San Diego Hills, 'Perkawinan' Antara Pemakaman dan Budaya RI


San Diego Hills (SDH) yang diresmikan Januari 2007 lalu merupakan taman pemakaman pertama di duia yang memadukan kosep Forest Lawn dengan kultur budaya. Dimiliki oleh Lippo Land Club, kawasan pemakaman tersebut menjadi semacam icon bagi masyarakat kalangan 'atas'. Benarkah?

Kami sebenarnya tidak melabelkan SDH untuk kalangan elite. Mungkin karena fasilitasnya tidak seperti pemakamanan pada umumnya, masyarakat menilai seperti itu, “ ujar Suziany Japardy Sales and Marketing Director SDH yang juga menjabat President Lippo Land Club. Pembangunan SDH berawal dari ketidaksengajaan. Tanah di Karawang Barat, Jawa Barat, yang dimiliki Lippo sejak 20 tahun silam, awalnya ingin dibangun kawasan industri. Namun ternyata, rencana berubah.

Mochtar Riady, pendiri Group Lippo, sepuluh tahun lalu memindahkan makam orang tuanya dari Malang ke Karawang yang saat ini menjadi lokasi SDH. Pemindahan makam tersebut disebabkan sulitnya akomodasi untuk mencapai makam dan suasana yang sangat tidak nyaman seperti gaduh dan banyaknya pengemis. Padahal, peziarah membutuhkan tempat yang tenang dan khusyuk. “Dari situlah ide itu muncul. Kenapa kita tidak membangun taman pemakaman yang nyaman dan berfasilitas lengkap? Selain itu, implementasi dari konsep ini bisa membantu pemerintah menghadapi masalah tanah makam yang sangat terbatas di Jabodetabek,” tutur perempuan kelahiran 7 Mei 1962 ini.

Dengan komitmen dan perencanaan yang cukup matang akhirnya Lippo meresmikan SDH. SDH berdiri diatas lahan seluas 500 hektar. Untuk membangun SDH, kata Suziany, pihaknya memanggil seorang advisor dari Forest Lawn Amerika Serikat. Selain itu, SDH juga sedikit mengadaptasi konsep yang diterapkan di Forest Lawn. Seperti diketahui, Forest Lawn adalah perusahaan yang membangun pemakaman elite yang berhasil mengubah kondisi makam yang seram menjadi tempat yang nyaman.

Meski berkiblat ke Forest Lawn, bukan berarti SDH menyontoh konsep dari Forest Lawn secara keseluruhan. Lippo memodifikasi memorial park dengan menambah sentuhan kultur Indonesia. “Pemakaman Forest Lawn hanya mengedepankan keindahan dan kenyaman. Tapi kita sadar, kita harus membawa konsep tambahan. Ide muncul dengan menambah kultur Indonesia,” ungkap mantan bankir Lippo Bank pada 1995-2004 ini.

Konsep tambahan itu direalisasikan dalam bentuk fasilitas yang bernama “Family Center”. Menurut Suziany, orang Amerika tak seperti orang Indonesia yang berziarah sambil membawa banyak sanak keluarga. Umumnya, orang Amerika melakukan ziarah sendiri atau tidak lebih dari beberapa orang. Tapi untuk kultur di Indonesia, ritual ziarah mirip dengan acara perkawinan dan kumpul keluarga besar. “Inilah yang membedakan Forest Lawn dengan SDH. Kami punya Family Center, tempat untuk memenuhi kebutuhan dan aktivitas keluarga,” katanya.

Dengan adanya Family Center, orang yang berziarah bukan hanya melakukan ritual tahunan tetapi juga bisa rekreasi bersama keluarga. Masyrakat atau peziarah bisa menikmati banyak fasilitas seperti danau seluas 8 hektar, kapel pernikahan, gedung pertemuan, restoran, taman rerumputan yang indah untuk melangsungkan acara atau pertunjukan, fasilitas olahraga seperti kolam renang, jogging track, jalur sepeda serta gift shop. Kalau di Tempat Pemakaman Umum (TPU), mungkin orang harus terburu-buru dipemakaman dan sulit untuk membawa anak kecil.. Tapi di SDH, keluarga besar tetap bisa membawa anak kecil karena ketika orang dewasa sibuk dengan acara pemakaman atau ziarah, anak kecil bisa bermain di sejumlah fasilitas yang kami berikan,” sahutnya.

Memasuki tahun ke empat, Suziany melihat perkembangan yang sangat baik pada bisnis SDH. Sampai saat ini, sudah lebih dari 1.750 orang yang dimakamkan. Untuk tipe makam single, sudah 30.000 unit yang terjual. Artinya, sejak 2007 hingga saat ini, dari 500 hektar, lahan sudah terjual 10% atau 50 hektar. Dari 50 hektar itu, 20 hektarnya adalah fasilitas penunjang. “Masyarakat sekarang memang lebih sadar akan kebutuhan tempat makam yang nyaman itu. Selain itu, masyarakat juga menyadari perlunya perencanaan untuk membeli tanah makam jauh-jauh hari.”

Untuk menarik dan meyakinkan masyarakat, pengelola melakukan dua cara yakni at need dan pre need. Hampir 90% lahan di SDH terjual dari penjualan pre need. Salah satu triknya adalah memberikan promo (harga) khusus kepada masyarakat. Kalau membeli tanah makam sedini mungkin bisa membantu isi dompet. Pasalnya, harga tanah SDH tiap tahun kian naik yakni sekurangnya 50%. Untuk pembeliannya pun tak mencekik leher. Pembeli bisa menyicil hingga 50 kali.

Kesuksesan SDH membangun nama dan meyakinkan banyak orang adalah 'buah' kerja sama yang dilakukan pengelola dengan beberapa komunitas dan perusahaan. SDH bekerja sama dengan komunitas gereja dan komunitas muslim. Untuk pihak pebisnis, SDH menggandeng Koperasi Karyawan Garuda, Pensiunan Pegawai Bank Indonesia, Koperasi Karyawan Bank Mandiri, Koperasi Karyawan Bank BNI, dan lain-lain. Mereka yang bergabung mendapat harga khusus dari SDH.

Untuk pemakaman SDH terbagi menjadi 3 bagian besar yakni Universal Garden, Garden of Prosperity and Joy, dan Five Pillars Garden. Selain tanah makam, SDH juga mendirikan columbarium (rumah abu).

Universal Garden dikhususkan untuk kaum kristian. Saat ini Universal Garden terdiri dari dua bagian yaitu Garden of Creation dan Garden of Faith, Hope dan Love. Garden of Prosperity and Joy dikhususkan untuk masyarakat Tiong Hoa. Area pemakaman dirancang seksama sesuai perhitungan lokasi terbaik dan harmonis dengan alam sekitar berdasarkan kaidah Feng Shui. Five Pillar Garden mengadopsi 5 rukun islam dengan luas 25 hektar. Garden ini dirancang oleh Mona Siddiqui, professor dari Glasgiw Univesity Skotlandia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)