Coca Cola Foundation Bangun 900 Sumur Resapan di Mojokerto

Sejak akhir 2012, Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) melakukan pembangunan sumur resapan untuk meningkatkan debit air pada mata air di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Program ini diberi nama “Lumbung Air”, yang terlaksana berkat kolaborasi CCFI dengan Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) yang berada di bawah USAID Indonesia, serta Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS).

Melalui program tersebut diestimasikan bahwa sekira 392 juta liter air bisa dikembalikan ke tanah setiap tahunnya, melalui sekitar 900 sumur resapan yang dibangun tersebar di sekitar wilayah Pacet, Mojokerto. Daerah itu berfungsi sebagai daerah resapan air untuk wilayah Mojokerto, Sidoarjo, hingga sebagian Surabaya.

Peresmian Sumur Resapan CCFI

“Kalau untuk program di Mojokerto ini, kami menggelontorkan dana sebesar US$250 ribu. Dengan dana sebesar itu, tadinya kami menargetkan bisa membuat sumur resapan sebanyak 650 buah. Tapi karena ada efisiensi yang terjadi (selama pengerjaan), maka masih ada sisa uang. Namun kami tidak mau uangnya dikembalikan, kalau bisa buat lebih banyak sumur resapan lagi ya kami bikin lagi saja. Jadi kami setuju dengan IUWASH, bahwa sisa uangnya akan kita pakai untuk membangun sumur lebih banyak lagi. Sehingga total semua sumurnya menjadi 900 buah,” tutur Titie Sadarini, Ketua Pelaksana Coca Coca Foundation Indonesia (CCFI).

Pada tahap pertama pembangunan sumur resapan, dimulai sejak akhir 2012 sampai awal 2014, telah selesai dibangun sebanyak 650 sumur di Desa Claket, Padusan, dan Pacet, yang kesemuanya ada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Kemudian, pada tahun 2014 ini sedang dibangun lagi sebanyak 250 sumur di Desa Wiyu, Kecamatan Pacet, dan Desa Sumberjati, Kecamatan Jatirejo. “Dengan ini diharapkan sekira 2600 rumah di wilayah program bisa mendapat manfaat berupa perbaikan ketersediaan air tanah dan pengendalian banjir,” imbuh Titie.

Mengenai kolaborasi dengan USAID, khususnya IUWASH, dan YLHS, Titie mengatakan bahwa itu dilakukan untuk monitoring implementasi program di lapangan. Karena walaupun CCFI telah meriset terlebih dulu soal pantas tidaknya satu wilayah menjadi tempat program Lumbung Air itu, namun untuk implementasi tetap dibutuhkan bantuan pihak lain yang lebih mengerti wilayah itu. Apalagi CCFI sudah pernah beberapa kali bekerja sama dengan USAID sebelumnya. Wilayah Mojokerto sendiri merupakan salah satu wilayah tempat operasi dari IUWASH, yang merupakan sebuah lembaga yang concern terhadap masalah air di Indonesia.

“Tiap program itu harus kami lihat perkembangannya bagaimana, maka perlu monitoring kan. Jadi kami butuh pihak untuk monitoring itu, yang mana dia bisa duduk dengan partner kami, masyarakat, dan dia bisa kasih rekomendasi apakah ada yang bisa dikembangkan lebih lanjut dari program itu atau tidak. Kalau bentuknya pembelian itu pakai dana yang kami kasih, namun dana saja tidak cukup kan, karena tetap perlu ada pelatihan teknik pembuatan dan desain sumurnya. Jadi USAID, dalam hal ini IUWASH, memberikan technical assistance kepada YLHS dan warga untuk pembangunan sumurnya,” kata Titie.

Program yang berhubungan dengan air seperti ini memang sudah sudah menjadi fokus perusahaan Coca Cola secara global, tidak hanya di Indonesia. Sejak 2005, Coca Cola telah terlibat di lebih dari 320 community water partnership di 86 negara. Di Indonesia sendiri, sejak 2006, investasi terhadap total program air oleh CCFI sudah mencapai US$2 juta, yang mana ini meliputi 12 program dari Sumatera Utara hingga Nusa Tenggara Timur. Namun, Titie mengakui bahwa CCFI tidak pernah mematok berapa dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan satu program corporate social responsibility (CSR)-nya.

“Kami tidak pernah punya target menaruh dana sekian untuk CSR, sebab kami bikin programnya bottom up. Misal kami dan IUWAH sudah memetakan daerah-daerah yang bisa dilakukan konservasi air. Nanti kami cari mitra pelaksana seperti YLHS. YLHS kasih proposal ke kami, jadi kami tidak hanya langsung kasih uang saja, dan menyuruh dia menjalankan saja. Tapi dia juga harus membuat proposal implementasi berdasarkan briefing dari kami. Proposal itu kami evaluasi lagi. Tapi IUWASH memang sudah kasih rekomendasi juga ke kami, bahwa yang ditulis YLHS dalam proposalnya itu benar. Jadi sebenarnya kami bisa terima banyak proposal dari berbagai LSM yang tertarik bergabung di program air, tapi itu harus kami evaluasi lagi, karena mencari mitra yang punya komitmen dan kapabilitas bagus itu tidak gampang,” papar Titie.

Coca Cola sendiri memandang bahwa konservasi air adalah prinsip fundamental yang harus dilaksanakan di setiap negara tempatnya berproduksi. Karena sebagai produsen minuman, tentu saja penggunaan air oleh perusahaan ini sangat banyak. Jadi mereka, melalui Coca Cola Foundation-nya memiliki dua program yang berkaitan dengan air. Pertama yakni program Big Drop, yang bentuknya konservasi, seperti yang dilakukan di Mojokerto ini. Kedua adalah program Small Drop, yang lebih fokus kepada akses air bersih, masalah kesehatan (higienis dan sanitasi) untuk masyarakat di sekitar pabriknya beroperasi.

Selain di Mojokerto, program Big Drop dalam bentuk pembangunan sumur resapan pernah dilakukan juga di Sibolangit, Sumatera Utara (2012-2013), serta dalam bentuk pembangunan dan pemasangan pompa Hydram di Sombron, Jawa Tengah (2009). Sementara program Small Drop sudah pernah dilaksanakan dalam bentuk program Cinta Air (2009-2010) di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat; Water for School di Jabodetabek (2011 dan 2013); Air Bersih & Sanitasi di Sindang Pakuwon dan Cihanjuang, Jawa Barat (2011-2012); dan RW Siaga Plus di Kaliabang, Bekasi, Jawa Barat (2011-2012).

“Tapi kami tidak mau punya proyek air yang baru, terutama yang Big Drop, lebih dari dua proyek dalam setahun, karena takutnya tidak ada yang mengontrol, sedangkan masih ada proyek yang existing. Yang namanya public private partnership, harusnya kami membuat atau memulai contoh proyek yang berhasil, yang selanjutnya harus diserahkan kepada Pemda dan masyarakatnya sendiri, karena kita kan tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka. Jadi kalau suatu program di satu wilayah itu sudah selesai, maka kita bisa pindah ke wilayah lainnya lagi untuk melakukan hal yang sama,” ujar Titie.

Fokus CSR dari CCFI, selain yang berkaitan dengan air, juga ada dalam bidang edukasi dan UMKM. Untuk yang edukasi, mereka menjalankannya di berbagai perpustakaan di Indonesia, dengan merenovasi gedung perpustakaan agar menjadi bagus kembali, memberikan pelatihan kepada petugasnya, dan memberikan sumbangan buku. Sementara di sektor UMKM, mereka memberikan pelatihan (misal pemasaran, merchandising, dan manajemen keuangan) kepada para perempuan yang tinggal di wilayah sekitar pabriknya.

“Jadi tiga fokus tersebut semuanya tetap jalan, dan porsinya sama besar. Karena kami bilangnya ini adalah kegiatan sustainability. Kami mau kegiatannya relevan dengan bisnis kami, walaupun bisnis tidak boleh menjadi syarat atau kepentingan utama, dalam arti pada saat kami memilih daerah untuk konservasi air, kami tidak pernah mensyaratkan warganya harus menjual Coca Cola misalnya. Sementara kalau di bidang pendidikan, kami melihat bahwa itu prioritas nasional juga ya. Jadi kami ingin masyarakat Indonesia lebih berpendidikan dan well informed, sehingga mereka jadi bisa punya income yang lebih bagus dan tahu tentang bisnis. Sama dengan UMKM, kalau bisnis mereka maju, maka taraf hidup akan naik. Jadi kalau masyarakatnya makmur, mereka akan bisa menjadi market yang bagus pula untuk kami,” ucap Titie seraya tersenyum. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)