BII Gandeng Cita Tenun dan Sukma Inspirasi Dukung Wirausaha Perempuan

Perempuan memang selalu bisa memainkan peran ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai pekerja kantoran atau wirausaha. Potensi inilah yang menjadi perhatian BII untuk mendukung wanita khususnya para wirausaha wanita. Lebih fokus lagi yaitu untuk para wirausaha wanita yang membangun usahanya berbasis kebudayaan Indonesia seperti para desainer dan perajin tenun.

BII CSR Wirausaha Perempuan

Managing Diretur BII, Jenny Wiriyanto, mengatakan, pihaknya sudah mulai konsen terhadap para wirausaha perempuan khusus pengusaha kain tradisional sejak dua tahun lalu. “ Kami mulai sejak September 2012 melalui Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha” jelasnya. Melalui prgram CSRnya, BII menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 1 miliar kepada para pengusaha kain tradisional didaerah yang tergabung dalam Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha (ASPPU).

ASPPU  telah ada di seluruh propinsi di Indonesia . Lembaga ini ditujukan untuk para pengusaha kain tadisional dengan skala usaha mikro dan kecil. “Jadi mereka diberikan bantuan dana bergulir dan dibina sehingga profilnya bankable,” jelas Jenny. Bagi para anggota ASPPU yang profil usahanya sudah bankable bereka bisa secara mandiri mengakses tambahan modal lewat layanan unit usaha mikro BII di daerahnya.

BII juga menggandeng Sukma Inspirasi, sebuah komunitas yang mewadahi para pengusaha perempuan. Melalui kerjasama ini, BII bisa menemukan banyak talenta wirausaha perempuan khususnya mereka konsen untuk mengembangkan usaha dengan berbasis kebudayaan. Di antaranya adalah Ella V. Brizadly, desainer sekaligus pemilik Pribumi—label produk tas sepatu. Ella fokus mengembangkan tas dan sepatu kulit dengan aplikasi kain-kain tradisonal Indonesia. Desainer lainnya yang juga bergabung dalam komunitas tersebut adalah Elvara Jandini Subyakto dengan fashion dengan teknik tye dienya yang diproduksinnya di Yogyakarta.

Masih dengan program yang sama, BII juga menggandeng Cita Tenun Indonesia yang diketuai oleh Ibu Okke Hatta Rajasa. Okke mengaku, CTI mengambil peran sebagai fasilitator yang mempertemukan para perajin kain di daerah dengan desainer fashion, interior dan aksesoris.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan, Okke yakin para perajin kain di daerah bisa turut meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Kami telah melihat hasilnya seperti di kabupaten Garut yang kini para perajinnya bisa mendapat omset hingga Rp 200 juta per bulan,” ungkapnya.

Hasil kolaborasi antara para pejain dan desainer terebut kemudian oleh CTi dibawa untuk menghadiri sejumlah pameran di luar negeri. Bahkan beberap produk fashion dari kain-kain tradisional itu sduah mendapatkan tawaran dari dua departemen store papan atas di Washington DC, USA. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)