Balitbang KP Gelar Lokakarya Potensi Karbon di Wilayah Pesisir

Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) menggelar lokakarya tentang Potensi Karbon Wilayah Pesisir (Coastal Carbon Technical Workshop 2015) untuk membahas posisi dan perkembangan terakhir tentang pengetahuan ilmiah potensi karbon wilayah pesisir Indonesia. Kemudian, merancang peluang kebijakan, kapasitas kelembagaan dan upaya pemberdayaan komunitas dalam rangka mendukung dan memfasilitasi upaya-upaya pembangunan berkelanjutan berbasis karbon pesisir di Indonesia.

“Masyarakat harus diberikan edukasi mengenai manfaat dari ekosistem laut, mulai dari penyangga kualitas perairan, habitat dari berbagai hewan/organisme penting baik secara ekonomis atau ekologis, pelindung pantai dari abrasi ombak, sarana rekreasi dan lain-lain,” kata Kepala Balitbang KP Achmad Poernomo dalam rilisnya, Rabu (15/2).

Selain para pakar di lingkup Balibang KP, Coastal Carbon Technical Workshop 2015 juga menghadirkan pembicara dari Bank Dunia, REDD+, Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, AIMS, Center for International Forestry Research (CIFOR), Conservation International, Yagasu Foundation, serta kalangan perguruan tinggi dan aktivis pembangunan lingkungan.

“Lokakarya ini juga merupakan tindak lanjut atau bagian dari sumbangsih Balitbang KP dalam mensukseskan target reduksi emisi karbon nasional hingga 20% pada 2020. Sekaligus, bagian dari upaya mendukung implementasi visi pembangunan ekonomi hijau seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2020,” ujar Achmad.

Salah satu pemandangan di wilayah pesisir di Tanah Air. (Foto: IST) Salah satu pemandangan di wilayah pesisir di Tanah Air. (Foto: IST)

Karbon Biru merupakan upaya untuk mengurangi emisi karbondioksida di Bumi dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau, padang lamun, rumput laut dan ekosistem pesisir. Vegetasi pesisir diyakini dapat menyimpan karbon 100 kali lebih cepat dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan.

Konsep dan solusi litbang Karbon Biru pertama kali digaungkan pada Februari 2010 saat pertemuan The UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum di Bali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan Direktur UNEP. Menindaklanjuti pertemuan itu, di tahun itu juga Balitbang KP melakukan penelitian karbon biru melalui pilot project Blue Carbon di Teluk Banten dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.

Hasilnya, padang lamun memiliki potensi menyerap dan menyimpan karbon sekitar 4,88 ton/Ha/tahun. Total ekosistem padang lamun di Indonesia dapat menyimpan 16,11 juta ton karbon/tahun. Rata-rata penyerapan dan penyimpanan karbon ekosistem mangrove sebesar 38,8 ton/Ha/tahun. Keseluruhan potensi penyerapan karbon ekosistem mangrove adalah 122,22 juta ton/tahun.

Laju kerusakan ekosistem laut di Indonesia menjadi hambatan dalam laju penurunan emisi karbon. Menurut data REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) kerusakan ekosistem mangrove relatif lebih tinggi dibanding ekosistem padang lamun, sekitar 3,7% pertahun dengan tingkat kerusakan paling tinggi terjadi di pulau Jawa terutama Pantura. Kondisi terbaik ekosistem ini berada di utara Kalimantan Timur dan kawasan Indonesia Timur (Papua dan Maluku).

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)