Sinergi CCFI – BMGF untuk Perpus Seru

Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) bekerja sama dengan Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) untuk mengembangkan program PerpusSeru. Program ini bertujuan untuk membantu mengembangkan perpustakaan umum di Indonesia menjadi pusat belajar masyarakat berbasis teknologi informasi serta merevasilitasi fungsi perpustakaan umum.

Program yang dimulai sejak Oktober 2011 ini, sudah bermitra dengan 34 perpustakaan di 16 provinsi di Indonesia. “Program Perpus Seru sendiri kami luncurkan pada bulan Oktober 2011.Tapi Coca Cola Foundation sudah menjalankan program pemberdayaan perpustakaan sejak tahun 2000,” kata Triyono Prijosoesilo, Wakil Direktur CCFI.

perpus seru

Melihat adanya kesamaan program, CCFI dan BMGF melakukan kerja sama untuk dapat mengembangkan perpustakaan umum yang ada di Indonesia. “Sekitar 2009-2010 pihak Bill and Melinda Gates Foundation datang ke Indonesia dan kebetulan mereka melakukan program kegiatan yang serupa di luar negeri. Di tahun 2011 kami akhirnya diajak oleh Bill and Melinda Gates foundation untuk bersama-sama menggerakan program pemerdayaan perpustakaan ini di Indonesia,” lanjut Triyono.

Menurut Trioyono, tujuan diadakannya program PerpusSeru ini adalah untuk mengangkat harkat hidup masyarakat di Indonesia. Kita melihat perpustakaan itu suatu aset yang selama ini kurang termanfaatkan dengan baik. Dengan adanya program PerpusSeru ini, dia berharap, dapat mengubah pola pikir masyarakat terhadap perpustakaan. “Pemerintah punya banyak perpustakaan, tapi orang kok hanya melihat sebagai tempat buku. Padahal bisa lebih dari itu. Makanya kami coba masuk dari perpustakaan. Bill and Melinda Foundation juga melihat perpustakaan sebagai tempat yang sanga kritis. Oleh karena itu pihaknya mendukung untuk akses informasi melalui digital/internet,” paparnya.

Jeremy Paley, Associate Program Officer BMGF, mengatakan hal yang serupa. “Perpustakaan bukan hanya tempat mencari informasi, tapi juga untuk mendapat pendidikan, informasi kesehatan, dan peningkatan ekonomi. Jadi kami mengubah pola pikir masyarakat terhadap perpustakaan. Pengaruh perpustakaan terhadap masyarakat, jadi bisa membantu masarakat menggapai impian mereka,” katanya.

Jeremy sebagai wakil dari BMGF menyampaikan bahwa pihaknya ingin masyarakat di dunia khususnya Indonesia dapat mengakses informasi dengan mudah. Selain itu juga dia berharap masyarakat dapat menjadi mandiri dan mampu membantu orang lain. “Terkadang mereka menciptakan pekerjaan di lingkungannya sendiri. Jadi tingkat kejahatan bisa berkurang, karena mereka bisa menyerap tenaga kerja dengan adanya perkembangan dan tersedianya pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Masih kurangnya akses jaringan internet di berbagai daerah di Indonesia, BMGF mencoba memberi solusi agar seluruh masyarakat dapat dengan mudah mengakses internet secara gratis. “Di Indonesia hanya 20 persen yang memiliki akses terhadap internet. Dan di daerah pedesaan kurang dari 6 persen. Jadi masih banyak yang belum mendapatkan manfaat dari internet,” lanjutnya.

Menurut Jeremy, dengan akses internet yang mudah didapat, mampu menambah pengetahuan masyarakat dan juga melestarikan kebudayaan lokal. “Dengan mudahnya budaya luar untuk diakses ditakutkan dapat memengaruhi budaya yang sudah ada. Tapi ternyata dengan adanya internet, budaya lokal dapat dijaga. Banyak pengguna internet dapat mengakses dan belajar budaya lokalnya sendiri melalui internet,” paparnya.

Jeremy mengaku untuk pelaksanaan tahap awal program tersebut, pihak BMGF memberikan dana sebesar US$5 juta dolar.

Titie Sadarani, Direktur Pelaksana CCFI, mengungkapkan bahwa program tersebut sangat cocok dilakukan di Indonesia. “Sebab, tidak semua orang punya akses internet secara gatis. Memang pengguna mobile phone sangat tinggi, tapi banyak keterbatasannya. Dengan mereka datang ke perpustakaan mereka bisa akses kapan saja,” katanya.

Menurut Titie, untuk dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang tidak harus bergantung pada orang lain. “Kita bicara tentang bagaimana orang bisa memperbaiki kualitas hidupnya dengan caranya sendiri, tidak harus jadi pegawai negeri, tidak harus tergantung orang lain. Jadi mereka bisa menciptakan pekerjaannya sendiri. Jadi intinya mereka bisa self learning dan self motivation,” ucapnya.

Bagi mereka yang tidak memiliki biaya untuk sekolah, berkat adanya program tersebut, mereka dapat dengan mudah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. “Orang yang tidak punya biaya untuk sekolah tetap bisa belajar dan jadi pengusaha. Jadi tidak ada batasan umur dan gender atau status sosial. Bagi ibu-ibu yang datang mereka mungkin susah klo beljar sendiri. Maka dari itu kita ada staff yang membantu. Selain mereka bisa memasarkan batik secara online, mereka juga jadi banyak teman dan membuat jaringan. Jadi kita juga membangun rasa percaya diri,” ungkapnya.

Titie juga menjelaskan kelebihan dari program Perpus Seru tersebut. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat umum. Oleh Karen itu, perpustakaan seharusnya bisa digunakan untuk berbagai kegiatan.” Perpustakaan merupakan tempat untuk free space. Bisa jadi semacam gedung serba guna. Sekarang jadi ada ruangan yang bisa dipakai kapan saja. Seperti di pamekasan ada sekelompok anak muda yang berkumpul disitu. Karena ini bukan hanya tempat baca buku tapi juga bisa dipakai buat kegiatan lain, karena ini merupakan public space,” paparnya.

Meskipun CCFI dan BMGF sudah tidak bisa mendampingi, namun Titie berharap pihak managemen perpustakaan mampu berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari luar. “Nanti yang menjalankan perpustakaan tetap orang perpustakaan. Jadi kita melakukan training bagi para staff perpustakaan, biar nanti program ini masih tetap terus berjalan. Itulah kenapa kita fokus ke SDM,” ungkapnya.

Dengan luasnya daerah di Indonesia, Titie merasa program yang sedang dilaksanakannya ini mendapat tantangan yang cukup besar. Namun, menurut Titie, bila program tersebut dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan hasil yang baik maka dapat meningkatkan perekonomian daerah.

“Menurut undang-undang setiap daerah itu harus punya perpustakaan. Jadi bayangkan ada berapa asset yang bisa kita bangun dan berapa public space yang bisa diaktifkan. Kalau itu bisa dikembangkan, itu bisa membuat mesyarakat jadi kreatif dan menciptakan pekerjaan, bisa menaikan pendapatan daerah karena ekonomi daerahnya jadi naik,” papar Titie.

Untuk rencana ke depan program tersebut, Titie mengaku pihak CCFI dan BMGF sedang berdiskusi untuk kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang. Dari hasil monitoring yang sedang dilakukan, Titi mengatakan bahwa pihaknya melihat bahwa program tersebut berjalan dengan baik. Hal tersebut terlihat dengan adanya masyarakat yang secara perekonomiannya meningkat. “Ada tukang parkir di Pamekasan, dia belajar bagaimana caranya berternak ayam. Dan sekarang bisa menjual satu ayam adu harganya Rp5 juta, jadi pendapatannya dari berternak ayam lebih besar dari tukang parkir,” pungkas Titie. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)