Financial Report

Bank Mutiara Catat Kenaikan DPK 20,2%

Bank Mutiara Catat Kenaikan DPK 20,2%

Di tengah hiruk pikuk kasus Bank Century, PT Bank Mutiara Tbk. (eks Bank Century) sepanjang 2012 berhasil mencatat kinerja yang positif. Bank yang sedang dalam proses lelang oleh Lembaga Penjamin Simpanas (LPS) ini, sukses mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebanyak Rp 13,4 triliun atau naik 20,2% dibanding DPK 2011 yang sebesar Rp 11,2 triliun.

Pertumbuhan DPK tersebut turut mengerek total aset Bank Mutiara dari Rp 13,1 triliun di akhir 2011 menjadi Rp 15,3 triliun pada akhir 2012, atau naik 17,2%.

Selain peningkatan DPK, penyaluran kredit juga naik sebesar 18,7%, dari Rp 9,3 triliun menjadi Rp 11,1 triliun. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) nett per 31 Desember 2012 sebesar 3,4%, turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,5%.

“Kinerja tersebut menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan publik, khususnya dunia usaha dan nasabah terhadap Bank Mutiara,” kata Direktur Bank Mutiara, Ahmad Fajar, sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank Mutiara sejak penunjukan Maryono sebagai Dirut BTN pada 28 Desember 2012.

Sementara itu dari sisi permodalan, ekuitas Bank Mutiara per 31 Desember 2012, mencapai Rp 1,3 triliun, tumbuh 37,2% dibanding 31 Desember 2011 yang sebesar Rp 1 triliun. Modal inti perseroan tercatat Rp 1 triliun, tumbuh 29,3% dari Rp 785 miliar pada akhir Desember 2011. Jika dibanding saat bank ini diambil alih pemerintah pada tahun 2008 silam, modal inti tersebut telah mengalami pertumbuhan sebesar 170%, sebab saat itu modal inti mereka mencapai minus Rp 1,4 triliun.

Peningkatan ekuitas dan modal inti tersebut turut meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) perseroan dari 9,4% pada 2011, menjadi 11,1% pada Desember 2012.

“Dengan peningkatan modal inti perseroan, maka Bank Mutiara saat ini telah masuk kategori Buku 2 pada klasifikasi kegiatan usaha bank umum yang dibuat Bank Indonesia. Dengan demikian, kami akan segera menambah variasi produk dan layanan bisnis perbankan yang berkualitas kepada nasabah. Hal itu sesuai dengan visi kami sebagai bank ritel yang fokus,” paparnya.

Sepanjang 2012, Bank Mutiara juga tampak semakin efisien, tercermin pada peningkatan kualitas beberapa indikator, diantaranya seperti, menurunnya rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dari posisi 87,2% p (2011) menjadi 83,9%. Nett Interest Margin (NIM) juga meningkat menjadi 2,8% pada akhir 2012, dibanding NIM 2011 sebesar 1,6%.

Pada Desember 2012, perseroan mencatat perolehan laba sebesar Rp 273 miliar tumbuh sebesar 4,8% dari Rp 260 miliar pada periode yang sama 2011. “Laba kami murni bersumber dari pendapatan bunga, penyaluran kredit, pendapatan nonbunga serta bisnis inti perbankan lainnya,” katanya.

Rencana bisnis Bank Mutiara ke depan akan ditunjang oleh beberapa lini bisnis baru seperti penyaluran kredit ke segmen mikro. Perseroan pada 2013, berencana membuka 100 outlet di berbagai kota seluruh Indonesia, dalam upaya meningkatkan penyaluran pinjaman ke segmen usaha mikro.

Melalui kemitraan serta pembukaan outlet tersebut, manajemen Bank Mutiara optimistis, penyaluran kredit sepanjang 2013, dapat mencapai Rp 12,978 triliun. Sementara, total simpanan masyarakat alias dana pihak ketiga di Bank Mutiara hingga akhir 2013, ditargetkan mencapai Rp 14,766 triliun. (EVA)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved