Adi Prasetya, Melek Investasi sejak Usia 17 Tahun

Adi Prasetya, investor milenial.
Adi Prasetya, investor milenial.

Pada usia 17 tahun, Adi Prasetya mulai terjun ke dunia finansial melalui investasi reksa dana. Lalu, seiring berjalannya waktu, ia mulai penasaran dengan instrumen investasi lainnya, seperti saham. Saat ini, selain berinvestasi pada pasar saham, Adi juga mendiversifikasikan portofolionya pada peer-to-peer (P2P) dan trading forex. Portofolio sahamnya saat ini sekitar 30% dari keseluruhan portofolionya. “Saya berpendapat bahwa tidak ada sebuah instrumen yang dapat ‘pasti’ menguntungkan setiap saat sehingga berinvestasi pada instrumen lain juga sangat penting menurut saya,” katanya.

Untuk berinvestasi, pedoman yang ia gunakan adalah membeli saham yang berada di dalam indeks besar seperti LQ45, IDX80, atau Kompas 100. Kemudian, menganalisisnya kembali, terutama dari sektor sahamnya. Di kala pandemi Covid-19, untuk portofolio trading, frekuensi trading sangat jauh berkurang karena Adi tidak trading ketika pasar secara keseluruhan sedang turun. “Namun untuk portofolio investasi, intensitas membeli saya bertambah dibanding biasanya, karena banyak emiten yang ‘diskon’ besar ketika pandemi kemarin,” kata pria yang kini berusia 23 tahun ini.

Apa pengalaman paling berkesan dalam berinvestasi? “Keuntungan terbesar saya pada satu saham mungkin pada saham PPRO (PP Properti). Saya pernah membelinya sekitar harga Rp 300-an dan menjualnya di level sekitar Rp 1.200 (harga sebelum stock split),” ungkapnya. Adapun kerugian terbesarnya terjadi pada 2020. Di tahun pandemi ini portofolio sahamnya sempat turun sekitar 40% walaupun sudah kembali normal lagi pada akhir 2020 saat pasar sudah rebound.

Dalam bertransaksi, Adi menggunakan berbagai sekuritas, meskipun saat ini yang ia gunakan paling aktif adalah sekuritas Philips dan Indopremier. “Saya memilih menggunakan sekuritas ini karena interface-nya ramah terhadap investor ritel dan berbagai fasilitas kemudahan, misalnya Indopremier mempunyai stock screener yang saya bisa gunakan,” kata Adi yang berwirausaha di bidang alat tulis kantor ini.

Nilai transaksinya bervariasi dengan mengikuti modal yang ia gunakan, yaitu biasanya ia memecah modalnya menjadi 10 posisi untuk diversifikasi. “Saya selalu menggunakan position sizing yang sama atau memecah posisi saya menjadi sekitar 10 saham sehingga tidak ada transaksi dengan jumlah yang memiliki nominal besar sendiri,” ucapnya. Dana investasi yang telah ia benamkan nilainya sekitar ratusan juta.

Adi pun berharap bursa saham Indonesia dapat terus berkembang terutama mengenai ketersediaan data yang lengkap dan panjang. “Hal lainnya, saya juga berharap bursa Indonesia dapat terus berkembang dari segi produk juga, seperti ETF, Reverse ETF, dan option,” katanya. (*)

Dede Suryadi dan Darandono

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)