INTA Kembangkan Diversifikasi Bisnis Pasarkan Alat-alat Berat China

PT Intraco Penta Tbk (INTA), emiten penyedia alat berat, alat konstruksi & pendukung, jasa pembiayaan, fabrikasi & infrastruktur, serta pembangkit listrik, memperkuat lini usaha alat berat dengan menambah prinsipal Liu Gong, prinsipal alat berat asal China. Melalui nota kesepahaman (MoU) anak perusahaan INTA yaitu PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) dengan PT Liu Gong Machinery Indonesia (LMI), INTA diberikan kewenangan untuk memasarkan, menjual serta mendistribusikan produk unit alat berat serta suku cadang merek Liu Gong dan Dressta.

Sebelumnya INTA telah mengakhiri perjanjian dealer dan distributor dengan Volvo Construction Equipment Singapore (Pte.) Ltd. dan PT Volvo Indonesia. Eddy Rodianto, Direktur INTA, mengemukakan pasar alat berat di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dikarenakan fluktuasi harga komoditas batubara dan pandemi Covid-19. Tentunya ini juga berdampak terhadap kinerja lini usaha alat berat INTA.

Tiga pemain besar industri alat berat mengalami penurunan penjualan sepanjang tahun 2020, hal ini kemudian menjadi momentum bagi produsen alat berat asal China untuk merebut pangsa pasar (market share) alat-alat berat. “Liu Gong mampu bersaing di pasar alat berat Indonesia dengan meraup market share sebesar 4% pada 2020, hal ini diharapkan menjadi sinyal baik bagi kinerja lini usaha alat berat INTA,” ucap Eddy dalam paparan publik virtual di Jakarta, baru-baru ini.

IPPS juga mendapatkan Surat Penunjukkan (Letter of Appointment) dari Blumaq, S.A. untuk menjadi distributor resmi produk suku cadang Blumaq di Indonesia. Blumaq merupakan produsen suku cadang alternatif untuk alat berat ternama seperti Caterpillar, Volvo, dan Komatsu. Sebelumnya, INTA pada 2019 mulai melakukan diversifikasi ke pasar kendaraan niaga dengan merek Tata Motors melalui anak usaha PT Intraco Penta Wahana (IPW) milik INTA yaitu PT Pratama Wana Motor (PWM). INTA melalui cucu usahanya, PWM, berhasil membangun beberapa dealer 3S (Sales, Sparepart, & Service) Tata Motors di beberapa wilayah Indonesia, salah satunya di Balikpapan yang merupakan kota terdekat dengan calon ibu kota baru Indonesia.

Kinerja keuangan INTA hingga Kuartal III/2020 membukukan pendapatan sebesar Rp 569,6 miliar dan laba kotor sebesar Rp 67,5 miliar. Lini usaha alat berat, alat konstruksi & pendukung INTA menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan INTA, dengan rincian penjualan alat berat sebesar Rp 169,2 miliar, sementara penjualan suku cadang sebesar Rp 205,5 miliar. Jasa perbaikan alat berat menyumbang pendapatan sebesar Rp111,0 miliar, sedangkan jasa penyewaan alat berat tercatat membukukan pendapatan sebesar Rp 66,9 miliar.

Lini usaha fabrikasi & infrastruktur mencatatkan penjualan sebesar Rp10,8 miliar, dan lini usaha lainnya menyumbang pendapatan sebesar Rp 620 juta. Penjualan suku cadang tercatat meningkat sebesar 38,4% di kuartal III-2020 dibandingkan dengan Kuartal II-2020. “Penjualan suku cadang alat berat masih menunjukkan indikasi ketahanan di tengah kondisi menurunnya pasar alat berat di Indonesia. Diversifikasi segmen konsumen di luar sektor pertambangan yang dilakukan INTA sejak tahun lalu juga menuai hasil positif. Hingga Kuartal-III 2020, penjualan alat berat ke sektor infrastruktur tercatat sebesar 43%, pertambangan sebesar 37%, industri umum sebesar 4%, transportasi, perkebunan, dan pertanian masing-masing sebesar 1%, serta ke sektor lainnya sebesar 13%. Dengan memacu core business INTA yaitu alat berat, kami optimis dapat mencatatkan kinerja yang lebih positif,” sambung Eddy.

Lini usaha fabrikasi & infrastruktur INTA juga memupuk optimisme dalam menyongsong tahun 2021. Proyek infrastruktur sudah mulai bangkit sejak paruh kedua tahun 2020 yang ditandai dengan dimulainya beberapa proyek baru. Anak usaha INTA, PT Columbia Chrome Indonesia (CCI) tahun ini dipercaya dalam fabrikasi moulding dan sistem hidrolik untuk mendukung Proyek Tol Solo-Yogya-NYIA (bandara udara internasional Yogyakarta).

Melihat peluang proyek infrastruktur yang kembali terpacu, INTA optimistis lini usaha fabrikasi dan infrastruktur dapat mengerek kinerja perseroan ke arah yang lebih positif. Sementara untuk lini usaha pembangkit listrik, INTA melalui anak usaha tidak langsung yaitu PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB), telah berhasil mencapai Commercial Operation Date (COD) pada tanggal 27 Juli 2020 setelah melewati beberapa tahapan testing. Dengan terbitnya sertifikat COD, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2x100 MW ini, yang juga merupakan PLTU berbahan bakar batu bara pertama di Bengkulu sudah bisa melakukan penjualan listrik kepada PT PLN (Persero), dan diharapkan dapat beroperasi selama 25 tahun ke depan.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)