Bangun Merek via Model Brand Attractiveness

Managing Partner Decision-Co & Force Godo Tjahjono mengungkapkan, tidak mudah membangun merek di zaman sekarang. Ia mencoba menjelaskan dengan menggunakan pendekatan Model Brand Attractiveness. Brand Attractiveness dihasilkan dari pembobotan dari brand performance dengan value important.

Berdasarkan jurnal yang kontemporer, biasanya para pemasar memikirkan 8 hal logis pada saat mempertimbangkan penggunaan brand yang dia pilih dalam sebuah kategori produk. Di industri telekomunikasi misalnya, sinyal, coverage, harga, customer service dan seterusnya, menjadi pertimbangan. Delapan hal logis menjadi pertimbangan keputusan konsumen untuk membeli produk tersebut dinilai amat penting (value important). “Umumnya memang dipakai 8 pertimbangan untuk mengukur kebutuhan yang diinginkan konsumen,” tutur  Managing Partner Decision-Co & Force ini.

Kenapa perlu ukuran 8 aspek ini? Dalam studi consumer behaviour (perilaku konsumen) memang ada kaitannya dengan apa-apa yang menjadi keinginan manusia. Kemudian, dari mereknya sendiri memiliki performance. Seberapa penting produk ini bagi konsumen? Jawabannya adalah seberapa besar bobot brand performance ditambah value important. Jika akumulasi brand performance dan vaIue Important lebih tinggi, maka brand attractiveness menjadi tinggi juga. Jika brand attractiveness tinggi akan membawa ke posisi brand preference (minat konsumen terhadap brand tertentu menjadi tinggi).

Hanya, ada 2 catatan yang menarik ditandai bahwa, pertama, seringkali sebuah brand tidak sempurna. Dari 8 faktor logis, belum tentu brand tersebut mengirimkan ke delapan spek tersebut. Seringkali sebuah brand market leader sebenarnya hanya menguasai 3 – 5 aspek saja yang dianggap mempunyai value Important yang tinggi.

Dulu, ketika McDonald’s (McD) jadi market leader sebelum disusul KFC, dengan memiliki 3 aspek sepert aspek rasa, lokasi , gimmick, kenyamanan dan sebagainya. Boleh jadi kualitas makanannya standar. Bagi konsumen tidak terlalu mementingkan dan performance nya juga biasa-biasa saja,” kata Gdo lagi.

Tapi Godo pun tak setuju bila ada anggapan, kalau sekarang ini orang mulai meninggalkan above the line (ATL). Sekarang, trennya  produsen menggunakan pendekatan IMC –integrated marketing communication. Ada 5 hal dalam IMC, advertising (menyampaikan pesan dengan cara berbayar), promotion ( incentive consumer promo dan trade promo yang berorientasi pada pembelian), media sosial (tidak ada incentive dan tidak berbayar) , brand action (interaksi antara brand dengan konsumen untuk menimbulkan experience) dan marketing public relation (PR) yang menyasar ke publik untuk mempengaruhi target market. “Kelima hal ini harus dilakukan bersama dalam menjaga merek,”tuturnya. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)