Waspadai, IHSG Berpotensi Balik Arah ke Zona Merah

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu diwarnai volatilitas yang tinggi.  IHSG sempat mengalami pelemahan di dua hari pertama awal pekan lalu yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 2,66% dan 3,10%. Dua hari berikutnya, laju Indeks berturut-turut memantul kembali ke zona hijau dengan pertumbuhan sebesar 2,34% dan 0,02%, hingga akhirnya ditutup menguat di Jum'at pekan lalu  di level 4.585 poin.

Jpeg Tito Sulistio, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, kedua dari kiri, di sela-sela HUT ke-38 Pasar Modal Indonesia. (Ilustrasi Foto: Syukron Ali/SWA).

Reza Priyambada, Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, menyebutkan, labilnya penguatan IHSG membuatnya bergerak variatif sepanjang perdagangan di akhir pekan lalu. “Meski mampu berakhir di zona hijau, Indeks masih ada potensi pembalikan arah ke zona merah jika tidak ada sentimen positif.Tentunya kami masih berharap laju IHSG dapat kembali naik meski tipis. Meski demikian, tetap mewaspadai masih labilnya penguatan yang terjadi serta cermati sentimen yang akan muncul,” ia menganalisa.

Pekan lalu, kata Reza, sentimen eksternal berangsur-angsur sirna lantaran laju bursa saham AS dan Eropa mulai berbalik menguat. Tapi, IHSG  tidak terlalu merespons sentimen dari bursa saham tersebut. Kekhawatiran investor terhadap devaluasi Yuan yang berpeluang menahan mengganggu laju Rupiah telah memicu aksi jual. Akibatnya,  IHSG kembali melemah. Investor berharap pasar berbalik arah dan merespons positif rencana pemerintah merealisasikan penggunaan Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) di semester II.

Pekan lalu para pemodal mencermati pidato Presiden Joko Widodo jelang HUT RI ke-70 yang membeberkan beberapa hal di antaranya anggaran pendapatan dalam negeri ditargetkan menjadi  Rp 1.846,1 triliun, atau naik Rp 87,7 triliun dari APBN-Perubahan 2015 sebesar Rp 1.758,3 triliun. Anggaran belanja sebesar Rp 2.121,3 triliun,  naik Rp 137,1 triliun dari APBN-P 2015 sekitar Rp 1.984,1 triliun. Proyeksi penerimaan pajak naik 5,1% dari target APBN-P 2015 sekitar Rp 1.489,3 triliun. Pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5%, turun dari asumsi APBN-P 2015 di kisaran 5,7% dan laju inflasi diturunkan  4,7%. Sedangkan,  nilai tukar rupiah sebesar Rp 13.400 per dolar AS.

Di minggu kedua di Agustus ini pasar saham diramaikan dengan peringatan 38 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia (HUT Pasar Modal ke-38) dengan peluncuran saluran TV khusus pasar modal, Indonesia Business & Capital Market (IBCM) Channel. Pada kesempatan yang sama, Presiden Joko Widodo juga mengumumkan kenaikan batas maksimal dana perlindungan investor dari Rp 25 juta per pemodal menjadi Rp 100 juta per pemodal. Presiden Joko Widodo juga menyaksikan penyerahan sertifikat  Pencatatan Obligasi Berkelanjutan I Telkom Tahap I milik PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk dengan tenor 30 tahun, dan penyerahan secara simbolis pembukaan rekening efek dari PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex kepada 10 ribu karyawannya.

Pada pertengahan pekan kemarin, bursa saham juga diramaikan oleh pencatatan saham perdana PT Bank Harda Internasional Tbk. Dengan harga penawaran perdana di Rp 125 per lembar, saham dengan kode Perusahaan Tercatat BBHI ini ditutup menguat 3,2% di perdagangan hari pertama ke Rp129 per lembar. Perseroan melepas 800 juta lembar saham dan meraup dana hasil pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 100 miliar. Pencatatan saham Bank Harda Internasional itu menggenapkan jumlah emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia  sebanyak 12 emiten dengan total nilai Rp 9,02 triliun. BEI menargetkan 32 Perusahaan Tercatat baru di sepanjang 2015. Sedangkan tahun lalu, sebanyak 24 perusahaan mencatatkan sahamnya di BEI dengan nilai emisi Rp 9,12 triliun.

Adapun total nilai emisi obligasi dan sukuk korporasi sampai dengan saat ini berjumlah 271 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp245,78 triliun dan USD100 juta, diterbitkan oleh 104 Perusahaan Tercatat. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 95 seri dengan nilai nominal Rp 1.378,48 triliun dan US$ 1,04 miliar. Adapun 5 Efek Beragun Aset yang tercatat di BEI senilai Rp 2,61 triliun.

Reza menjelaskan pasca bergerak positif, laju bursa saham Asia kembali bergerak variatif yang cenderung melemah tipis. ”Pelemahan dipicu adanya ekspektasi akan pelemahan kinerja emiten salah satunya Lenovo Group Ltd. Tidak hanya itu, aksi jual pada saham-saham energi seiring merosotnya harga minyak mentah turut menambah sentimen negatif,” tuturnya.

Masih adanya respon negatif terhadap devaluasi Yuan membuat laju pasar saham Eropa kembali melemah. Padahal sehari sebelumnya, laju pasar saham Eropa telah kembali menguat.  Laju bursa saham AS kembali berbalik positif. Rilis kenaikan data produksi pabrikan yang menunjukkan manufaktur AS dapat bertahan di tengah penguatan laju dollar AS dan anjloknya harga minyak mentah dunia, telah memberikan sentimen positif sehingga pelaku pasar dapat mengesampingkan sentimen negatif dari pelemahan Yuan. “Kemungkinan pasar merasa siap dengan keputusan The Federal Reserves menaikan Fed rate di  September,” ungkapnya.

Reza mengestimasikan laju IHSG di bawah area target support 4.725-4.750 poin dan resisten 4785-4875 poin. “Kami berharap dalam empat hari perdagangan di pekan ini  masih ada sentimen positif yang dapat menahan pelemahan IHSG. Utang gap 4512-4524 juga sudah tertutupi. Laju IHSG pun kembali pada periode awal 2014. Jika sentimen yang ada cenderung negatif maka waspadai pelemahan lanjutan. Untuk itu, tetap antisipasi sentimen yang akan datang,” jelasnya. Level Indeks pada perdagangan Selasa, (18/8/2015), turn 1,6%, menjadi 4.510 poin. Tito Sulistio, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, optimistis kondisi pasar saham akan kembali pulih seiring dengan komitmen pemerintah menggenjot penggunaan belanja negara di semester II. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)