Misi Perubahan Muhammad Awaluddin di Angkasa Pura II

Pesatnya pertumbuhan jumlah penumpang pesawat udara di Indonesia memaksa Angkasa Pura II sebagai pengelola 13 bandara di Indonesia untuk berubah, baik dari sisi operasional maupun digitalisasi layanannya.

Muhammad Awaluddin Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero)

 

Dengan penumpang yang diperkirakan menembus 100 juta orang pada ini, Direktur Utama baru PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin paham bahwa terdapat tiga tantangan utama yang membelit perusahaannya. Pertama, isu kapasitas bandara dan kapasitas permintaan, kedua pembangunan sisi soft infrastructure, alias teknologi digital, terakhir membangun digital society yang melibatkan para pengguna jasa AP II. “Pelanggan AP II bukan lagi di Jakarta atau Pulau Jawa, tetapi seluruh dunia. Pasar telah menjadi begitu luas. Jadi satu-satunya jalan bagi AP II adalah dengan transformasi; berubah atau mati,” jelas Awaluddin yang sebelum menjadi dirut AP II pada September 2016 telah 25 tahun berkarir di PT Telkom dengan posisi terakhir sebagai Direktur Enterprise dan Business Service.

Awaludding memperkirakan bahwa kapasitas bandara-bandara kelolaan AP II baru mencapai 75 juta penumpang per tahun ini.. Karena itu dirinya harus bergerak cepat mengejar backlog ketertinggalan yang tembus 20 juta lebih itu. Kepadatan luar biasa pun terjadi dalam aspek pergerakan pesawat. Tidak kurang dari 500 ribu take off dan landing di 13 bandara tersebut selama satu tahun. Dari total penumpang di atas, Bandara Internasional Soekarno-Hatta,Cengkareng, Tangerang menyumbang 60% lalu lintas penumpang. “Berarti kita bisa lihat Soekarno-Hatta menjadi center of gravity dari manajemen pengelolaan bandara di AP2,” ujar pria kelahiran Jakarta, 15 Januari 1968 itu.

Satu persatu ketiga tantangan di atas pun coba diatasi Awaluddin. Tantangan infrastruktur yang paling krusial untuk ditangani akan diatasi dengan konsep Leading Supply Infrastructure. Dengan konsep tersebut, pembangunan atau peningkatan kapasitas bandara dilakukan hingga 40 % lebih, atau jauh di atas prediksi laju penumpang tahunan.

Contohnya seperti Bandara Minangkabau di Kota Padang, Sumatera Barat. Prediksi penumpang di bandara tersebut diperkirakan naik dari 3,8 juta menjadi 4,2 juta tahun ini, karena itu peningkatan kapasitas idealnya harus di angka minimal 5,2 juta penumpang agar mampu mencukupi hingga beberapa tahun ke depan. Contoh lainnya di Bandara Soekarno Hatta yang kini tengah membangun terminal 4 dan penambahan runway dan taxi way, gardu induk untuk suplai listrik dan sebagainya.

Sementara itu tantangan kedua coba diatasi dengan konsep Smart Airport. Konsep untuk meningkatkan customer experience itu diwujudkan melalui aplikasi mobile Indonesia Airport Apps. Dengan aplikasi yang bisa diunduh ponsel pintar tersebut, tersedia sumber informasi untuk penumpang, seperti jadwal pesawat, posisi pesawat yang akan berangkat, informasi pesawat yang tertunda keberangkatannya, pemesanan taksi dan lain sebagainya. Menurut Awaluddin, saat ini aplikasi Indonesia Airport Apps telah mencapai 30 ribu pengguna dengan target sampai akhir tahun mencapai 1 juta pengguna.

Sementara di sisi internal AP II juga menggunakan aplikasi bertitel iPerform. Dengan aplikasi manajemen internal tersebut AP II bisa memonitor berapa pesawat yang jalan, dan berbagai operasi lainnya seperti data transaksi cash tenant, pergerakan penumpang harian di 13 bandara dan lain sebagainya.

Terakhir tantangan membangun digital society. Dalam hal ini AP II secara kontinyu terus menyosialisasikan konsep smart airport dan digital infrastructure yang akan meningkatkan pengalaman pengguna, yakni para pengunjung bandara AP II.

Ketiga perubahan di atas sendiri termasuk dalam tiga gagasan transformasi utama AP II yang diinisiasi Awaluddin. Ketika awal masuk ke dalam perusahaan, Awaluddin membentuk tim transformasi perusahaan bertitel Corporate Transformation Group.

Gugus tugas lintas divisi itu yang diserahi amanat untuk mengawal berbagai program transformasi perusahaan yang terbagi ke dalam tiga program utama. Pertama, transformasi bisnis dan portofolio usaha. Program ini menekankan pada upaya optimalisasi kinerja berbagai unit bisnis dan anak usaha. “Tidak boleh lagi antar anak ada overlap, saya menekankan parenting strategy yang tepat dari induk kepada anak,” jelas Awaluddin seraya menerangkan kini AP II telah memiliki 6 anak usaha, Angka Pura Solusi, Angkasa Pura Cargo, Angkasa Pura Propertindo, Gapura Angkasa, Railink, dan Purantara.

Adapun transformasi kedua di bidang infrastruktur dan sistem operasi penjabarannya terlihat bidang peningkatan kapasitas bandara, pembangunan infrastruktur digital dan edukasi digital society.

Sementara yang terakhir, transformasi sumber daya manusia (SDM). Dalam transformasi ini, AP II merancang budaya perusahaan dalam akronim PERFORM. Pride of Indonesia, Enterpreneurial, Respectful, Focus, Orientasi excellent service, Responsible, Meritocratic.

Awaluddin menekankan, berbagai strategi di atas diusung demi mewujudkan visi perusahaan yaitu The Best Smart Connected Airport in the Region. Adapun pada tahun 2017 ini tujuan utama perusahaan adalah pertumbuhan triple double digit growth alias bertumbuh minimal 10%, kedua meraih 100 juta penumpang, dan ketiga, mengimpplementasikan konsep smart airport di tiga bandara percontohan, yaitu Soekarno-Hatta, Kualanamu, dan Husein Sastranegara.

Semua itu akan berujung pada target jangka panjang AP II, yakni 2020 Giant Dream, yang isinya; peningkatan pengguna lebih dari 120 juta penumpang per tahun; pendapatan di atas Rp 13 triliun; EBITDA Rp 6 triliun; kontribusi bisnis non-aero mencapai 50% lebih dan skor ASQ service level di atas 4,7.

Sejauh ini, dengan berbagai transformasi yang diusung, AP II mencatat kinerja positif pada enam bulan pertama 2017. Pendapatan perseroan pada Semester I 2017 tercatat Rp 3,82 triliun atau meningkat sekitar 29% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,97 triliun. Adapun target pendapatan sampai akhir 2017 sebesar Rp 8,6 triliun.

Lantas, laba usaha perseroan turut mengalami kenaikan yang cukup signifikan hingga 62% atau menjadi Rp1,46 triliun dari sebelumnya Rp 905 miliar pada Semester I 2016. EBITDA usaha pun turut melonjak hingga 53% dari Rp 1,25 triliun pada semester I 2016 menjadi Rp 1,92 triliun pada semester I 2017. “Dari semua hal yang saya sebutkan maka ultimate goals yang ingin dicapai adalah business sustainability, world class company, dan employee prosperity,” Awaluddin menegaskan. (Reportase: Yosa Maulana/Riset: Elsi Anismar)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)