Lembaga Global Berikhtiar Mengentaskan Epidemi Ini

Krittayawan Boonto, UNAIDS Country Director Indonesia. (Foto : Ist)

UNAIDS dan mitra global akan membentuk Aliansi Global Baru untuk mengakhiri AIDS pada anak serta kegiatan amal yang akan diresmikan pada 1 Desember 2022 di CGV Pacific Place, Jakarta.

Setiap tahunnya pasien terinfeksi HIV terus meningkat. Dari data epidemiologi UNAIDS, jumlah pengidap HIV hingga tahun 2021mencapai 38,4 juta jiwa. Situasi epidemi pada kelompok perempuan dan anak menunjukkan angka yang memprihatinkan. Hal ini dibahas dalam World AIDS Day 2022 bertajuk Let’s Equalize, No Woman and Child Left Behind pada 25 November 2022, di Gedung Tempo, Jakarta.

Orang yang hidup dengan HIV di Indonesia terdapat sekitar 543.100 dengan estimasi 27 ribu kasus infeksi baru di 2021. Sebanyak 40% kasus infeksi baru terjadi pada perempuan, sementara lebih dari 51% terjadi pada kelompok remaja (usia 15-24 tahun) dan 12% infeksi baru pada anak.

Sayangnya, hanya 28% yang menerima pengobatan anti retroviral (ARV). Indonesia menduduki posisi 3 terbawah di Asia Pasifik untuk cakupan pengobatan ARV bersama dengan Pakistan dan Afghanistan. Hampir setengah dari kasus infeksi HIV baru pada anak, dipastikan berasal dari Ibu yang tidak menerima terapi ARV.

Untuk merealisasikan epidemi AIDS pada 2030, semua orang harus meningkatkan upaya pencegahan. Semua orang dengan hasil tes positif harus segera menjalani treatment ARV dan yang sedang menjalani pengobatan harus disiplin untuk mencapai viraload tersupresi.“Penguatan multi-sektoral menjadi penting untuk dilakukan agar mendapatkan dukungan yang cukup untuk program HIV. Negara juga harus prioritaskan pembiayaan program HIV. Dengan begitu, saya yakin bahwa kita semua dapat akhiri AIDS pada 2030,” ungkap Krittayawan Boonto, UNAIDS Country Director Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Data juga menunjukkan bahwa ada banyak ibu menghentikan terapi, selama masa hamil dan menyusui. Selain itu adanya hambatan hukum yang mempersulit para ibu melakukan tes HIV dan memulai terapi ARV sebelum hamil menyebabkan semakin meningkatnya kasus penularan. Padahal perempuan dan anak dengan HIV merupakan populasi kunci yang seharusnya menjadi prioritas untuk mengakhiri epidemi AIDS.

Sayangnya, mereka masih menghadapi berbagai tantangan untuk melakukan pengobatan. Pada ibu hamil dan menyusui alasan untuk menghentikan terapi karena adanya keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, biaya, stigma dan diskriminasi dari lingkungan sekitar dan efek samping obat. Bagi anak dan remaja juga bukan hal yang mudah untuk mengakses layanan kesehatan.

Adanya keterbatasan obat khusus anak dan hambatan hukum seperti kebijakan persyaratan usia juga menjadi alasan sulitnya mendapatkan pengobatan. Belum lagi pengetahuan mengenai isu HIV serta kesehatan seksual dan reproduksi, stigma masyarakat dan kurangnya dukungan keluarga semakin menyulitkan mereka untuk bisa mengakses antiretroviral therapy.

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)