Pengacara Oke, Bisnis Pun Ayo

Di Bali, Putu Subada Kusuma seolah-olah menjadi ikon pengacara serbabisa. Ia tidak hanya dikenal sebagai dedengkot pengacara papan atas yang mengkhususkan diri pada bidang hukum perdata dan bisnis, tapi juga sukses menjalankan roda bisnis nonhukum. Ada usaha hotel keluarga, florist, dan laundry yang cukup terpandang di Pulau Dewata itu. Tak berlebihan, julukan pengacara yang doyan berbisnis dialamatkan pada sosok pria berpostur tinggi langsing ini.

Untuk menjadi pengacara hebat, sebetulnya bisa saja ia bekerja di kantor hukum orang lain. Namun, karena dorongan jiwa kewirausahannya sangat kuat, Putu Kusuma tidak betah lama-lama menjadi orang gajian. Ia lebih suka merintis firma hukum dengan namanya sendiri. Ia pun rela meninggalkan kantor pengacara Putu Suta Sadnyana -- sebagai asisten selama dua tahun dan jabatan terakhirnya adalah partner. Berikutnya, Putu Kusuma mundur sebagai pegawai negeri sipil di Biro Hukum Pemda Tingkat I Bali yang sempat dilakoninya selama dua tahun. Menanggapi hal itu, Putu Suta Sadnyana tidak kaget. “Saya melihat jiwa Putu Kusuma sangat bebas, kepalanya penuh kreativitas,” ujar mantan bos Putu Kusuma itu. Ia sudah lama memperkirakan bekas anak didiknya itu tidak akan pernah puas terjun langsung ke lingkungan birokrat ataupun menjadi karyawan.

Tidak sia-sia Putu Kusuma berjuang mengibarkan firma hukumnya. Seiring dengan tingginya jam terbang, yaitu 20 tahun menjadi pengacara, reputasi dan kemampuannya tidak diragukan lagi. Bukan omong kosong jika kliennya datang dari banyak perusahaan besar di Bali, Jakarta, Surabaya, Lombok dan kota-kota lain. Kliennya tersebut, di antaranya, Melia Bali and Villas, Bali Nirwana Resort, Bank Dagang Bali, Bank Mayapada, Bank Dwipa Jakarta, Bank Niaga, Bank Danamon Jakarta, Hotel Peninsula Resort dan PT Sumiati yang berstatus PMA.

Nah, setelah firma hukumnya mapan, ia tergoda melirik bisnis lain. Mengapa? “Karena saya sadar, kantor pengacara saya tidak bisa diwariskan ke istri dan anak. Maka, saya bikin usaha sampingan,” ujar Putu Kusuma. Pilihannya pun jatuh pada usaha florist dan laundry. “Bunga dan binatu pada umumnya memang kebutuhan sekunder. Namun, bagi orang tertentu bisa menjadi kebutuhan primer yang diperlukan sepanjang masa,” cetusnya memberi alasan. Katakanlah, untuk jasa laundry, ketertarikannya bermula dari pengalaman pribadinya sebagai pelanggan Melia Laundry. Ia hobi mengenakan pakaian rapi, sehingga baju-baju kotornya mesti dibawa ke jasa binatu itu. Faktor lain yang menyebabkan ia melirik florist dan laundry? Ia emoh agresif menggarap bisnis hotel lantaran trauma dengan peristiwa Bom Bali I. Sebab, lokasi hotel keluarganya ada di sana. Alhasil, ia merasa cukup dengan mengelola Hotel Sri Kusuma, hotel melati bintang 3 dengan 32 kamar di Jalan Legian Kuta, Bali.

Cikal bakal bisnis bunga Putu Kusuma dibesut tahun 2005 dengan bendera Bali Roses. Konsepnya adalah sebagai toko bunga terlengkap di Bali yang menyasar segmen menengah-atas. Itulah sebabnya, bangunan toko didesain dua lantai di gedung perkantoran bergengsi di Denpasar. Segala kebutuhan bunga tersedia, mulai dari bunga artifisial, bunga segar, vas, aneka pita, aksesori bunga hingga kursus merangkai bunga. Untuk investasi awal, ia menggelontorkan dana Rp 600 juta (di luar biaya sewa gedung) dan ditargetkan bisa kembali modal dalam empat tahun.

Selain itu, ada investasi Rp 50 juta untuk membuka perkebunan bunga seluas 2 hektare di Bedugul, Bali. Dana itu dimanfaatkan sebagai biaya kursus petani binaannya ke para ahli pertanian, membuat green house, dan membeli bibit. Jenis bunga yang dipersiapkan adalah krisan, garbera dan lili. Nah, bunga-bunga hasil perkebunan inilah yang nantinya disuplai ke Bali Roses. Bahkan, kalau bisa, memenuhi order bunga dari toko-toko florist di Bali atau pasar ekspor.

Setelah berjalan satu tahun, Bali Roses membuat website untuk promosi dan menerapkan sistem online untuk pemesanan bunga. “Tujuannya, dari Bali kami ingin merambah dunia,” ujar lulusan kenotariatan Universitas Gadjah Mada ini. Dukungan teknologi canggih ini, diklaim Putu Kusuma, mampu mengatrol order. Maklumlah, banyak wisatawan yang melakukan ritual pesta pernikahan atau merayakan ulang tahun di Bali dengan order lewat Internet. Tak mengherankan, sejak bulan ke-6 dibuka, Bali Roses secara operasional sudah mampu mandiri di bawah pimpinan istri Putu Kusuma, Nyoman Suparmiati, dengan dibantu lima pegawai dan putri sulungnya yang duduk di kelas III SMA.

Soal omset, Putu Kusuma terkesan pelit bicara blak-blakan. Ia hanya memberi indikasi penjualannya. Misalnya, rangkaian bunga pesta pernikahan harganya Rp 3-30 juta, rata-rata tiap bulan terjual dua paket. Kemudian, buket bunga dengan harga minimal Rp 250 ribu, ia tak merinci jumlah penjualannya. “Pokoknya, tiap hari pasti ada saja transaksinya,” kata lelaki kelahiran Bali, 5 Oktober 1962 ini. Mayoritas pembelinya orang asing dan jaringan hotel di Bali.

Setelah bisnis bunganya sukses, Putu Kusuma ketagihan menjajal usaha lain. Kali ini pilihan jatuh ke bisnis laundry. Maka, per 1 Mei 2006 ia meresmikan Melia Laundry Bali. Ia sengaja membeli hak waralaba jasa binatu asal Yogyakarta itu dengan pertimbangan lebih unik dan bagus mutunya. Meski sudah mengantongi nama atau merek laundry terkenal, ia tak mau usahanya berjalan biasa-biasa saja. Ia pun tergelitik membuat sejumlah terobosan. Inovasi pertama yang ditawarkan: buka 24 jam nonstop, 7 hari dalam seminggu tanpa jeda, kecuali Hari Raya Nyepi. Inovasi kedua berupa pemakaian air murni yang ramah bahan kain. Gebrakan ketiga, memilih bahan pencuci yang diimpor dari Amerika Serikat karena ramah lingkungan.

Dengan segala terobosan yang dilakukannya, kinerja Melia Laundry Bali kian mencorong. Dalam waktu setahun, ia berhasil menggandeng 8 mitra bisnis sebagai pemegang subfranchise -- yang berhak membuka gerai di jalan utama di Denpasar, sementara Putu Kusuma tetap sebagai pemegang master franchise. “Kami berhasil menjadikan Melia Laundry Bali pada posisi terdepan,” ujarnya dengan bangga. Tidak hanya itu, sejak awal buka, Melia Laundry Bali sudah mampu menanggung biaya operasioanl sendiri, sehingga dirinya tidak merugi. Kini, Melia Laundry menerima order minimal 300 potong cucian per hari.

Untuk mengelola bisnisnya, gaya manajemen Putu Kusuma masih kental aroma kekeluargaan. Di setiap badan usaha yang dikelolanya, ia selalu menempatkan sang istri sebagai direktur. Putra-putrinya juga diikutsertakan. Putri pertamanya dilibatkan aktif di florist dan putra keduanya yang duduk di kelas VI SD dikonsentrasikan di laundry -- putri bungsunya masih duduk di TK. “Karena kesibukan mengurusi klien di kantor pengacara, saya hanya terlibat langsung pada 6 bulan pertama sembari mendidik calon supervisor,” ujarnya. Setelah itu, ia hanya mengawasi saat akhir minggu kala firma hukumnya tutup. Namun, setiap hari akses Internet bebas membantunya berkomunikasi dengan karyawan. Karena itu, laptop dan telepon seluler yang aktif 24 jam tidak pernah jauh darinya.

Putu Kusuma bercerita, sumber inspirasi bisnisnya berasal dari kesukaannya membaca. Ia tidak segan-segan merogoh kantong minimal Rp 1 juta/bulan untuk membeli 6 majalah bisnis, empat koran daerah, satu koran nasional, empat majalah/tabloid otomotif, empat majalah komputer/seluler, empat majalah interior, serta beberapa majalah yang berhubungan dengan fotografi untuk memperkaya cakrawala. Hasilnya? Intuisi bisnisnya semakin terasah. Hobi baca majalah interior menjadikannya piawai mendesain kantor hukum, toko bunga dan laundry-nya. Kegemaran membaca majalah otomotif juga membawanya menjuarai beberapa lomba modifikasi mobil dan dipercaya Indomobil sebagai Ketua Karimun Club Bali sejak 2003.

Jika pengusaha kebanyakan lebih ambisius mengejar pertumbuhan perusahaan, Putu Kusuma justru tidak mau ngoyo. “Saya hanya ingin bertahan dalam kondisi apa pun. Syukur kalau bisa berkembang. Yang penting, biaya operasional tertutupi,” ujar pengusaha yang pernah gagal usaha belanja online itu. Aneh memang kedengarannya. Seorang pengusaha yang tangguh pasti tidak mungkin melontarkan pernyataan yang terkesan lembek itu. Meski demikian, Putu Kusuma juga telah merancang agenda pengembangan bisnisnya ke depan. Pertama, untuk florist, ia hanya ingin meningkatkan omset, tanpa menambah cabang dan memaksimalkan hasil perkebunan. Kedua, laundry diproyeksikan ekspansi: membuka beberapa gerai, sehingga total menjadi 10 gerai di semua jalan utama Kota Denpasar. Ketiga, masuk ke bisnis radio yang digemari anaknya.

Bagi Suta, kesuksesan Putu Kusuma membesarkan kantor hukumnya bukanlah sesuatu yang aneh. Sebagai anak seorang Kepala Panitera Pengadilan Negeri Denpasar, kehidupan Putu Kusuma cukup mapan. “Tapi, Putu Kusuma tetap bersemangat terus belajar dan berdisiplin tinggi serta tanpa malu selalu bertanya tentang hal-hal baru,” ungkap Suta. Menurutnya, Putu Kusuma hebat lantaran waktu itu dalam tempo dua tahun berhasil menyejajarkan diri menjadi partner.

Setelah bisnis kantor hukum Putu Kusuma sukses, Suta tidak pernah menduga Putu Kusuma membuka usaha sampingan di luar bidang hukum. “Mungkin kegemarannya membaca dan mencari hal-hal baru makin mengasah naluri bisnisnya yang terpendam,” tuturnya. Sikap disiplin, santun dan hormat Putu Kusuma pada sesama dinilai Suta sebagai modal besar Putu Kusuma memperluas jaringan pergaulan.

Di mata karyawan, Putu Kusuma dinilai sebagai sosok bos yang menghargai anak buah. “Bapak (Putu Kusuma) memberi kami tanggung jawab dan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, sehingga kami merasa dihargai,” tutur Agung yang baru tiga bulan bergabung di Melia Laundry sebagai supervisor workshop. Komentar Agung diamini Ida Bagus Mahajaya, staf Hotel Sri Kusuma. “Beliau bukan sekadar memimpin, tapi juga memberi rasa aman,” kata Mahajaya sembari menambahkan, bosnya sangat menghargai hasil kerja karyawan, tapi tidak lupa mengajarkan kedisiplinan.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)