Tiphone Cetak Penjualan Rp 6,9 Triliun

PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) mengumumkan bahwa tahun 2011 berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp 228 miliar. Laba usaha itu meningkat sebesar 36% dibandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp 167 miliar. Penjualan juga naik 12,9 % menjadi Rp 6,9 triliun pada 2011, dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 6,19 trilun. Selain berasal dari jasa penjualan telepon selular dan aksesorisnya, peningkatan pendapatan yang sangat signifikan ini diperoleh dari pendapatan beberapa anak perusahaan baru yang diakuisisi tahun 2011.

Menurut Tan Lie Pin, Presiden Direktur Tiphone Mobile, pendapatan terbesar perseroan tersebut berasal dari hasil penjualan voucer dan kartu perdana dari anak perusahaan PT Telesindo Shop dan PT Excel Utama Indonesia, yang sampai 30 Desember 2011 lalu mencapai Rp 5,99 triliun. Sementara penjualan dari telepon selular pada 2011 tercatat sebesar Rp 919, 704 miliar.

Pasar telekomunikasi masih tumbuh dalam setahun terakhir ini. Penambahan jumlah pelanggan seluler ikut mendorong peningkatan pendapatan perseroan, khususnya dari penjualan voucer dan telepon seluler, yang menjadi lini usaha perseroan,” kata Tan.

Meningkatnya laba usaha ini mendorong peningkatan laba bersih sebesar 33% menjadi Rp 152,8 miliar di tahun 2011 dari Rp 115 miliar pada tahun 2010. Namun laba bersih per saham turun menjadi Rp 42 per lembar dari Rp 92 per lembar saham. Hal ini karena jumlah lembar saham meningkat dari 2 miliar lembar saham di tahun 2010, menjadi 4 miliar lembar saham di tahun 2011. Beban usaha tahun 2011 melonjak 58% menjadi Rp 178,74 miliar, padahal tahun 2010 hanya Rp 113,05 miliar.

Peningkatan beban usaha ini disebabkan oleh meningkatnya beban gaji karena penambahan armada sales dan meningkatnya beban promosi dan iklan, yang diwajibkan pihak operator,” tambah Tan.

Aset Tiphone per 31 Desember 2011 juga meningkat menjadi Rp 1,19 trilun atau naik 38 % dibandingkan Rp 862 miliar di 2010. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan modal kerja yang diperoleh dari pinjaman bank. Sementara kewajiban perseroan meningkat 71,5% dari Rp 407 miliar di 2010, menjadi Rp 698 miliar di 2011. Kenaikan kewajiban disebabkan perseroan mendapatkan fasilitas modal kerja dari PT Bank DBS Indonesia tahun 2011 dan melunasi fasilitas modal kerja dari PT Bank Central Asia Tbk.

Sementara itu, jumlah ekuitas di tahun 2011, naik 8 % menjadi sebesar Rp 492 miliar dari tahun 2010 Rp 456 miliar. Sedangkan untuk rasio likuiditas pada tanggal 31 Desember 2011 sebesar 1,7 x yang menunjukan ketersediaan aset yang ada mampu untuk menutup hutang lancar. Solvabilitas Telesindo per tanggal 31 Desember 2011 juga mengalami peningkatan dikarenakan adanya pinjaman Bank DBS untuk modal kerja Tiphone dan anak-anak usaha.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)