Jagonya Bisnis ID Card

Lewat PT Lanyard Pro (LP), Tedy mengklaim, selama 9 tahun ini ia berhasil menangkap sekitar 2 ribu klien korporat, di antaranya perusahaan telekomunikasi seperti Telkomsel, XL, Three (3), Axis, dan Indosat yang memakai produknya lewat agen. Perusahaan penerbangan, consumer goods, perbankan dan organisasi seperti UNICEF, organisasi komunitas seperti Harley-Davidson Owner Club, juga menjadi kliennya. “Kekuatan kami adalah servis dan konsultasi,” tutur Tedy yang juga membuat pesanan untuk ratusan ID card komunitas Manchester United (MU) yang gagal berlaga di Jakarta.

Diakui Nelly, staf Penjualan Korporat Divisi Private Fund Raising and Partnership UNICEF, pihaknya beralih memakai produk LP karena kualitas dan konsultasi yang diberikan Tedy. “Dibanding pemasok sebelumnya, dumi mereka jelek. LP kualitasnya lebih bagus. Pak Tedy juga memberikan consulting kepada kami tentang produk mana yang benefit-nya baik,” papar Nelly yang mengetahui LP ketika searching di Google. Menurutnya, pihak LP juga sangat tanggap dan cepat merespons balik saat ia menjajaki permintaan order.

Senada dengan Nelly, Dian Putra Purnomo dari Divisi Komunikasi Pemasaran BCI Asia – perusahaan penyedia informasi proyek konstruksi – juga mengetahui LP karena browsing di Internet. Sebelumnya BCI Asia mendapat pasokan tali lanyard dari kantor pusatnya di Inggris. “Tahun lalu ada kebijakan baru dari pusat, bahwa pengadaan barang seperti tali lanyard di setiap kantor perwakilan bisa membeli sendiri. Dengan catatan, kualitas dan harganya harus sesuai dengan standar perusahaan,” ujarnya.

Ketika ada kebutuhan tali lanyard untuk suatu acara tahun lalu, Dian mencari informasi dari Internet dan muncul satu nama Lanyard Pro. Kebetulan ada temannya yang pernah membeli produk LP. Ia menceritakan saat mengontak LP, ia langsung mendapat respons yang sangat cepat. Sekali telepon Tedy langsung datang membawa sejumlah sampel dan menjabarkan apa saja yang sudah ia kerjakan. “Lumayan untuk mempersingkat waktu mengorder. Memang saya tak punya banyak waktu juga membuat perbandingan. Tapi pengalaman dari produk yang pernah kami pakai dari pusat, produk LP kualitasnya bagus juga,” cerita Dian yang menambahkan bahwa baru kali ini pihaknya memesan lanyard dari Indonesia. Bahkan, lanyard dari LP dipakai untuk 7 negara perwakilan BCI. Dian melakukan reorder untuk semua perwakilan negara BCI sekaligus dengan jumlah sekitar 2.500 tali lanyard. Untuk BCI Indonesia sendiri membutuhkan 600-an tali.

Selain kualitas, tambah Dian, delivery order pun cepat, karena ia butuh waktu tak kurang dari dua minggu. Kebutuhan tali lanyard di BCI paling tidak setahun sekali dianggarkan untuk kebutuhan event. “Ke depan, sepertinya kami pesan ke Pak Tedy lagi. Orangnya familier dan dia memberikan banyak alternatif. Juga, kalau dia rasa tidak bisa, dia langsung bilang tidak bisa, kalau memang oke, dia pasti bilang oke,” tutur Dian.

Dituturkan Tedy, bisnis tali lanyard digelutinya karena ia melihat peluang cukup besar. Padahal saat mengawali bisnis, pamannya, Bachtiar, mengalungkan puluhan tali lanyard di dadanya dan menjajakan di sepanjang koridor bus Damri jurusan Bandara Soekarno-Hatta. Di tahun 2000 itu, Bachtiar masih tercatat sebagai karyawan anak perusahaan PT Angkasa Pura. Ia melihat banyak pilot dari perusahaan penerbangan di bandara mengenakan tali lanyard berlogo. Otak cerdik pria 47 tahun ini pun melihat peluang besar dari seutas tali yang menjadi identitas seseorang tersebut, karena ternyata tali pengikat seperti itu masih banyak impor dari luar negeri.

Tedy menceritakan, ketika itu produksi masih dilakukan di kawasan Kemayoran yang merangkap usaha sablon. Pada hari pertama, Bachtiar membawa 200 tali lanyard dan ludes terjual. Hari kedua, ketiga, lanyard yang dibawanya laris terjual. Beberapa teman juga memesan untuk dijual di kantornya di kawasan bandara dan melalui Koperasi Angkasa Pura. Jaringan pun terus melebar dan produk terus dikembangkan. Sampai akhirnya Tedy dan kakak iparnya, Purnomo Hadi, tergelitik ikut terlibat dalam usaha tersebut.

Di tangan kedua anak muda ini, jaringan bisnis Bachtiar pun semakin menggurita. Kini LP memiliki sedikitnya 20 jaringan keagenan yang menawarkan produk ke banyak perusahaan di Indonesia. “Setiap kota di Indonesia, paling tidak kami punya satu agen. Pasar kami sampai di Waemena, Papua,” kata Tedy yang bertindak sebagai Direktur LP. Ia berupaya memperhatikan para agennya meski kini mulai melakukan pemasaran langsung secara online agar tidak bertempur dengan mitra bisnisnya sendiri. “Saya terapkan sistem bayar tunai. Kalau saya terima juga sistem bayar mundur, bagaimana mitra saya,” imbuhnya.

Ya, selain strategi pemasaran offline, sejak tahun lalu Tedy pun melakukan pemasaran online atau menjual langsung ke pelanggan. Ia membuat blog untuk menjajakan produknya dengan terus me-maintain search engine optimization – bagaimana setiap kali orang searching, langsung nama LP yang keluar paling awal. Lewat Internet, ia menawarkan lanyard yang semakin bervariasi. Sedikitnya ada sekitar 10 jenis tali ID card dan tali ponsel yang satuannya dijual mulai harga Rp 3 ribu sampai yang kualitas premium. Selain lanyard, ia juga menawarkan pembuatan ID card, name tag, dan yoyo berlogo. “Berjualan online cukup berdampak positif. Sekarang kami mulai terima order untuk ekspor. Belum lama ini dari Tanzania dan Singapura,” papar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya ini.

Dengan umur produk yang cukup lama, Tedy pun melakukan pendekatan personal kepada para pelanggannya agar tetap ingat LP. Memang, sedikitnya setahun sekali pelanggan kembali membeli untuk keperluan resmi. Ada pula perusahaan yang membeli untuk keperluan event. Diakuinya, sampai saat ini bisnisnya terus bertumbuh. Dari angka penjualan 200 tali/hari, kini pihaknya mampu mencetak penjualan lanyard 2 ribu tali/hari. Per bulan mampu menembus 60 ribu atau sekitar 720 ribu tali/tahun dengan nilai omset sekitar Rp 2 miliar. Angka tersebut tentu di luar penjualan produk yang lain seperti yoyo dan pin.

Berapa margin keuntungan yang diperoleh? Diakui putra pasangan (almarhum) Sudarman dan (almarhumah) Sri Kusbandi ini, perusahaan yang berbadan usaha sejak dua tahun lalu ini awalnya mampu mencetak margin keuntungan hingga 50%. Namun sekarang sudah tak sebesar itu, mengingat kini LP mempunyai mitra bisnis dan pelanggan juga salah satu mitra bisnis yang harus diikat untuk tujuan jangka panjang. Selain itu, ia pun berupaya mempertahankan kualitas produk meski harus mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan material dan operasionalnya.

Kendala terbesar yang dihadapi saat ini, menurut Tedy, berkisar masalah material (bahan baku) yang masih impor. Seperti tinta misalnya, ia masih impor dari Inggris. Toh sejauh ini, menurutnya, belum ada pemain lokal yang peduli di bisnis ini. Itulah sebabnya, mantan General Manager PT Gilang Advertindo ini mengaku akan fokus mengembangkan usahanya dengan sistem penjualan online melalui pincustom.blogspot.com dan taliidcard.blogspot.com. Pincustom adalah blog untuk produk pin yang menjadi diversifikasi produknya di luar lanyard, ID card, card holder dan yoyo berlogo. Dari sekadar membuka blog, tahun ini LP mulai membuat situs web sebagai salah satu sarana promosi dan pemasaran yang paling efektif. “Misi kami ke depan adalah menjadi master lanyard di Indonesia,” Tedy menandaskan.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)