Pendapatan Perkapita Mampu Tingkatkan Kesadaran Menjaga Kelestarian Hutan

 

Meningkatnya perekonomian Indonesia yang nantinya diikuti oleh meningkatnya pendapatan perkapita penduduk di Indonesia, diyakini akan mempengaruhi kesadaran untuk menjaga hutan dan lingkungan sekitar.  Hal tersebut diungkapkan oleh Poltak Hotradero, Head of Research Division, Bursa Efek Indonesia di sela-sela kesempatannya pada acara Talkshow dan Diskusi Grup bertajuk “20+ Sustainable Forest Management Indonesia”, yang diselenggarakan oleh WWF (World Wildlife Fund) dan GFTN (Global Forest and Trade Network) di @America Pacific Place, Jakarta (2/11).

Menurutnya, dengan melihat skala Indonesia pada saat ini, pencapaian pendapatan perkapita penduduk Indonesia yang mencapai USD 5000 perkapita, bukan lah hal yang mustahil. Ditambahkannya lagi, apabila telah mencapai angka sekitar USD 5000 perkapita/tahun, kecenderungan penduduk Indonesia untuk menghargai lingkungan termasuk hutannya dipercaya akan meningkat. Hal tersebut bisa terjadi menurutnya, mungkin karena pada kondisi seperti itu, masyarakat Indonesia sudah mendapatkan harapan-harapan yang ingin diraih daam hidup. Sehingga ketika pada kondisi seperti itu, masyarakat Indonesia lebih mengharapkan kehidupan yang nyaman dengan lingkungan yang baik tentunya. “Keinginan seperti itu, bukan hanya diinginkan untuk saat itu saja, namun mereka juga mengharapkan agar kelestarian dan kebersihan lingkungan akan terus ada untuk masa depan sehingga bisa dinikmati oleh anak-cucu mereka,” sebut Poltak.

 

Melihat kondisi seperti itu, tentunya apabila memang benar gambaran mengenai skala ekonomi Indonesia akan terus meningkat pada masa mendatang, tentunya sudah tidak ada lagi alasan mengenai keterbatasan finansial untuk urusan menjaga kelestarian hutan atau lingkungan sekitar.

 

Disinggung mengenai seberapa besar pergerakan sektor kehutanan di pasar modal, Poltak menjawab bahwa nilai dari sektor kehutanan saat ini tidak lah terlalu besar jika dibandingkan pada tahun 1990-an. Jika dibandingkan dengan batu bara, CPO, atau biji logam, timber masih sedikit berada dibawah pergerakannya di pasar modal jika dibandingkan dengan hasil-hasil alam lainnya.Poltak menilai terjadi masalah tentang nilai tambah di perusahaan-perusahaan penghasil timber. “Apabila nilai tambahnya rendah, maka valuasinya pun akan rendah,” ujar Poltak.

 

Namun Poltak melihat dengan kenyataan bahwa Indonesia memiliki luas hutan yang sangat besar dan tentunya dengan segala kekayaan-kekayaan yang ada di dalamnya, akan menghadirkan keuntungan-keuntungan bagi kita semua. Selama kita menjaga dengan sebaik-baiknya kelestarian hutan yang dimiliki.

 

Menurut Poltak, Indonesia semakin kedepannya akan memiliki masyarakat urban yang lebih banyak. Ia menjelaskan bahwam saat ini, urbanisasi penduduk Indonesia telah mencapai angka 40 persen, dengan pertumbuhan tiap tahunnya mencapai 1,5 persen. Dengan begitu, proyeksi 30 tahun mendatang 70 persen penduduk Indonesia akan tinggal di daerah urban. “Dengan gambaran demografis seperti itu, mungkin akan muncul masalah baru, yaitu dengan banyaknya jumlah penduduk yang pindah ke daerah urban, maka siapa yang akan menjaga hutan?” ucapnya. Nantinya, Ia menyarankan untuk memunculkan suatu mekanisme insentif untuk penjagaan hutan. Dengan total 70 persen tersebut, menurutnya merupakan kekuatan ekonomi yang besar untuk menjaga hutan. Karena masih menurut Poltak, orang-orang yang tinggal di wilayah urban, tentunya membutuhkan udara, air, dan lingkungan yang baik. hal tersebut bisa tercapai apabila hutan di Indonesia bisa terjaga dengan baik.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)