Aksi Remmy dan Jason Memopulerkan Baju Berenergi

Membayangkan pakaian berenergi, yang terpikir pertama kali adalah pakaian listrik. Namun, ini bukanlah pakaian listrik, melainkan pakaian yang bisa mengantarkan energi yang mampu menyembuhkan penyakit. Harga per produk, Rp 350 ribu- 2,5 juta. Saat ini, pelanggannya dari kalangan the have seperti artis, pejabat, hingga profesional. Misalnya, Jeremy Teti, Benigno, istri Fauzi Bowo, istri Ginanjar Kartasasmita, dan pejabat selevel menteri. Produk ini tak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Singapura, Filipina dan Amerika Serikat.

Pendiri usaha yang berada di bawah bendera PT Flockteers Indonesia ini adalah Remmy Safiansi dan Jason. “Ide bisnis ini datang tahun 2010, ketika masyarakat heboh dengan gelang yang bisa mengantarkan energi. Kami ingin teknologi itu bisa diaplikasikan ke produk garmen. Dari situlah kami berani berinovasi,” ujar Remmy membuka percakapan. Diungkapkan wanita berusia 33 tahun ini, mereka kekeuh mengaplikasikan teknologi ini di garmen karena basis usahanya selama belasan tahun adalah garmen.

Jason (kiri), dr Ian M.S, dan Remmy Safiansi

Meski tanpa modal pendidikan teknologi dan ilmiah yang memadai, pasangan muda ini nekat, mereka melakukan penelitian terhadap teknologi pengantar energi. Ratusan buku dan referensi dibaca selama enam bulan. Ternyata, “Teknologinya berasal dari AS. Alat ini belum pernah diaplikasikan di produk garmen. Tetapi, kami yakin hal itu bisa diterapkan,” ujar Jason. Alhasil, setelah mantap, mereka langsung memboyong alat seharga US$ 100 ribu itu ke Tangerang. Proses eksperimen pun dimulai. Meski berkali-kali gagal, mereka tidak putus asa. Pada Juli 2010, akhirnya mereka mengeluarkan portofolio pertama berupa kaus berbahan dasar katun 100% dengan nama Flock Energy.

Teknologi yang digunakan untuk memproduksi pakaian ini adalah Flock Energy. FE merupakan teknologi yang dirancang untuk bekerja dengan bidang energi tubuh manusia dengan sumber energi kekuatan kehidupan dari lingkungan alami untuk meningkatkan kesehatan. Produk ini diklaim mampu meningkatkan kekuatan dan menyeimbangkan metabolisme dan sirkulasi darah sehingga bisa menangkal beberapa penyakit seperti jerawat, menstruasi, penurunan berat badan, mata minus, migrain, sakit punggung hingga stroke.

Jason menjelaskan, setiap pakaian diisi dengan metode Natural Fibration dari AS dan Silver Protection dari Jerman yang tahan bakteri sehingga tidak perlu dicuci selama satu bulan setelah pemakaian. Selain memiliki daya energi, produk ini memiliki ciri khas, yaitu didesain dengan sentuhan etnik Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. “Kami adalah pionir di bisnis ini, baik di Indonesia maupun dunia,” tambah Remmy bangga.

Lalu, bagaimana strategi pemasarannya? Awalnya, pemasaran Flock Energy dilakukan secara sederhana. Mereka menawarkan kaus tersebut ke saudara dan kerabat terdekat. Setelah mendapat umpan balik yang positif, Jason berinisiatif mulai memproduksi secara rutin dan mendirikan perusahaan bernama PT Flockteers Indonesia. Permintaan pun semakin meningkat setelah Jason mengajak dr. Ian M.S., dokter cosmetic surgery yang memiliki keahlian mendesain, ikut bergabung. “Saya sejak dulu memiliki keinginan untuk bisa menciptakan sebuah karya yang khas Indonesia, berguna, dan bisa go international. Dan, itu semua ada di visi Flock Energy,” ungkap dokter yang pernah menyabet High Quality Product 2010, Look of the Year dan The Most Stylish Man itu. Dari kreativitasnya itu, portopolio Flock Energy semakin bertambah. Dokter muda yang berkerja di PT Immortal Cosmedika Indonesia itu berhasil membuat jaket, celana, kemeja, syal, tas, kain, leging dan sandal.

Saat ini promosi dan pemasaran dilakukan dengan membuka butik di Alun-Alun Grand Indonesia dan melalui website. Selain itu, mereka rutin memajang produknya di beberapa pameran fashion. Dalam sebulan, Flock Energy bisa tampil tiga kali dan setiap show ada kenaikan permintaan sebesar 15%-20%. Kapasitas produksi pabrik Flockteers Indonesia di Tangerang sebanyak 200 helai/bulan dengan tingkat penjualan mencapai 100%. Dari bisnis pakaian sehat tersebut, perusahaan bisa mengantongi omset Rp 200 juta/bulan. “Produk ini belum bisa mass production karena proses produksi yang cukup lama, yakni 1-3 hari,” Remmy menerangkan.

Sebagai pionir pakaian kesehatan, mereka tidak ingin terpaku pada satu lini bisnis. Untuk itu, Flockteers Indonesia tengah melakukan penelitian untuk menciptakan healthy beauty product, misalnya sabun kecantikan. Mereka juga yakin dana investasi akan kembali dalam kurun tiga tahun mengingat derasnya permintaan setiap tahun. “Kami bangga bisa menciptakan produk yang bukan hanya fashionable, tetapi juga menyehatkan. Kami ingin dikenal sebagai fashion and beauty company yang konsen pada kesehatan, ” ujar Remmy yang menjabat sebagai Kepala Pemasaran.

Jeremy Teti, penyiar SCTV, sudah sebulan ini memakai baju Flock Energy. Yang ia rasakan, tubuhnya lebih berstamina. Selain itu, produk ini juga sangat stylish dan tidak ketinggalan zaman. Dan, sebagai orang yang berasal dari Atambua, NTT, Jeremy merasa tersanjung dengan desainnya yang khas NTT dan NTB karena banyak yang memuji desain itu bagus.

Yuyun Manopol & Ario Fajar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)