Fitch Beri Peringkat Tertinggi untuk Obligasi dan Sukuk Indosat

Fitch Ratings Indonesia memberikan Peringkat Nasional Jangka Panjang di 'AAA(idn)' untuk obligasi senior tanpa jaminan Rp 1,75 triliun dan sukuk ijarah Rp 250 miliar dari PT Indosat Tbk. Surat utang yang diterbitkan adalah bagian dari program obligasi Rp 9 triliun dan sukuk ijarah Rp 1 triliun yang diafirmasi di 'AAA(idn)' pada 27 Maret lalu. Adapun, peringkat Indosat adalah BBB/AAA(idn)/Stable.

“Oleh karena itu, (obligasi dan sukuk) memiliki peringkat yang sama dengan program tersebut. Indosat akan menggunakan dana dari penerbitan surat utang untuk membiayai ulang utang dalam denominasi dolar AS dan belanja modal,” kata Olly Prayudi, Analis Pertama Fitch Ratings Indonesia dalam rilisnya.

Menurut dia, peringkat nasional di kategori 'AAA' adalah peringkat tertinggi yang diberikan Fitch pada skala peringkat nasional untuk Indonesia. Peringkat tersebut diberikan kepada emiten atau surat utang dengan ekspektasi risiko gagal bayar yang terendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia.

Peringkat tersebut diperoleh berkat dukungan yang kuat dari induk perusahaan, Ooredoo Q.S.C (Ooredoo; A+/Stabil). Peringkat IDR 'BBB' dari Indosat memperhitungkan kenaikan tiga tingkat dari profil kredit stand-alone perusahaan di 'BB' berdasarkan hubungan keuangan dan strategis yang kuat dengan Ooredoo yang menguasai 65% saham di Indosat.

“Indosat adalah salah satu anak perusahaan dari Ooredoo yang paling besar dan berkembang dengan cepat, menyumbangkan terhadap 22% dari total pendapatan grup Ooredoo, 25% dari EBITDA dan 25% dari belanja modal di 2014,” kata Olly.

Awak Indosat IM2 melakukan uji kecepatan akses internet di depan  awak media. Awak Indosat IM2 melakukan uji kecepatan akses internet di depan awak media.

Profil kredit stand-alone 'BB' dari Indosat didasarkan pada posisi pasar sebagai operator kedua terbesar dengan 20% pangsa pasar pendapatan, marjin operating EBITDAR di atas 40% dan moderat funds flow from operations (FFO)-adjusted net leverage sebesar 2,4x di tahun 2014. Fitch memerkirakan Indosat aka menghasilkan marjin free cash flow (FCF) yang positif sebesar 2-3% di 2015 dan 2017 karena belanja modal akan menurun setelah perusahaan menyelesaikan modernisasi jaringan di akhir tahun 2015.

“Fitch juga memerkirakan marjin operating EBITDAR dari Indosat di 2015-16 akan turun ke level 40% (2014: 42,5%) seiring makin ketatnya persaingan di bisnis data dan biaya pemasaran yang lebih tinggi. Penurunan keuntungan juga disebabkan perubahan komposisi pendapatan karena margin layanan data jauh lebih kecil dibanding layanan suara dan teks yang lebih menguntungkan. Marjin EBITDA dari data sekitar 15-20% sementara keuntungan suara dan SMS di atas 40%,” ujarnya.

Indosat juga mesti berhati-hati karena terekspos pelemahan rupiah. Dari total utang sebesar Rp 25,5 triliun, 46% diantaranya dalam mata uang dolar AS, di mana 56% memiliki lindung nilai melalui kontrak forward. Perseroan juga harus membayar biaya sewa menara sebesar US$ 40-45 juta yang akan mengekspose EBITDA perusahaan terhadap resiko mata uang. “Tetapi, strategi manajemen untuk mengganti utang dalam dolar AS secara bertahap dengan rupiah akan mengurangi risiko rugi kurs dalam jangka waktu menengah,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)