambah sehingga lebih merata. Kemudian reference lab-nya ditambah 4 lagi,” kata dia.

prodia

Menurut dia, prospek bisnis Prodia masih sangat besar mengingat baru 2 juta orang yang melakukan pemeriksaan di l aboratorium, dari total sekitar 250 juta penduduk Indonesia. Kuncinya adalah meningkatkan edukasi agar masyarakat sadar dan mau memeriksa kondisi kesehatannya sebelum jatuh sakit. “Ini mindset yang harus dibangun di masyarakat kita,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, Prodia menawarkan produk Next Generation Medicine, yakni pemeriksaan yang bisa memastikan komposisi obat yang dipilih dokter sesuai dengan kondisi setiap individu yang tentu saja berbeda antara yang satu dengan lainnya.

“Kami juga menawarkan deteksi dini gejala autoimun yang berpotensi menjadi penyakit degeneratif lainnya dengan teknologi Genome.Semua itu bisa kami jual kalau masyarakat juga sudah sadar untuk cek lab sebelum sakit,” kata dia.

Liana menjelaskan, Prodia punya strategi jitu untuk memenangi persaingan, yakni tidak menerapkan margin keuntungan besar untuk setiap pelanggan yang datang memeriksa kondisi kesehatannya. Sepanjang 2015 lalu, Prodia meraih pendapatan Rp 1,19 triliun dan selama tiga tahun terakhir tumbuh sekitar 12%.

Baru-baru ini, Prodia menggelar talkshow tentang kesehatan jantung dengan tajuk “Berdenyut Sampai Usia Lanjut” di Riau, Pekanbaru. Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia menurut survei Organisasi kesehatan Dunia (WHO).

Tahun 2008, angka kematian akibat penyakit Kardiovaskular diperkirakan akan meningkat menjadi 17,5 juta hingga 20 juta per tahun pada 2016 dan akan terus meningkat hingga 30 juta pertahun hingga tahun 2030. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)