Ekspansi Garuda untuk Pertumbuhan ke Depan

Selama tahun 2013, Garuda banyak berinvestasi untuk mengantisipasi pertumbuhan pasar industri  penerbangan ke depan, yakni  menambah  9 destinasi baru dan 25 rute baru di penerbangan domestik, serta dua destinasi baru dan 6 rute baru di penerbangan internasional. Dengan adanya penambahan tersebut, menurut Presdir Garuda Emirsyah Satar, jumlah  penerbangan domestik Garuda pun bertambah 80 kali penerbangan per hari, atau naik 25% dari 319 menjadi 399 penerbangan; sedangkan penerbangan internasional bertambah 17 kali, atau naik 26% dari 65 menjadi 82 kali penerbang-an per hari. Akan tetapi, load factor rata-rata pesawat turun 3,5% menjadi 73,7% dibanding posisi tahun 2012. Jumlah pesawat yang terus bertambah berpengaruh pada penurunan load factor ini.

Untuk memenuhi kebutuhan pesawat dengan adanya penambahan destinasi dan rute, baik domestik maupun internasional, Garuda memang mendatangkan 24 pesawat baru (naik 38%), sehingga meningkatkan kemampuan pesawat dalam mengangkut penumpang,  atau istilahnya available seat kilometer (ASK), sebesar 25%. Saat ini Garuda mengoperasikan 110 pesawat, antara lain, Boeing 777-300ER, Airbus A330-200/300, Boeing 737-800NG, Bombardier CRJ1000 NextGen, dan ATR72-600 dengan usia rata-rata pesawat lima tahun. Dan, di tahun 2014, maskapai flag carrier Indonesia ini hendak mendatangkan 27 armada baru terdiri dari dua pesawat Boeing 777-300 aircraft, empat pesawat Airbus A330 aircraft, 12 pesawat Boeing 737-800NG, tiga pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen, dan 6 pesawat ATR 72-600. Sementara, di  anak perusahaan, seperti Garuda Maintenance Facilities, ekspansi dilakukan dengan membangun hangar keempat, Citilink juga menambah jumlah penerbangan, dan Aerowisata (katering pesawat) membangun dapur di Denpasar dan Balikpapan.

Emirsyah Satar. Dibanding sejumlah maskapai  dari negara lain, kondisi Garuda masih lebih baik Emirsyah Satar. Dibanding sejumlah maskapai dari negara lain, kondisi Garuda masih lebih baik

 

Emir optimistis, tahun 2014 Garuda akan terus tumbuh. Ini sejalan dengan pertumbuh-an ekonomi Indonesia, meskipun diprediksi pertumbuhan tidak sebesar tahun 2013. Ia lalu merujuk survei Bank Indonesia, bahwa Indonesia Consumer Confident Index meningkat.  “Artinya, orang Indonesia masih punya kemampuan dan kemampuan spending, salah satunya untuk jalan-jalan (leisure),” ujar Emir dalam acara Forum Pemred, 3 Maret lalu.

Namun, dengan adanya investasi tersebut, ditambah dengan turunnya nilai tukar rupiah, membawa konsekuensi laba Garuda tergerus. Seperti dipaparkan Emir,  laba usaha maskapai ini tercatat  US$  85,6 juta (turun 53,8%), sedangkan laba bersihnya US$ 40,2 juta (turun 69,8%).  Jika dikonsolidasi  dengan anak usahanya (Citilink, Asyst, GMF AeroAsia dan Aerowisata), pencapaian laba usaha Grup Garuda US$ 56,4 juta (merosot 66,6%) dan laba bersihnya US$ 11,2 juta (turun 89,9%).  Citilink yang masih dalam tahap investasi dan merugi US$ 46,7 juta memang berdampak berarti pada kerugian Garuda secara grup.

Sebenarnya, selama 2013 Garuda mengangkut penumpang sebanyak  91,6  juta orang, naik  11,8% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan yang signifikan terjadi pada angkutan kargo sebesar 26% menjadi 269,03 ton. Kendati demikian, jika dihitung pendapatan Garuda dalam US$, kenaikannya masih tipis. Dengan total pendapatannya senilai US$ 3,19 miliar, kenaikannya  cuma 1,1%.  Pendapatan dari penumpang saja senilai US$ 2,77 miliar, naik 5,5% dibanding tahun sebelumnya.

Akan tetapi, Garuda masih bisa berbesar  hati. Pasalnya, lanjut Emir, dibanding sejumlah maskapai  dari negara lain, kondisi Garuda masih lebih baik. Tengoklah kondisi  Malaysian Airlines yang merugi US$ 294 juta, Thai Airways US$ 368 juta, Qantas  US$ 225 juta  dan Virgin Air US$ 84 juta. Bahkan, Qantas berencana hendak mengurangi 5 ribu karyawan. Sementara itu, Cathay Pacific memang labanya masih positif, tetapi hanya US$ 3 juta, sedangkan Singapore Airlines membukukan laba bersih cukup tinggi, yakni US$ 261 juta, tetapi keuntungan tersebut juga disumbang oleh penjualan pesawat dan  pajak yang dikembalikan.

Emirsyah Satar

Garuda memang masih mampu tumbuh kuat dibanding peer-nya.  Jumlah  penumpang pesawat yang diterbangkan Garuda tumbuh 12%, sedangkan penumpang Thai Airwaiys hanya naik 4%, Cathay Pacific 3% dan Singapore Airlines hanya 2%.  ASK (kapasitas angkut penumpang yang dihitung dari jumlah kursi dikalikan jumlah kilometer yang diterbangi) Garuda naik 15%, sedangkan Thai Airways hanya 8%, Singapore Airlines hanya 3%, bahkan Cathay Pacific pertumbuhannya minus 1,8%.  Sementara revenue passenger kilometer/RPK  (pendapatan penumpang yang berasal dari jumlah penerbangan dikalikan jarak kilometer yang diterbangi) Garuda naik 11%, Thai Airways cuma 5%, Singapore Airlines 3% dan Cathay Pacific 1%.

Untuk bersaing dengan maskapai full service lainnya dari negara lain, peningkatan layanan menjadi faktor yang menentukan.  Namun  dalam hal layanan, Garuda telah mendapatkan pengakuan dunia.  Bulan Juni tahun lalu, di Paris Airshow, BUMN ini beroleh predikat sebagai  The World’s Best Economy Class dari Skytrax  dan masuk dalam jajaran The World’s Top 10 Airlines. Selain itu, di acara Passenger Choice Award 2013 yang diselenggarakan pada September 2013 di Anaheim, Kalifornia, Amerika Serikat, oleh Airlines Passenger Experience Association, asosiasi peningkatan layanan penerbangan yang berkedudukan di New York, Garuda Indonesia terpilih sebagai airlines terbaik di kawasan Asia dan Australasia (Best in Region: Asia and Australasia).

Sementara untuk memperkuat jaringan penerbangan internasionalnya,  5  Maret 2014, Garuda secara resmi masuk sebagai anggota SkyTeam – aliansi  perusahaan penerbangan full service dari berbagai negara. Garuda tercatat  anggota ke-20 SkyTeam. Dengan bergabungnya Garuda dalam SkyTeam, memudahkan akses penumpangnya ke destinasi tujuan bisnis dan wisata yang dilayani oleh Garuda bersama maskapai anggota lainnya melalui layanan pe-nerbangan nonstop dari Jakarta ke 6 hub SkyTeam di Seoul, Guangzhou, Beijing, Shanghai, Taipei dan Amsterdam. Di sisi lain, para pe-numpang anggota Frequent Flyer Garuda dapat mengklaim poin mileage ketika melakukan perjalanan dengan penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai anggota SkyTeam.

Emirsyah Satar. Kendala infrastruktur bandara memang masih menjadi tantangan bagi Garuda dalam meningkatkan kinerjanya ke depan Emirsyah Satar. Kendala infrastruktur bandara memang masih menjadi tantangan bagi Garuda dalam meningkatkan kinerjanya ke depan

Hanya saja, ungkap Emir, kendala infrastruktur bandara memang masih menjadi tantangan bagi Garuda dalam meningkatkan kinerjanya ke depan. Berdasarkan survei World Competitiveness Index 2012-2013, World Economic Forum, indeks infrastruktur Indonesia secara keseluruhan masih di bawah rata-rata dibanding negara-negara lain, yakni poinnya hanya 4, sedangkan rata-rata indeksnya 4,3. Ini antara lain yang menyebabkan ada penambahan waktu penerbangan. Tahun lalu, dengan additional time penerbangan rata-rata pesawat selama 11 menit, additional cost yang harus ditanggung Garuda mencapai Rp 234 miliar, yang tentunya pula menggerus keuntungannya. Dengan demikian, faktor infrastruktur bandara ini mestinya harus menjadi prioritas utama Pemerintah.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)