Ferdie Darmawan: Usia Belia, tetapi Punya Strategi Matang

"Jangan pernah berpikir untuk kaya cepat dari berinvestasi. Dalam berinvestasi, waktu adalah teman setia Anda untuk menikmati keajaiban compound interest yang disebut oleh Albert Einstein sebagai keajaiban dunia yang kedelapan. Semakin cepat Anda memulai, semakin besar kesempatan Anda untuk menuai hasilnya."

Ferdie Darmawan Ferdie Darmawan

Prinsip itulah yang benar-benar diterapkan Ferdie Darmawan, investor muda nan sibuk yang mulai menjajal pasar saham ketika masih duduk di bangku kuliah. Kini ia telah menerapkan strategi perencanaan keuangan yang matang di usia yang terbilang masih sangat muda. “Yang saya lakukan dalam berinvestasi di pasar modal, tujuannya untuk pengembangan aset dan fokus di capital gain, bukan sebagai cashflow untuk kebutuhan sehari-hari,“ kata pria yang kini aktif sebagai investment professional, praktisi perencana keuangan, dan penulis ini.

Memang, sejak masih kuliah di Institut Teknologi Bandung, kelahiran Jakarta, 5 Juni 1988, ini telah tertarik dengan dunia pasar modal. Saat itu ia bahkan aktif di Kelompok Studi Ekonomi dan Pasar Modal ITB. Dari situlah ia mulai mengenal dunia pasar modal dan berkenalan dengan para pakarnya karena komunitas ini sering mengadakan event dengan mengundang para pakar dari dunia pasar modal.

Ferdie juga banyak belajar dari berbagai sumber, baik buku, seminar, webinar, diskusi dengan investor lain, majalah, tabloid keuangan, maupun Internet. Hingga saat ini ia telah membaca 200-an buku dan e-book. “Saya percaya bahwa investasi ilmu pengetahuan akan memberikan return terbesar. Seperti kata Benjamin Franklin, ‘Investment in knowledge always pays the best interest’,” ia menandaskan.

Namun, jangan salah, meskipun berinvestasi saat masih kuliah, uang yang digunakan Ferdie untuk investasi adalah uangnya sendiri, bukan uang jajan dari orang tuanya. Modal yang ia gunakan adalah uang yang ia kumpulkan sejak masih sekolah di taman kanak-kanak. Orang tua Ferdie selalu mengajarkannya untuk menabung sejak kecil. Hasilnya, di momen-momen spesial seperti ulang tahun maupun tahun baru, ia telah terdidik untuk tidak meminta hadiah berupa barang, melainkan selalu meminta dalam bentuk uang tunai dari orang tua yang kemudian ia tabung.

Selain terbiasa menabung sejak kecil, tampaknya Ferdie memang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi pula. Semasa sekolah, ia pernah berdagang CD lagu dan sticker; makanan anak-anak seperti es mambo, makaroni goreng dan kentang goreng; sampai membuat desain pin dan kaus guna memperoleh penghasilan tambahan. Hasilnya ia jadikan modal awal dalam berinvestasi.

Dulu Ferdie memang seorang trader yang sering melakukan transaksi jual-beli dalam waktu yang sangat singkat, bahkan bisa dalam hitungan jam. Ia bahkan sampai mempelajari bahasa programming untuk software trading seperti Metastock & Amibroker, serta melakukan backtesting indikator dan parameter untuk setiap saham yang ada di bursa. Jenis buku yang ia baca pun awalnya adalah buku-buku mengenai trading seperti Trading for A Living & Come Into My Trading Room dari Alexander Elder. Namun, sebenarnya saat pertama kali berinvestasi pada 2007, Ferdie justru mulai dengan membeli reksa dana pasar uang.

Setelah merasakan pengalaman yang cukup di reksa dana, ia mulai memberanikan diri untuk trading langsung di bursa saham di pertengahan 2007, di mana kondisi pasar saat itu sangat bullish. “Saya cukup beruntung karena pada tahun 2007 tersebut pasar dalam kondisi bullish, sehingga saya mendapatkan gain yang lumayan,” ujarnya.

Meskipun telah merasakan profit dari trading, ia mulai menyadari bahwa trading seperti ini cukup menyita waktunya dan tidak sesuai dengan tujuan awal dirinya berinvestasi di pasar modal, yakni memperoleh passive income serta menumbuhkan nilai uangnya. “Saya mulai berpikir, bila saya trading di bursa, sama saja saya sedang bekerja di bursa, dan bukan merupakan passive income karena saya harus memonitor portfolio secara aktif dan terus-menerus mencari peluang baru setiap saat,” ungkapnya.

Terlebih di 2008, karena pengalaman yang masih minim, ia menderita kerugian sekitar 40% dari total portofolio yang ia gunakan untuk trading. Namun, dari situ Ferdie jadi semakin rajin membaca buku dan berkonsultasi kepada mentor dan orang yang lebih berpengalaman. Ia mulai mengenal buku-buku investasi jangka panjang seperti The Intelligent Investor, Rule One Investor, Warren Buffett Way, dan beberapa buku karangan Mark Mobius dan Peter Lynch, manajer investasi legendaris dari Amerika Serikat. Secara perlahan semua itu akhirnya mengubah gaya investasi Ferdie, dan ia pun mulai menerapkan ilmu perencanaan keuangan secara otodidak.

Ferdie Darmawan

Kini, Ferdie telah menyusun portofolionya dalam sebuah konsep perencanaan keuangan yang sesuai dengan beberapa tujuan yang ingin dicapainya. Gambaran portofolionya saat ini adalah sekitar 60% di reksa dana saham dan saham dengan tenor di atas lima tahun, sekitar 30% di reksa dana pendapatan tetap dengan tenor 3-5 tahun, dan sekitar 10% di reksa dana pasar uang, perbankan dan logam mulia dengan tenor 1-3 tahun. Dan, sebelum melakukan alokasi dana tersebut, Ferdie memastikan dirinya bebas dari jeratan utang konsumtif, telah memiliki dana darurat, dan memiliki proteksi/asuransi sebagai manajemen isiko.

Dari 100% dananya di saham, 80%-90% ia alokasikan di saham-saham terbaik pada sektor terbaik dan memiliki likuiditas tinggi serta memenuhi kriteria dari segi P/E ratio dan EPS growth. Hanya 10%-20% yang terkadang ia gunakan trading. Dalam hal trading, Ferdie selalu menunggu terjadi koreksi yang cukup dalam di bursa, minimal 15% untuk mulai memasang posisi secara perlahan. Ia mengaku pernah meraih gain besar dari saham PT Astra International Tbk .(ASII). “Saya pernah membeli Astra di harga sekitar Rp 18 ribuan dan menjualnya di harga sekitar Rp 60 ribuan,” ujarnya.

Target return tahunan Ferdie di saham adalah 15%-20% per tahun. “Realisasinya, kadang-kadang lebih atau kurang dari itu. Angka itu mungkin terlihat kecil bagi Anda yang sudah terbiasa trading di pasar saham. Tetapi, yang saya utamakan dalam investasi saya adalah konsistensi pertumbuhan serta meminimalkan waktu monitoring sehingga saya dapat melakukan berbagai kegiatan produktif lainnya tanpa harus memonitor portfolio saya,” ia menjelaskan. Ke depan, ia ingin tetap menjaga pertumbuhan 15%-20% secara sinambung dan terus belajar untuk mengasah ilmu.

Saran Ferdie bagi para calon investor adalah bila ingin berinvestasi di saham secara langsung, sebaiknya mengerti dulu konsep perencanaan keuangan. Gunakanlah uang yang benar-benar tidak terpakai atau bukan untuk kebutuhan sehari-hari dan jangan lupa pelajari dulu ilmunya sebelum memutuskan terjun langsung di pasar modal.

Alokasi Portofolio Ferdie:

  • +/- 60% di reksa dana saham + saham (tenor >5 thn)
  • +/- 30% di reksa dana pendapatan tetap (tenor 3-5 thn)

  • +/- 10% di reksa dana pasar uang + perbankan + logam mulia (tenor 1-3 thn)

Return: 15%-20% per tahun

Strategi Berinvestasi Ferdie:

  • Menyusun portofolio dalam sebuah konsep perencanaan keuangan, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

  • Membagi portofolio menjadi tiga termin: jangka pendek (1-3 tahun), jangka menengah (3-5 tahun), dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun).

  • Mengalokasikan dana pada lima saham yang masuk dalam top 10 market cap untuk jangka panjang
  • Membuat asumsi Compound of Annual Growth Rate, lalu dengan rumus anuity menghitung kebutuhan investasi bulanannya.
  • Jika ada dana yang “menganggur”, (di luar alokasi sesuai dengan tujuan perencanaan keuangan) barulah digunakan untuk trading.
  • Mengambil posisi untuk trading hanya jika terjadi koreksi yang cukup dalam di bursa, minimal 15%

Leave a Reply

3 thoughts on “Ferdie Darmawan: Usia Belia, tetapi Punya Strategi Matang”

Mencari ilmu memang investasi yang mengembalikan keuntungan paling besar
by dibalikbuku, 19 Aug 2015, 17:05
Luar biasa Ferdi, diusia belia telah mampu memberikan kontribusi dan edukasi pentingnya perencanaan keuangan kepada masyarakat. Semoga tetap eksis dan konsisten didalam melakukan pembaharuan/revolusi perencanaan keuangan kepada masyarkat Indon esia.
by Yusuf Sugiarto, 24 Mar 2013, 07:25
dari pengalaman ferdie,saya teringat ketika tahun 2010 kemarin saya bermain saham bermodalkan 10 jt rupiah dan menderita kerugian 2,3 jt rupiah.Akhirnya saya putuskan menarik kembali dana saya di sekuritas dimana saya join.Kesalahan terbesar saya karena tidak mempunyai stretgi berinvestasi sehingga membuat saya rugi sebesar itu.
by Jasa SEO, 14 Mar 2013, 21:37
Luar biasa, masih muda belia sudah bisa menjadi perencana keuangan. Indonesia butuh banyak anak muda jenius seperti ini
by Purba Kuncara, 14 Mar 2013, 19:03

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)