Duet Dua Dara Menggeluti Bisnis EO Tematis

Pada 4-6 April lalu ada yang berbeda di Exhibition Hall lantai 5, Mal Grand Indonesia, Jakarta. Di tempat ini ada bazar ciamik yang mencuri perhatian. Arena bazar disulap layaknya Kota Hollywood di tahun 1920-an. Di dalamnya tersedia ragam kebutuhan fashion dan makanan yang mendorong pengunjung memasuki arena bazar yang mengusung konsep Retro City.

Namira Syarfuan dan Sara S. Tirtohadiguno Namira Syarfuan dan Sara S. Tirtohadiguno

Adalah Market & Museum (MM), event organizer (EO) pencetus sekaligus pembuat bazar tematis istimewa ini. Diikuti 100 tenant, bazar MM selalu menyedot pengunjung. Seperti bazar yang berlangsung tiga hari ini, dikatakan berhasil dikunjungi hingga lebih dari 50 ribu tamu.

Kesuksesan MM dalam menggelar acara tak lepas dari duet dara berusia muda, Namira Syarfuan dan Sara S. Tirtohadiguno. Kedua sohib yang sama-sama lahir tahun 1988 ini adalah pendiri MM. Namira dan Sara merupakan teman semasa SMA. Setelah lulus dari bangku kuliah dan sempat bekerja kantoran, mereka berdua memutuskan berhenti bekerja. Desember 2012 menjadi tonggak penting bagi keduanya karena saat itulah MM resmi berdiri. Hingga saat ini, sedikitnya MM sudah membuat delapan kali bazar dengan tema berbeda-beda, seperti In-Flight, Circus dan terakhir Retro City, dengan tempat kegiatan yang berbeda-beda pula.

Ide mendirikan MM muncul karena keduanya memiliki passion yang sama dalam bisnis. Namira yang lulusan Jurusan Komunikasi Pemasaran Universitas Pelita Harapan memiliki bisnis pakaian. Adapun Sara yang lulusan Nanyang Academy of Fine Arts Singapore, Diploma of Jewellery Design dan Bachelor of Graphic Communication, mempunyai bisnis home décor. “Waktu kami punya brand masing-masing, sempat mengikuti bazar juga, tetapi merasa nggak sreg dengan bazarnya sendiri. Entah dari segi dekornya yang kurang, publikasi yang kurang bersifat promosi, dan mungkin bazarnya juga terlalu bergengsi sehingga kami juga ngerasa tak ada kesempatan untuk ikut,” ujar Namira panjang lebar. Nah, dari situlah MM didirikan dengan maksud ingin memberi kesempatan bagi anak-anak muda Indonesia yang mempunyai merek lokal serta ingin benar-benar terjun dalam dunia bisnis untuk mempromosikan produknya dan sukses.

Namira Syarfuan dan Sara S. Tirtohadiguno2 ~~

Yang membedakan MM dengan EO lainnya, selain dari konsepnya yang selalu mengusung tema menarik, juga dari segi promo dan cara memperlakukan pengunjung yang berbeda. Dari segi promo, MM melakukannya melalui media sosial, iklan, media partner, dan word of mouth dari pengalaman pengunjung yang pernah datang ke bazar MM. “Kami adalah EO yang ingin me-maintain long relationship dengan tenant-tenant kami. Karena, selepas acara berlangsung, kami itu sudah seperti komunitas atau keluarga,” ujar Sara.

Jerih payah kedua dara ini mulai membuahkan hasil. Kini, MM sudah makin dikenal sehingga lebih gampang menggaet tenant saat MM membuat bazar. Harga sewa bagi tenant pun berbeda-beda, tergantung pada ukuran dan ketegorinya. Rata-rata biaya sewanya Rp 2,5-7 juta untuk tiga hari. Omset yang dikantongi MM pun lumayan besar, berkisar ratusan juta rupiah hingga Rp 1 miliar.

Ke depan, kedua dara akan terus menggali kreativitas dan tak ingin hanya membuat bazar. Rencananya pada Agustus dan Desember tahun ini akan membuat kegiatan lagi. “Targetnya akhir tahun depan akan membawa brand lokal ke luar negeri, sejenis culture exchange. Maunya bukan hanya di negara sendiri, tetapi juga ke luar negeri. Ini adalah cita-cita kami dari awal,” ungkap Namira. Obsesi lainnya, melakukan roadshow ke berbagai daerah, selain Jakata dan Bali karena di Pulau Dewata MM pernah membuat kegiatan serupa.

Para tenant MM merasa puas dengan bazar yang telah mereka ikuti. “Responsnya baik karena ramai, banyak yang datang. Mereka kan bikin acaranya bagus, temanya juga jarang, jadi beda dan unik. Pelayanan yang mereka kasih juga bagus dan harga yang ditawarkan juga affordable. Feedback kliennya juga ramai, jadi income kami juga bagus,” kata Lifa, pemilik Lovely Jars. Tenant MM lainnya, Fany Aprillia, pemilik Jade Bag yang ikut bazar MM sejak 2013, mengaku tak ada keluhan selama mengikuti bazar yang dibuat MM. “Kalau kritik, tak ada. Kalau saran, ya cari tempat yang lain, jangan itu-itu aja,” ucapnya.

Dede Suryadi dan Destiwati Sitanggang
Riset: Rizki Faisal

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)