Dien Wong Menyatukan Hobi dan Bisnis Lewat Game

Dien Wong ~~

Bagi sebagian orang, game dianggap hobi yang cuma menghabiskan waktu dan uang. Bagi Dien Wong, game tak hanya hobi, tetapi juga aktualisasi diri.

Sejumlah penghargaan memang telah berhasil disabetnya. Ada Asia Pacific ICT Awards 2006 untuk game Inspirit Arena. Lalu, ada penghargaan Faculty Excellence Award, Odd Semester 2006/2007 dari Binus University, International Program. Penghargaan serupa juga diperolehnya pada 2012. Dan, belum lama ini ia juga sempat masuk sebagai nomine penerima International Young Creative Entrepreneur Award 2012.

Minatnya yang begitu besar pada game, mengantarkannya menjadi seorang pengusaha pengembang game. Bersama tiga rekannya, Dien memulai usaha ini pada 2003, saat ia masih berusia 24 tahun, dan masih tercatat sebagai mahasiswa di Binus, Jurusan Teknik Informatika. Nama perusahaannya Altermyth. “Saat itu, kami berempat bercita-cita dapat membuat online game,” ujar pria kelahiran Pekalongan 25 Februari 1979 ini. Sebagai perusahaan baru mereka harus membuat prototipe untuk ditawarkan ke para investor. Target mereka saat itu, jika dalam 6 bulan tidak mendapatkan investor, mereka akan bubar. “Tapi, ternyata dalam waktu tiga bulan, kami sudah dapat first round funding,” ujarnya bangga sambil mengungkapkan Altermyth berhasil membuat online game pertama bernama Inspirit Arena.

Sayang, di tengah jalan, mereka berpisah. Pemicunya, kegagalan mereka menghasilkan produk yang diinginkan pada 2004. Praktis tinggal Dien seorang dari empat sekawan itu yang meneruskan usaha tersebut. Saat itu pertimbangan dirinya hanya merasa bertanggung jawab kepada investor dan rekan-rekan yang sudah bekerja bersama.

Pada awalnya ia akan meneruskan usaha pengembangan online game. Namun dengan suatu pertimbangan, ia memutuskan untuk membuat game berdasarkan pesanan orang lain. Dengan pendekatan ini, Altermyth mulai berkembang. “Bisa dibilang saat itu mulai lepas landas,” ujar CEO Altermyth ini bangga. Jika tahun 2006 karyawannya cuma sekitar 25 orang, sekarang sudah mencapai 76 orang, dengan penambahan tertinggi pada periode 2011-2012.

Pada 2006 ia dan timnya berhasil mengerjakan lebih dari 120 produk. “Kami lebih banyak mengarah ke produksi game berbasis personal computer,” ujarnya. Belakangan mereka mengembangkan diri dengan menyentuh teknologi lainnya seperti flash, mobile untuk smartphone dan web-based. Kendati begitu, hingga kini klien PC game masih mereka tangani.

Tahun 2008, diklaim Dien, Altermyth sudah mencapai break even point. Karenanya, tahun 2009, ia sudah mulai menambah orang lagi sedikit demi sedikit. Tahun 2012, Dien mengaku usahanya mulai sustainable. “Kami mulai investasi ulang, menambah orang, dan volume produksi. Pada tahun itu kami memutuskan untuk ekspansi,” ujarnya bangga.

Produk game yang dibuat Altermyth sudah mencapai ratusan karya, antara lain: Steel Unicorn, Panic in Space, Galaxy Chronicles (ketiganya berteknologi flash), dan Pancipon (BlackBerry). Di mata Dien, proyek yang mengesankan adalah mengembangkan game untuk Bakrie Telecom. “Itu game yang cukup menarik, dan revenue yang dihasilkan termasuk besar untuk mobile game,” ujarnya. Seiring perkembangan media sosial, Altermyth juga telah membuat social game. Game tersebut merupakan game berkarakter cross platform, yaitu game yang sudah bisa dimainkan dengan menggunakan ponsel, dimainkan dengan tukar-menukar (di-share) baik lewat web maupun media sosial.

Pada 2012, Altermyth menjalin kerja sama dengan Square Enix, produsen game terkemuka di dunia yang menghasilkan game populer Final Fantasy, untuk mengurusi konten mobile. Altermyth pun dipercaya untuk bekerja sama membuat game Final Fantasy berbahasa Indonesia. “Hal ini menjadi salah satu tonggak sejarah bagi kami, karena produsen game sebesar Squre Enix membuat game berbahasa Indonesia pertama kalinya,” ujar Dien bangga. Selain itu, yang membanggakannya, peluncuran game dalam versi Android itu diadakan di Indonesia setelah di negara asalnya, Jepang.

Sekarang, Altermyth punya tiga lini bisnis. Pertama, menyediakan layanan pengembangan. Di sini Altermyth mengembangkan produk baik game maupun aplikasinya. “Di sini, marginnya tidak terlalu besar,” katanya. Kedua, bisnis game publishing. “Di Indonesia, kalau sedang bagus, bisa menghasilkan sampai Rp 1 miliar sebulan,” ujarnya. Ketiga, bisnis terkait intelectual property yang dijalani Dien sejak awal, yakni menciptakan game, yang marginnya besar, tetapi risikonya juga besar.

Lalu apa obsesinya saat ini? “Saya ingin mengembangkan Altermyth menjadi lebih besar lagi,” ujar suami Eliza, serta ayah Lara dan Farah ini. Ia punya obsesi menjadikan Altermtyh sebagai pengembang game nomor satu di Indonesia. “Kami juga ingin meraih hasil dari pasar global,” katanya lagi.

Yuyun Manopol & Radito Wicaksono

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)