Dari Insinyur Bangunan, Neneng Banting Setir ke Konsultan Bisnis

Mungkin tidak banyak yang tahu, Country Managing Director Accenture Indonesia, Neneng Goenadi, adalah seorang insinyur sipil. Namun, takdir jualah yang menuntunnya hingga kini menjadi seorang konsultan bisnis. Neneng kecil semula bercita-cita menjadi seorang dokter, seperti sosok sang ayah yang juga seorang dokter dan beberapa kali dipercaya menjadi Kepala Rumah Sakit.

Selepas SMA, ia pun mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung. Uniknya, ia juga mendaftar di jurusan Ilmu Sejarah Unpad. “Karena saya suka sejarah seperti ayah saya. Sejak kecil, saya suka pelajaran sejarah karena seperti bercerita.” katanya. Neneng kemudian dinyatakan lulus di kedua jurusan pilihannya itu.

Namun, karena peminat sejarah sedikit, namanya di Fakultas Kedokteran dihapus, dan masuk di jurusan Ilmu Sejarah, Unpad. Tetapi, di waktu yang sama saya juga diterima di jurusan Teknik Sipil Universitas Parahyangan. Setelah menjalani masa magang di Teknik Sipil dan mengambil konsentrasi jalan raya, Neneng pun terjun ke lapangan.

“Namun, saya merasa kurang cocok dengan kondisi lapangan pekerjaan seorang insinyur bangunan. Akhirnya, saya putar haluan. Setelah lulus, saya mengambil MBA di Amerika. Dari situlah akhirnya saya berkarier di dunia konsultan bisnis,” katanya mengenang.

Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia

Nenang bersyukur dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Ayahnya yang seorang dokter dan ibunya yang seorang ibu rumah tangga adalah perpaduan yang pas untuk tumbuh kembang dirinya. Keduanya kompak memotivasi anak-anaknya untuk semangat dalam menempuh pendidikan formal.

Di mata sang ayah, ilmu adalah modal utama dalam hidup. Jika menjalani hidup tanpa ilmu, apapun yang kita miliki akan sia-sia. Jika hanya berorientasi pada materi, maka hanya itu yang akan kita dapatkan. Lain halnya kalau berpegang pada ilmu pengetahuan, niscaya aka eksis di manapun kita berada. “Nilai dalam keluarga ini yang menjadi pegangan saya. Juga nilai-nilai spiritual dari Ayah juga menjadi pedoman saya,” ujarnya.

Kebahagiaannya bertambah manakala tahu sang suami mendukung penuh kemajuan karier profesionalnya di dunia konsultan. Sang suami tercinta sangat pengertian dan bersedia berbagi peran dan tugas dalam rumah tangga yang bisa dikerjakan secara bergantian. Semuanya pun akhirnya menjadi jauh lebih mudah untuknya. “Jadi, komitmen bahwa setelah menikah dan punya anak, saya akan tetap berkarier itu sudah kami sepakati pra-menikah,” katanya.

Suami dan anak-anaknya kini mengerti kalau dirinya keluar rumah untuk bekerja dan meniti karier. Meski begitu, Neneng sadar betul kalau dirinya juga harus bisa membagi waktu dengan keluarga tercinta. Itulah kenapa kalau setiap hari Sabtu dan Minggu, dirinya berusaha keras memanfaatkan waktu melihat tumbuh kembang buah hatinya.

“Memang, kadang ada kerjaan di Sabtu-Minggu, tapi itu tidak setiap pekan. Jarang, mungkin hanya sebulan sekali. Tetapi, untunglah mereka mengerti. Itulah bentuk dukungan mereka untuk saya,” ungkapnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)