Richard Cahadi: Bidik Pasar Ekspor Dulu dengan Mengandalkan Kekuatan Produk

Richard Cahadi (38 tahun) merupakan Managing Director PT Mega Global Food Industry, sekaligus generasi ketiga perusahaan biskuit bentukan kakeknya, mendiang Budiman, 40 tahun silam. Pabrik dan kantor pusatnya berada di Jln. Raya Tenaru Industri No. 18, Gresik, Jawa Timur. Pria berwajah oriental ini berhasil menjadi pucuk pimpinan perusahaan dengan totalitas dan passion yang tinggi. Sejak usia belasan tahun, dirinya sudah sering membantu di pabrik keluarga yang kala itu dipimpin oleh ayahnya, Darmawan.

Namun baru sekitar 1993, anak ketiga dari empat bersaudara ini mulai serius mempelajari industri biskuit. Dari 1993-1996, ia menuntut ilmu di Biscuit Institute, Singapore, dengan spesialisasi Counter Part for Technical Biscuit Making. Ini adalah institut yang dibentuk khusus oleh komunitas produsen biskuit. Yang mau belajar di sini haruslah orang yang memiliki pabrik biskuit. Pehobi fotografi dan wisata kuliner itu pun turut melengkapi pengetahuan bisnisnya dengan mengambil S-1 Manajemen Pemasaran di Universitas Surabaya serta Food Safety Training di Premisys and Karft Food International. Lantas seperti apa kiprah kelahiran April 1975 ini dalam membesarkan bisnis keluarga? Simak penuturan Richard Cahadi kepada Gustyanita Pratiwi:

Mengapa Anda memilih untuk meneruskan bisnis keluarga di Kokola Group?

Apa yang sudah dirintis orang tua pasti mempunyai visi yang panjang dan mendalam pada saat dimulai. Dan semua orang tua pasti punya harapan agar apa yang beliau mulai dapat diteruskan dan ditumbuhkembangkan oleh generasi berikutnya. Menjadi tantangan tersediri bagi saya untuk meneruskan apa yang sudah dirintis sekaligus menambah pembelajaran, pematangan, serta pendewasaan diri dan mental pada saat melewati proses transisi dan transformasi. Pilihannya adalah memulai dari tempat lain dan tumbuh dengan orang lain atau memulai dari yang sudah ada dan tumbuh bersama orang tua. Itu menjadi panggilan hati.

Richard Cahadi

Seberapa menarik tantangan yang ada dalam bisnis keluarga?

Tantangan yang dihadapi pertama pasti risiko perubahan. Dunia secara terus-menerus berubah. Dan kita dihadapkan pada pilihan untuk berubah atau berdiam diri. Perubahan itu sendiri pasti dihadapkan pada dua pilihan hasil, berhasil atau gagal. Jika gagal pasti akan sangat sulit mempertanggungjawabkannya, baik pada orang tua, keluarga, maupun semua pihak yang terlibat. Di situlah mental dan dukungan keluarga amat sangat berarti. Motivasi dan kepercayaan orang tua dan keluarga yang akan juga menentukan.

Apakah langsung diberi kepercayaan penuh atau magang dulu atau proses seperti apa yang Bapak jalani hingga sampai pada posisi saat ini?

Di dunia ini secara alamiah dan berlaku umum yang mana ‘kepercayaan’ itu harus dibuktikan (trust should be earned , not given). Kepercayaan tidak dengan mudah diberikan dan itu pasti.

Pada dasarnya orang tua itu hanya khawatir bahwa anaknya ‘salah jalan’ dan ‘dibohongi’ karena itulah pasti akan dikawal dan bagusnya orang tua saya mampu melakukan proses transfer kepercayaan dengan baik, walaupun awalnya tidak mudah.

Secara pribadi saya memilih untuk mulai dari dasar, karena tanpa mengenal dasar yang baik akan menjadi problem bagi pengembangan lebih lanjut. Saya mulai dari mengerti benar “proses pembuatan biskuit” sehingga sejak mulai kuliah saya sudah belajar teknik dasar pembuatan biskuit yang diajarkan oleh Tecnical Consultan Biscuit Baking dari Singapora, yang mana saya adalah menjadi direct counterpart. Itu saya lakukan selama 4 tahun, yang sekaligus menjadi project pengembangan divisi R & D. Setelah itu barulah saya turun ke pasar, dari mulai jadi salesman sampai pengembangan sistem distribusi.

Hal yang sangat menarik adalah pada saat kualitas produk yang kami ciptakan dibandingkan dengan produk sejenis, yang dengan pembentukan R & D serta penguasaan pembuatan biskuit yang baik, cukup teratasi. Tetapi itu saja belum bisa diterima pasar. Para partner distribusi dan partner yang menjual selalu bertanya : “Mana iklan TV-nya?” Di situlah tantangan strategic thinking yang harus kami lakukan, yang mana pada awalnya kami hanya berhadapan dengan urusan teknis, tetapi sekarang prosesnya lebih kepada strategis. Harus putar otak dan akhirnya saya memutuskan untuk mulai membidik pasar ekspor yang lebih mementingkan kualitas daripada hanya sekedar persepsi iklan.

Apa saja yang Anda lakukan sehingga bisnis Kokola Group menjadi lebih besar? Pencapaian apa saja yang telah didapat?

Untuk menjaga konsistensi kualitas produk, tentunya perlu suatu sistem mutu yang terstandardisasi. Belajar dari pengalaman dan tuntutan di pasar, akhirnya keputusan tiba untuk menerapkan starndardisasi mutu yang mempunyai acuan baku internasional. Tahun 2008 kami dapatkan sertifikasi Food Safety internasional, ISO 22000 dan BRC (British Retail Consorsium), yaitu sertifikasi keamanan pangan yang diciptakan oleh konsorsium retail untuk negara persemakmuran Inggris. Tentunya bukan persoalan mudah. Bukan hanya infrasturktur yang harus di-improve tetapi mindset, dan disiplin seluruh tim di organisasi juga harus di-upgrade. Kelangsungan dari penerapan standardisasi inilah yang sangat membutuhkan pemahanan dari seluruh tim.

Dengan pencapaian tersebut, kami juga berhasil secara bertahap merebut hati para partner mancanegara untuk memasarkan produk kami di sana, mulai dari negara-negara Asia, sampai negara Barat seperti Australia, UK, dan USA.

Setelah pasar luar negeri mulai bisa menerima, kini kami membawa proses dan produk quality KOKOLA biskuit untuk dibesarkan lagi di Indonesia. Partner-partner modern market ternama di Indonesia seperti Giant, Carrefour, Hypermart, dan Lionsuperindo serta lainnya menjadi partner kami untuk melayani pasar Indonesia saat terkini.

Apa saja kendala yang ditemui?

Melayani pasar ekspor yang berbeda budaya dan perilaku tentunya butuh penyesuaian. Di situlah seni dan tantangannya. Bagaimana kami harus mengerti kemauan dan kebiasaan tiap negara, membuat suatu produk dan pelayanan yang bisa diterima oleh mereka, juga dengan aturan-aturan yang berbeda dari pemerintahan di tiap negara. Di situlah kekuatan tim operasional kami bekerja untuk melayani pasar yang berbeda-beda.

Bagaimana Anda menjaga legacy dan nilai-nilai yang diwariskan generasi pertama dan kedua?

Spirit orang tua saya yang suka berbagi dan rendah hati adalah menjadi pegangan dasar saya dalam pengembangan bisnis ini. Bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendirian. Bahwa kejujuran hati menjadi dasar berbisnis, itu yang saya pegang benar. Jangan pernah mencelakai dan merugikan siapapun termasuk partner bisnismu. Spirit saling membantu dan kekeluargaan juga menjadi pegangan.

Sampai hari ini masih banyak anggota organisasi perusahaan yang merupakan warisan dari orangtua. Banyak yang bekerja sudah lebih dari 30 tahun, dengan kolaborasi wisdom, pengalaman, serta semangat manajemen baru, kami ingin menjadikan perusahaan ini makin solid dan bergerak pasti.

Pencapaian apa saja yang akan Anda torehkan untuk perusahaan?

We are creating great company, with great culture... itu cita -ita saya. Bisnis ini bukan hanya sekedar creating dan getting more money. Tetapi lebih kepada creating apa yang kami bisa berikan kepada dunia melalui organisasi dan keahlian biscuit baking kami... Kedengaran terlalu tinggi tetapi itulah cita-cita saya. Kami ingin men-deliver biskuit Kokola yang halal, aman, enak, dan ujung-ujungnya membuat dan membahagiakan setiap orang. Dan dengan semangat itulah maka perusahaan ini akan sustain.

Akan sebesar apa perusahaan di tangan Anda dan saudara-saudara?

Generasi kami dihadapkan pada era komunikasi dan dunia yang tanpa batas. Karena itulah perusahaan ini disiapkan untuk menghadapi era global. Pondasi yang dibuat adalah setup to global company. Ini tersirat dalam pemilihan nama perusahaan, PT Mega Global Food Industry.

Apakah Anda juga akan meneruskan bisnis keluarga ke generasi berikutnya?

Setiap orang tua pasti sangat berharap mempunyai generasi yang mampu meneruskan dan membesarkan. Tentu harapan itu pasti ada. Tetapi yang lebih diharapkan lagi adalah penerusan legacy dan spirit growing entreprenuer-nya. Itu yang lebih penting. Penerusan bisnis ini lebih kepada bagaimana suistainable system and strategic yang kami tata sekarang. Perusahaan ini harus tetap tumbuh dan men-deliver value-nya, di luar siapapun yang mengendalikan, baik itu keluarga maupun profesional. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)